
Kenzo menatap Vanes yang masih tidur di sebelahnya. Tumben sekali dia bangun siang. Biasanya, Vanes lah yang akan membangunkannya. Ini aneh. Sejak kejadian di garasi, Vanes menjadi seperti ini. Ada yang tidak beres.
"Vanessa? Ayo bangun." Kenzo menepuk pelan pipi Vanes.
Vanes melengkuh. "Iya, Kak."
Kenzo kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Mengingat ada meeting penting hari ini. Sebuah meeting yang jika berhasil akan menjadi memberi keuntungan besar.
Selesai mandi, Kenzo tidak menemui Vanes di kamar. Helaan nafas kecil Kenzo terdengar. Jika seperti ini, pasti ada yang di sembunyikan oleh Vanes. Sudah ada masalah di luar sana dengan seseorang. Vanes menambahinya dengan cara merubah sikapnya yang tidak bisa oleh Kenzo.
Segera saja Kenzo menyusul Vanes ke bawah. Dan benar saja, Vanes sudah duduk di kursi meja makan sambil memakan roti serta handphone di genggamannya.
"Pagi, Vanessa." Sapa Kenzo sambil mengacak rambut Vanes.
"Pagi." Jawab Vanes singkat.
Sarapan pagi ini terasa hambar. Tak ada gelak tawa atau percakapan untuk pagi ini. Vanes fokus dengan handphone yang di pegangnya. Kenzo terasa tak dianggap oleh Vanes.
Selesai sarapan, Kenzo berdiri kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Vanes hanya bisa menatapnya dalam diam.
***
Vanes turun dengan celana jeans selutut serta kaos hitam tanpa lengan di balut dengan jaket warna abu-abu. Para pelayan yang melihatnya bertatapan dengan wajah bingung. Bagaimana tidak bingung? Nyonya mereka keluar dengan pakaian ketat seperti itu.
Vanes menghela nafas panjang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil hitamnya. Serba hitam. Tak lupa juga pistol yang selalu di bawanya jika kemana-mana. Sebuah perubahan pada diri Vanes ketika dia merasa ada beban yang cukup berat.
"Nyonya mau kemana?" Tanya satpam. Pak Ojan.
Vanes memakai kacamatanya. "Tidak penting. Cepat buka pintu pagar!"
"Ta-Tapi Tuan tidak memperbolehkan Nyonya untuk keluar tanpa sopir. Itu pesan yang di sampaikan kepada saya." Kata Pak Ojan.
Vanes menghela nafas. "Saya tidak peduli. Cepat buka pintunya!"
Pak Ojan langsung membuka pintu pagar. Setelah itu, Vanes melesat dengan mobil demon srt itu. Sangat mustahil jika mobil itu ada di Indonesia. Tapi, Kenzo memberi itu sebagai hadiah saat pernikahan.
***
"Apa kabar, Vanessa?" Sapa Juna saat Vanes duduk di hadapannya.
"Jangan basa-basi. Cepat katakan apa mau mu." Sarkas Vanes.
Juna tertawa pelan. "Vanes. Aku tahu gerak-gerikmu selama ini. Kamu ada masalah kan dengan Kenzo?"
Vanes menatap tajam Juna. Tatapan maut di layangkan olehnya. Bagaimana lelaki yang ada di hadapannya ini bisa tahu masalah dalam rumah tangganya. "Jangan urusi rumah tanggaku, Jun!"
"Aku tidak mengurusi rumah tanggamu, Vanes. Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran. Sebenarnya aku tidak tega jika aku harus mengatakan sesuatu tentang Kenzo."
Mendengar nama Kenzo, dada Vanes langsung bergemuruh. Badannya menegang. Hal apa yang akan di katakan oleh Juna. "Katakan saja, Jun."
"Aku tidak yakin jika kamu bakal menerima kenyataan itu." Balas Juna.
"Katakan!" Tegas Vanes.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya ya." Kemudian Juna mengeluarkan amplop coklat berukuran besar dan memberikannya kepada Vanes.
Vanes mengulurkan tangannya untuk menerima amplop tersebut. Dia menatap Juna sekilas. Setelah itu, dia membuka amplop tersebut.
Sebuah foto yang membuat Vanes terenyak. Foto Kenzo sedang tidur dengan seorang perempuan. Vanes langsung melemparkan amplop tersebut. Air matanya langsung tergenang.
"Nggak. Ini nggak mungkin, Jun." Vanes menggerang.
Tiba-tiba, perutnya terasa sakit. Vanes merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Juna yang melihatnya langsung berdiri menghampiri Vanes yang ada di hadapannya.
"Vanes? Kamu kenapa?" Tanya Juna khawatir.
Vanes mencengkram erat bahu Juna. "Perutku sakit, Jun."
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
***
"Bagaimana keadaan Vanes, dok?" Tanya Juna saat seorang dokter perempuan keluar dari tempat Vanes terbaring.
"Untung kondisi bayi tidak apa-apa, Pak. Saya menyarankan jika ibu Vanessa tidak terlalu kelelahan atau stres karena itu berdampak pada kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya yang sudah berumur enam minggu." Terang dokter tersebut.
Hati Juna rasanya seperti tertusuk belati. Jadi, Vanes hamil. "Baik, dok. Terima kasih."
