My Little Wife

My Little Wife
Bab 198 : Rumah Liam


__ADS_3

VOTE KOMEN DULU BESTIIII


.


.


.


Happy reading♡


Sekitar pukul lima sore Ayu baru pulang. Mereka berdua menghabiskan waktu sebanyak itu hanya dengan berbincang.


Suaminya belum pulang sedangkan keluarganya sudah mulai pulang satu per satu hanya tinggal ayahnya saja.


Ashel sudah dihubungi Kavin jika hari ini ia akan pulang terlambat sebab banyak hal yang harus di urus terlebih dahulu sebelum mereka kembali kw Boston. Ashel juga diberitahi untuk makan duluan dan tidak perlu menunggunya.


Waktu saat ini sudah menunjukan pukul tujuh malam, Ashel turun dari kamarnya menuju ke ruang makan. Tadi ia ingin memasak namun dilarang oleh Ningrat, katanya takut Ashel kecapean.


"Malam sayang," sapa Ningrat.


"Malam juga grams, grandpa," sapa Ashel.


"Suami mu belum pulang? Apa dia lembur?" Tanya Prabu.


"Mas Kavin bilang akan lembur grandpa," ucap Ashel.


"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu lalu istirahat," ucap Prabu.


"Iya. Bunda mana?" Tanya Ashel.


"Bunda kamu nyusul ayah kamu. Gak tahu kenapa tapi tadi dia dihubungi Adi dan memintanya untuk ke kantornya," ucap Prabu.


Ashel menganggukan kepalanya. Ia pun memakan nasi dan beberapa lauk yang diambilkan oleh Ningrat, neneknya.


***


Sudah pukul satu dini hari, Kavin baru sampai di kediaman rumah keluarga Ashel. Hari sangat melelahkan untuknya. Banyak sekali hal yang harus ia urus sebelum kembali ke Boston.


Ia sengaja mengurus cepat cepat pekerjaannya disini karena ia tidak ingin pulang pergi ke Boston - Indonesia.


Ia ingin selalu ada bersama dengan istri kecilnya. Jadi ketika ia di Boston nanti, ia tidak akan banyak bekerja. Hanya menyelesaikan sisanya.


Keadaan rumah sudah sepi. Beberapa lampu sudah di matikan. Pelayan juga sudah tidak ada disini. Mungkin mereka semua juga sudah beristirahat sama seperti majikan mereka.

__ADS_1


Kavin bisa masuk ke dalam rumah karena dirumah ini terdapat penjaga malam dan beberapa bodyguard yang berjaga.


Kavin membuka perlahan pintu kamar yang dulu sering ditempati oleh istrinya ketika dirumah ini.


Diatas kasur berukuran sedang, seorang gadis cantik tengah terlelap. Kavin tersenyum kecil melihatnya. Ia pun mendekat ke arah kasur dan duduk perlahan.


Tangannya terangkat untuk mengelus kepala Ashel yang menyembul di balik selimut yang ia gunakan. Kavin merendahkan kepalanya dan mencium kening Ashel. Ia juga sempat mencuri ciuman di bibir istrinya.


"Cantik banget," gumamnya. Kavin pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sengaja Kavin tidak lama lama membersihkan badannya. Matanya sudah terasa berat sekali. Setelah selesai membersihkan badan, ia pun segera ikut bergabung dengan istrinya.


Kavin masuk ke dalam selimut besar yang digunakan istrinya. Ia menarik tubuh istrinya yang tengah terlelap agar menghadap ke arahnya dan ia bisa melihat wajah damai istrinya dengan leluasa.


Ashel menggeliatkan tubuhnya. Ia sedikit terganggu karena tiba tiba ditarik begitu saja. Perlahan ia membuka matanya.


"Mas," gumamnya.


"Tidur lagi," ucap Kavin. Namun Ashel tidak mendengarkannya. Ia malah membuka matanya.


"Mas udah makan? Kalo belum aku masakin dulu," ucap Ashel.


"Aku maunya makan kamu, boleh?" Tanya Kavin.


"Emang gak cape?"


"Udah makan belum?"


"Udah sayang. Tadi udah makan," ucap Kavin.


"Beneran? Gak boong?" Selidik Ashel.


"Beneran udah sayang," ucap Kavin.


"Yaudah kita bobo lagi," ucap Ashel. Ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan suaminya.


