My Little Wife

My Little Wife
Bab 235 : Kebiasaan Orang Hamil


__ADS_3

Happy reading♡


Satu jam berlalu, Rafello pun beranjak dari kamarnya menuju ke dapur. Tenggorokannya terasa kering. Saat bermain game tadi, ia terus berbicara dan mengeluarkan beberapa umpatan pada teman temannya begitu sebaliknya.


Sampai saat ini, dia masih berteman baik dengan teman teman SMA-nya. Meskipun sekarang mereka berjauhan, tapi mereka sering bertemu di game online.


"Seret banget tenggorokan hamba. Minum dulu kali ya," ucapnya. Ia membuka pintu kulkas besar yang ada di dapur. Disana banyak sekali minuman. Namun rata rata rasa minuman itu greentea.


"Gak aneh, abang gue bucin mampus sama kakak ipar. Sampe sampe minuman kesukaan dia cuma dikit disini," gumam Rafello. Ia pun mengambil satu minuman bersoda kemudian membukanya dan meminumnya.


Tiba tiba terdengar suara bising dari arah depan. Rafello dengan jiwa keponya pun berjalan menuju ke sumber suara.


Disana ia melihat sebuah mobil pick up mengeluarkan kardus berukuran cukup besar. Beberapa orang membantu menurunkan kardus itu.


"Aden," sapa bi Sati.


"Ini barang siapa bi? Gede banget kayak harapan gue buat Ayu," ucap Rafello.


"Ini barang milik nyonya muda den. Katanya barangnya mudah pecah jadi dibantu banyak orang buat nuruninnya," ucap bi Sati.


Rafello manggut manggut mengerti. Ia pun mendekati kardus yang diturunkan tadi setelah beberapa orang yang mengantarkan barang ini pamit pergi.


Apa ini dipesan online? Tapi kenapa tidak ada resi dan alamat lengkap kakak iparnya?


Tangan Rafello pun terangkat untuk meraba kardus besar itu. Namun tidak jadi saat suara melengking Ashel terdengar.


"JANGAN SENTUH," teriak Ashel dari dalam mobil.


"E buset. Kaget gue," gumam Rafello mengelus dadanya.


Ashel buru buru turun dari dalam mobil dan mendekat ke arah barang miliknya. Ia merentangkan tangannya untuk menutupi kardus itu agar tidak disentuh oleh Rafello.


"Jangan deket deket. Ini barang pecah," ucap Ashel.


"Dih, siapa juga yang mau deketin barang lo hah?! Gak ada tuh," ucap Rafello.


Kavin dengan beberapa tentengan kantong belanjaan langsung memberikan itu pada adiknya. Rafello pun dengan sigap menerimanya. Untung gerakan refleks tangannya cukup baik.


"Bang ih apaan sih?!" Ucap Rafello tak terima.


"Bawa ke dalem. Berguna dikit," ucap Kavin. Rafello mendengus kesal dan pergi dari sana membawa kantong belanjaan.


Meskipun kesal, ia tetap membawanya ke dalam dan meletakannya di dapur.


Beberapa bodyguard membawa kardus besar milik Ashel ke dalam rumah. Mereka meletakannya dengan hati hati.


Dengan girang, Ashel membuka kardus itu. Ia sangat tidak sabar untuk melihatnya. Ia akan meletakan guci boneka itu di kamarnya.


"Pelan pelan sayang," peringat suaminya namun Ashel tidak mendengarkannya.


Perlahan, kepala guci boneka itu terlihat. Ashel meminta bantuan suaminya untuk mengeluarkan guci itu.

__ADS_1


"AAAA CANTIK BANGET. MAKASIH SUAMI," teriak Ashel saat guci bonekanya keluar dari dalam kardus.


"Kissnya mana?" Tanya Kavin.


Dengan cepat Ashel menarik kepala suaminya dan mengecup bibirnya sekilas. Ia kemudian kembali fokus pada guci boneka miliknya.


"Najis, bucin tolol," ucap Rafello yang melihat adegan mesra dua pasutri itu.


"Jomblo lagi iri nih mas. Cariin cewek, kasihan adik kamu sad mulu," ucap Ashel.


"Gak minat. Gue bisa cari sendiri," ucap Rafello. Ia pun mendekat ke arah Ashel yang sedang memegang guci boneka miliknya.


