
Happy reading♡
Setelah selesai mandi Ashel dikejutkan dengan kehadiran Kavin di depan pintu kamar mandi. Ashel melihat tatapan Kavin yang ingin memangsanya dan jangan lupakan tatapan iblis yang sedari tadi tercetak jelas di wajahnya.
Ashel bergidik ngeri melihatnya. Ia sudah tahu akan terjadi apa selanjutnya.
Kavin menyatukan bibir mereka berdua. Saat ini pria ini tidak mengenakan baju. Entah kemana perginya kaos yang tadi melekat di tubuhnya.
Kavin memangku Ashel seperti bayi koala. Bibir mereka masih menyatu. Biasanya Ashel akan menolaknya sebelumnya namun sekarang tidak. Ia tidak menolak suaminya yang ingin menyentuhnya.
Status mereka berdua sudah berubah beberapa jam yang lalu. Dimana Ashel harus menuruti ucapan Kavin. Ia tidak boleh membantah apalagi menolaknya.
Perlahan Ashel ditidurkan oleh Kavin diatas kasur mereka tadi. Kavin masih belum melepaskan pagutannya. Padahal Ashel sudah kehabisan nafas.
Melihat Ashel yang terus menepuk nepuk dadanya perlahan Kavin melepaskan ciumannya. Ia tersenyum saat gadis yang berada di bawahnya ini kehabisan nafas. Ashel sampai menaikan kepalanya untuk menghirup banyak udara.
Namun ternyata tindakannya itu salah besar karena kini Kavin kembali bermain main dengan lehernya. Ashel mendesis pelan saat Kavin menggigitnya.
Warna ungu kemerahan tercetak jelas di leher Ashel. Tentu saja Kavin tersenyum puas melihat maha karyanya ini.
Rasanya satu saja tidak cukup. Mungkin harus membuatnya lagi beberapa.
Ashel hanya menikmati permainan Kavin. Ia mengigit bibir bawahnya saat ia ingin mengeluarkan suara suara aneh. Ia juga meremas rambut Kavin.
Setelah puas bermain di leher Ashel, Kavin kembali menyambar bibir Ashel yang sudah membengkak. Tangannya tidak tinggal diam. Ia membuka bathrobe yang digunakan Ashel sampai membuat gadis itu memekik terkejut. Ashel sampai melepaskan ciuman mereka.
"Janga-," ucapan Ashel terpotong karena Kavin kembali menyatukan bibir mereka. Ia tidak mendengar ucapan apapun dari gadisnya kecuali desah*n.
Ashel hanya bisa pasrah saja saat tangan Kavin mulai bergerak nakal. Ia masih ragu untuk membebaskan Kavin melakukan hal lain padanya. Meskipun bagian dadanya memang pernah disentuh Kavin saat Kavin kehilangan kontrolnya karena tidak meminum obat yang biasa ia konsumsi.
Ashel mendes*h pelan saat Kavin mulai meraba bagian dadanya. Pria itu bahkan tidak ragu untuk mermasnya hingga tanpa sadae Ashel kembali mengeluarkan suara yang membuat Kavin bergairah.
__ADS_1
Kavin sangat Asik dengan dunianya saat ini. Ia tahu sebentar lagi resepsi akan dilaksanakan, namun ia tidak peduli
Persetan dengan resepsi itu yang penting ia bisa menghabisi Ashel malam ini juga!
Namun tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Kavin menghiraukannya dan bertingkah seolah tidak mendengarnya.
Ketukan pintu terus terdengar bahkan kini orang yang mengetuknya sudah mengeluarkan suara mendengar nama Kavin dan Ashel disebut.
Ashel terus menepuk nepuk bahu Kavin agar melepaskannya namun Kavin tidak mau melakukannya. Ia terus meneruss mencium Ashel dari segala sisi. Ia tidak peduli dengan ketukan itu dan tepukan Ashel di dadanya.
Lama lama Kavin kesal juga karena mendengar teriakan dari luar ditambah pukulan dari tangan Ashel, tidak sakit memang namun tetap saja ia kesal.
