
"Nyonya sudah keluar, Tuan." Jawab Mbak Ati.
"Kemana?" Tanya Zico lagi.
"Nggak tahu, Tuan. Nyonya nggak bilang, cuma langsung pergi saja." Imbuh Mbak Ati sedikit ragu-ragu. Akankah ini membuat Tuannya marah?
Zico meraih ponselnya, setelahnya berlalu meninggalkan ruangan itu. Ia mencoba menghubungi Azalea.
Baru saja menempelkan ponselnya di samping telinga nya. Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Anda mencari saya, Tuan Zico?" Tanya Azalea sambil membenamkan wajahnya di punggung Zico.
Zico kembali mematikan panggilan itu. Menghela nafas, lalu membalikkan tubuhnya.
"Siapa lagi yang aku cari dirumah ini jika bukan Anda, Nona Azalea." Imbuh Zico dengan raut wajah seriusnya.
Nona tersenyum tipis. itu kalimat yang pernah ia ucapkan pada Zico.
"Maaf, tadi aku buru-buru. Jadi tidak sempat memberitahukannya padamu." Ucap Azalea menyesal.
"Paling tidak beritahu Mbak Ati kemana kau pergi."
"Baik, Tuan." Menganggukkan kepalanya pelan.
Zico meraih tangan Azalea, lalu membawanya keruang tengah. "Ada yang ingin aku bicarakan." Imbuhnya.
Keduanya duduk di ruang tengah, sebenarnya itu juga yang ingin dikatakan Azalea. Juga ada yang ingin ia bicarakan pada Zico.
__ADS_1
"Tentang apa?" Tanya Azalea, penasaran.
"Sepertinya kita harus menetap disini lebih lama!" Sarkas Zico.
Azalea hanya menganga, itu juga yang ingin diajukan Azalea. "Tentu saja! Aku setuju." Sarkas Azalea cepat.
"Aku akan mengambil alih Resort." Lanjut Zico.
"Empp, baiklah." Azalea mengangguk setuju.
"Kau tidak keberatan, jika aku sibuk dan akan jarang berada dirumah?" Tanya Zico lagi.
Azalea hanya menggeleng.
"Dan, apa aku juga boleh minta sesuatu?" Azalea
"Boleh Queen tinggal bersama kita untuk sementara ini?" Pinta Azalea kemudian.
Zico mengernyitkan keningnya.
"Jadi, tadi kau keluar untuk menemui Biandra?" Nadanya sedikit berbeda.
"Emm.." Jawab Azalea, sedikit heran dengan raut wajah yang ditunjukkan Zico. Ia tersenyum dengan sedikit sudut bibirnya terangkat. Sungguh aneh, mengapa Zico berekspresi seperti itu.
"Kemarin kau tidak makan seharian, kau stres, hingga pingsan. Tapi hari ini, kau rela-rela keluar rumah hanya untuk menemui dia? Apa pembahasan diantara kalian begitu penting?" Sarkas Zico dengan nada sedikit meninggi.
"Kenapa kau marah? Aku hanya keluar sebentar!"
__ADS_1
"Sebentar? Iya, kau memang keluar sebentar. Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anakku hanya karena kau keluar sebentar." Zico bangkit dari duduknya, membelakangi Azalea dan meremas kasar rambutnya. Ia cemburu! sekali dua kali ia mengabaikan rasa itu, ketika mendapati Biandra kerumahnya tanpa ada dirinya dirumah. Lalu ketika mendapati pesan singkat diantara keduanya yang membahas tentang Queen. Atau setiap malam mereka harus VC, walau hanya sekedar membacakan dongeng sebelum tidur untuk Queen.
Tapi kali ini, Azalea sudah mulai keluar rumah dan bertemu dengan Biandra di luar rumah tanpa memberitahukannya pada dirinya, menurut Zico itu sedikit berlebihan.
Grrttt .... Grrtttt ...
Zico merogoh ponselnya dengan kasar. Lalu menerima panggilan telpon itu.
"Ada apa, El?" Tanya Zico, dari maksud panggilan itu.
Azalea tersenyum sinis, lalu memutar bola matanya malas. Kembali teringat tentang Zico yang berbohong padanya tempo hari. Zico mengatakan tidak kemana-mana seharian, hanya di resort. Padahal jelas-jelas ia melihat Zico keluar bersama Ella.
"Em, kirimkan linknya padaku!" Zico langsung mematikan panggilan itu. Setelahnya sibuk beberapa saat dengan ponselnya.
Zico membuka link berita yang dikirimkan Ella.
"Kau lihat, ini hasil dari ulah mu!" Zico melemparkan ponselnya ke atas sofa tepat disamping Azalea. Wajahnya tampak berang.
Mata Azalea langsung terbelalak hanya dengan membaca judul berita itu.
Azalea baru pulang hanya beberapa jam saja. Tapi berita tentang ia bertemu dengan Biandra secara diam-diam sudah menyebar di media. Yang mengatakan bahwa isu tentang ia menjual rahimnya untuk sepupu suaminya sendiri adalah benar adanya.
Azalea meremas kuat tangannya.
"Maya! kau...!"
>>>
__ADS_1