Setelah dokter tersebut pergi, Juna langsung terduduk lesu. Pupus sudah harapannya untuk mengambil Vanes dan menggenggamnya kembali. Juna mengusap wajahnya kasar. Seharusnya dia sadar untuk tidak terlalu egois. Segera, dia masuk ke dalam tempat Vanes di rawat.
"Vanessa?" Panggil Juna saat Vanes melamun.
Juna tersenyum. "Selamat, kamu akan segera menjadi ibu."
"Aku hamil?" Tanya Vanes lagi.
Juna mengangguk.
Vanes memegangi perutnya. Air matanya jatuh lagi. Harapannya dengan Kenzo terkabul. Sekarang dia sedang mengandung. Seharusnya, dia sedang bersama Kenzo saat ini. Bukan Juna.
"Sudah berusia enam minggu." Timpal Juna. "Aku akan minta foto USG nya nanti sebagai buktinya. Jangan bersedih."
Vanes menyeka air matanya. "Iya. Terima kasih. Kapan aku bisa pulang?"
"Nanti malam mungkin. Kamu harus banyak istirahat disini." Jawab Juna.
"Maafkan aku atas kelakuanku beberapa hari yang lalu."
"Tidak masalah." Balas Juna.
"Aku boleh minta sesuatu?" Tanya Vanes lagi.
"Apa? Katakan! Akan ku turuti."
"Selain foto USG, aku minta foto yang kamu berikan padaku tadi. Foto Kenzo dengan perempuam itu. Jangan beri tahu Kenzo tentang hal ini dan satu hal, aku mau mobilku nanti malam disini. Aku akan pulang sendirian."
***
__ADS_1
19.00
Di bantu oleh Juna berjalan, Vanes telah sampai di area parkiran rumah sakit. Juna sebenarnya enggan untuk membiarkan Vanes pulang sendiri. Setelah masuk ke mobil dan menyalakannya, Vanes menatap Juna.
"Thanks."
"No problem, Vanes. Hati-hati di jalan. Jaga keponakanku." Pesan Juna.
Vanes sempat tertegun dengan ucapan Juna. Namun, dia segera tersenyum sambil mengangguk. Setelah itu, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Air matanya kembali jatuh. Kenzo..Apa benar yang ada di foto itu Kenzo?. Tidak mungkin suaminya itu melakukan hal yang menjijikan seperti itu. Kemudian datangnya sebuah fakta yang mengatakan jika dirinya hamil. Kacau balau lah yang dirasakan oleh Vanes saat ini.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Vanes sampai di rumah. Di lobby, sudah ada Kenzo yang berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. Tak sadar, tangannya terkepal. Dia mencengkram erat setir yang ada di depannya.
Vanes menghembuskan nafasnya berkali-kali. Setelah merasa tenang, dia keluar dari mobil sambil membawa dua amplop coklat. Kenzo menatapnya datar. Hati Vanes sakit.
Vanes merasa rumah tangganya tak lagi seperti dulu. Tatapan Kenzo benar-benar berbeda. Tatapan dingin, tajam dan menusuk itu membuat Vanes ciut saat berdiri di hadapannya. Dan akhirnya Vanes memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Dari mana saja kamu? Dari tadi pagi hingga malam begini?" Tanya Kenzo dengan nada dingin.
Vanes berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya hingga menghadap punggung Kenzo. Kemudian Kenzo juga melakukan hal yang sama. Posisi mereka saling berhadapan.
"Bukan urusanmu, Kak." Jawab Vanes tak kalah dinginnya.
Kenzo maju selangkah. "Kamu sudah berani melawanku? Selama ini aku sudah sabar menghadapimu, Vanessa!"
Vanes semakin di buat emosi dengan bentakan Kenzo. "Dimana dirimu yang dulu, Kak? Kenapa sekarang kamu menjadi kasar kepadaku? Apa karena ini?" Kemudian Vanes melemparkan amplop coklat dengan berukuran besar tersebut.
Kenzo segera menangkapnya. Kemudian membuka amplop tersebut.
"APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN, KAK? KAMU MENGKHIANATIKU!" Bentak Vanes.
Kenzo langsung membuang amplop itu. Dia mengusap wajahnya kasar. "Sebetulnya hal yang terjadi tidak yang seperti kamu pikirkan."
"Aku tidak peduli! Yang aku tahu, kamu selingkuh!" Vanes berderai air mata.
"JANGAN EGOIS!" Bentak Kenzo.
Vanes langsung diam. Nyalinya langsung ciut. Dia hanya bisa menangis tersedu. Entah. Dimana suaminya yang dulu? Yang selalu sabar. Yang selalu lembut.
"JANGAN EGOIS! KARENA KAMU HANYA TAHU DI SEBELAH PIHAK, VANES. KAMU BELUM TAHU YANG ADA DI PIHAKKU."
Setelah membentak Vanes, Kenzo kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah itu, dia keluar lagi dengan jaket yang tersampir di bahunya.
"Mau kemana kamu, Kak?" Vanes mencekal tangan Kenzo.
Kenzo menghempaskan tangan Vanes. "Aku mau pergi."
"Bahkan saat aku sedang berbadan dua, kamu masih mau mengkhiantiku lagi?"
Kenzo yang semulanya hendak turun dari undakan berhenti melangkah kemudian dia memutar tubuhnya menghadap Vanes lagi.
"Aku hamil."
__ADS_1