"Berapa duit nih? Kayaknya mahal. Selera lo emang gak kaleng kaleng. Gue dukung lo abisin duit kakak gue," ucap Rafello. Ia mengulurkan tangannya untuk meraba guci boneka milik Ashel. Namun dengan cepat Ashel menepis tangan Rafello.


"Pelit amat dih. Orang pelit kuburannya sempit," ucap Rafello. Namun Ashel tidak menanggapinya. Ia sibuk memperhatikan guci boneka miliknya.


"Kok kakak ipar aneh ya bang, gak minta barang branded kayak kebanyakan cewek. Dia malah minta guci itu," ucap Rafello.


"Gatau juga," ucap Kavin menggidikan bahunya. Ia juga sampai heran dengan istrinya ini tapi sudahlah, yang penting istrinya ini bahagia.


"Berapa duit bang guci kayak gitu?" Tanya Rafello.


"Seratus tujuh puluh," jawab Kavin.


"Ribu?" Tanya Rafello.


"Juta lah anjir. Yakali barang gituan murah. Itu guci asli," ucap Kavin membuat jantung Rafello speecheless.


"Mas, jagain ini ya. Jangan sampe ada yang pegang. Awas aja," ucap Ashel.


"Kamu mau kemana emangnya?" Tanya Kavin.


"Bikin rujak."


Ashel pun ngacir pergi ke dapur. Kebetulan semua bahan sudah diantar oleh Rafello kesana.


"Kakak ipar ngidam? Ketumbenan dia mau rujak," ucap Rafello.


"Gatau."


"Lah, kan dia bikin sama lo masa kagak tahu sih bang. Aneh," ucap Rafello.


"Ya kan gue gak inget." Kavin memang tidak pernah mengingat berapa kali ia dan istrinya berhubungan intim bahkan ia tidak ingat berapa kali ia *******.


Rafello pun terdiam karena tidak tahu harus bertanya lagi. Tak lama dari itu, datanglah Ashel dengan mangkok berukuran sedang yang ia bawa di tangannya.


Ashel duduk sila di dekat suaminya. Ia juga meminta suaminya menyalakan televisi di depan mereka.


"Gak pedes kan?" Tanya Kavin.


"Enggak mas. Tanya bi Sati aja," ucap Ashel. Kavin pun menganggukan kepalanya percaya.

__ADS_1


Bi Sati datang membawakan kopi untuk Rafello dan Kavin juga beberapa cemilan. Ia juga membawa satu kotak ice cream.


"Makasih bi," ucap Rafello.


"Sama sama den."


Sedangkan Ashel, ia mulai mengaduk potongan buah buahan yang ada di mangkok itu beserta dengan beberapa sayur seperti wortel dan kol.


"Emang enak yang?" Tanya Kavin. Ashel menganggukan kepalanya.


"Minta dong. Enak tuh kayaknya," ucap Rafello. Ashel pun memberikannya pada Rafello. Hanya satu suapan saja tidak lebih.


"Kok enak. Mau lagi dong," ucap Rafello.


"Bentar," ucap Ashel.


Ia pun membuka kotak ice cream dan memasukannya ke dalam mangkok tadi.


Kavin dan Rafello melongo melihat tingkah wanita di depan mereka.


Setelah ice cream masuk, Ashel mengaduknya kemudian memakannya.


"Nih," ucap Ashel.


"Gak jadi Shel. Sumpah gak jadi, gak mau," ucap Rafello.


"Padahal ini enak loh," ucap Ashel. Ia pun kembali asik menikmati makanannya.


Rasanya sangat luar biasa enak meskipun sedikit aneh. Kavin yang melihat istrinya lahap makan rujak aneh itu pun sedikit bergidik ngeri.


"Perut kamu gak papa kan makan makanan kayak gitu?" Tanya Kavin.


"Enggak sayang. Kamu makan nih cobain, enak loh," ucap Ashel. Ia mengarahkan sendok ke mulut suaminya namun Kavin menggeleng.


"Gak mau yang. Kamu aja yang makan."


Sedangkan Rafello menatap aneh ke arah kakak iparnya. Tidak biasanya dia seperti itu.


"Lo hamil Shel?" Tanya Rafello membuat Ashel mengalihkan atensinya pada Rafello.


"Kok nanya gitu?"


"Abisnya kebiasaan lo kayak orang hamil," ucap Rafello.



...Boneka guci Ashel...


Tbc.


Kalo ada typ maapin yyy

__ADS_1


__ADS_2