"Tunggu yang," ucap Kavin. Ashel mengenyitkan keningnya.


"Kancing baju kamu buka ya? Biar aku cepet tidur," ucap Kavin.


"Gak mau mas. Dingin," ucap Ashel.


"Nolak dosa yang," ucap Kavin mengeluarkan kata kata ampuhnya. Ashel tidak mampu berkutik lagi saat Kavin mengucapkan hal itu. Ia pun hanya pasrah saja menuruti keinginan suaminya.

__ADS_1


***


Sesuai dengan kesepakatan Ashel dan Ayu, hari berikutnya sekitar pukul sepuluh pagi Ashel dan Ayu sudah sampai di Bandung.


Ia tidak mengatakan pada Kavin jika hari ini ia akan ke rumah Liam. Tapi ia beralasan akan pergi ke mall bersama dengan Ayu.


Sebenarnya Ashel merasa bersalah karena sudah membohongi suaminya. Namun mau bagaimana lagi, jika pun ia jujur tentang semua ini, Kavin pasti akan keras melarangnya.


"Lo yakin suami lo kagak lo kasih tahu kalo lo mau ke rumah lama Liam?" Tanya Ayu. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil dan sedang perjalanan menuju ke lokasi dimana rumah Liam berada.


"Semoga aja enggak sih. Tadi pagi gue alesannya mau ke mall sama lo," ucap Ashel. Matanya fokus ke arah depan sebab saat ini ia yang sedang menyetir mobilnya.


"Ya semoga aja sih. Niat kita cari tahu ini semua biar gak ada yang salah paham lagi. Apalagi kita harus buktiin sama Dona kalo kejadian yang menimpa Liam bukan karena lo ataupun orang lain, tapi karena bokapnya," ucap Ayu.


Ashel mengangguk membenarkan. Bagaimana juga ia tidak ingin disalahkan. Sebab ini bukan kesalahannya.


Mobil yang dikendarai Ashel masuk menuju ke gang kecil namun masih bisa dilewati mobil. Mobil mereka melewati beberapa bangunan sederhana. Ashel kira rumah Liam terletak dikawasan elit.


"Bener gak alamatnya kesini? Kok kayak makin buntu sih Yu?" Tanya Ashel.


"Bener kok. Kita tinggal lurus aja, nanti di ujung jalan ada rumah gede. Itu rumahnya Liam," ucap Ayu. Ashel pun menuruti ucapan Ayu. Ia terus menjalankan mobilnya menuju ke ujung jalan.


Dan setelah melewati beberapa rumah, akhirnya mereka sampai di ujung jalan. Disana ada sebuah rumah berukuran cukup besar.


Rumah itu terlihat sepi seperti tidak berpenghuni.


"Itu rumah yang lo maksud?" Tanya Ashel.


Ayu menganggukan kepalanya. "Gue gak mungkin lupa Shel. Rumah Liam beda dari rumah lain soalnya."


Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Ayu. Rumah Liam terkesan seperti rumah orang kaya diantara rumah rumah di sekitarnya.


Ashel dan Ayu turun dari dalam mobil. Ashel melihat ke segala penjuru. Tempat ini sangat asing untuknya. Selama berteman dengan Liam, Liam tidak pernah membahas soal keluarga ataupun letak rumahnya.


"Ayo," ajak Ayu. Ashel pun mengangguk dan mengikuti langkah Ayu. Mereka berjalan menuju ke pintu depan. Rumah Liam memiliki pagar. Namun tidak setinggi seperti kebanyakan rumah.


"Ada orang gak sih di desa ini? Sepi banget sumpah. Kok gue jadi ngeri," ucap Ayu.


"Gue gak tahu. Disini banyak rumah, kayaknya emang banyak orang Yu. Dan rumah ini, rumahnya bersih. Kayaknya ada orang yang tinggal disini," ucap Ashel saat ia memperhatikan sekitaran rumah Liam.


"Ketuk Yu," titah Ashel.


Ayu pun mengetuk pintu rumah yang ada di depan mereka. Berulang kali mereka mengetuk bahkan Ayu sedikit berteriak untuk memanggil orang yang ada di dalam rumah namun tidak ada sahutan apapun.

__ADS_1


Tbc.


Ramein ya. kalo ada typ maap ya. Thnk uu


__ADS_2