Kavin menggeram kesal kemudian bangun dengan emosi dari atas Ashel. Sebelum pergi ia sempat menarik selimut untuk menutupi tubuh Ashel yang tereskpos karena ulahnya.
Dengan malas dan wajah datar, Kavin pun membuka pintu kamarnya. Disana sang mama sudah berdiri dengan berkacak pinggang.
"Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi mama gedor gedor pintu kamu gak ada yang buka? Mama juga udah teriak teriak manggil kamu sama mantu mama tapi kalian diem aja," dumel Sarah saat Kavin muncul di depannya.
"Ya emang mama minta cucu. Tapi gak sekarang juga bikinnya Kavin. Kamu sama mantu harus ikut resepsi dulu. Masa iya resepsi gak dihadirin sama pengantinnya. Kan aneh," ucap Sarah.
"Nanggung mah, Kavin udah gak kuat," ucap Kavin apa adanya.
Sarah menggelengkan kepalanya heran. Ia memang sudah tahu jika Kavin mengidap sindrom hyper *** karena suaminya juga mengalami hal yang sama. Dokter mengatakan jika ini adalah keturunan dari papanya Kavin itu sebabnya Kavin mengalami hal serupa.
"Ya sabar dong. Udah ah kamu cepet siap siap soalnya make up artist udah mau kesini lagi buat dandanin mantu mama. Awas kalo lama," ucap Sarah.
"Dia istri aku ma," ucap Kavin. Ia pun menutup kembali pintunya karena mamanya sudah pergi.
Kavin memasang wajah masam. Ia sangat kesal sekali saat ini. Ada saja gangguan untuknya ketika ingin menyentuh istrinya itu.
Ashel sudah mengenakan kembali bathrobenya. Ia menatap Kavin yang sedang memasang mimik wajah kesal. Ashel tahu penyebabnya.
__ADS_1
Ia pun mendekat ke arah suaminya dan menarik tangan Kavin untuk duduk di sofa.
Kavin hanya mengikuti pergerakan istrinya itu.
"Sabar dong. Kan belum resepsi, inget kan siapa yang minta semua acara ini sesuai keinginan aku?" Tanya Ashel. Saat ini ia berdiri di depan Kavin yang tengah duduk. Ia mengusap lembut rambut Kavin.
"Gatau males. Aku kesel banget," ucap Kavin. Ia melipat kedua tangannya di dada.
Ashel terkekeh kemudian menarik Kavin untuk ia peluk. Posisi Ashel masih berdiri sehingga kepala Kavin mendekat ke arah perutnya yang langsing.
"Gak boleh gitu dong. Ini kan pernikahan kita masa kamu kesel sih? Aku sedih lihatnya. Ini kan wedding dream aku yang berhasil kamu wujudkan," ucap Ashel.
Benar juga. Kavin baru mengingatkan. Ia pun memeluk perut Ashel.
"Maaf. Tapi aku kesel yang. Mereka ganggu terus kegiatan kita loh," adu Kavin.
"Iya iya kamu boleh kesel. Gak papa. Tapi gak boleh murung kayak gini ah, sekarang mending kamu siap siap sana pake baju yang udah disiapin mama," ucap Ashel.
Kavin melepaskan pelukannya dan mengangguk. Ia pun pergi dari hadapan Ashel dan masuk ke area ruangan lain yang ada di kamar itu. Disana ia akan bersiap.
Sepeninggal Kavin, tepat saat itu juga para make up artist datang. Ashel menyuruh mereka masuk. Make up artist kali ini berbeda dengan tadi pagi. Jika tadi pagi dua orang laki laki dan sekarang make up artistnya perempuan.
Mereka mulai melakukan tugasnya. Ashel duduk anteng menghadap ke arah cermin besar di depannya. Di depannya juga terdapat banyak alat alat make up.
"Anda sangat cantik sekali tadi pagi nona," ucap seorang dari mereka.
"Terimakasih," ucap Ashel.
Mereka bertiga pun terus mengobrol sembari memoles make up ke wajah Ashel.
Tbc.
__ADS_1
Ramein vote komen yyy.