My Little Wife

My Little Wife
Ban 275 : Pesan Waktu Itu


__ADS_3

Happy reading♡


Malam hari, Ayu dan Rafello baru selesai jalan bersama. Mereka pun memutuskan untuk mampir ke mansion Kavin dan Ashel sekalian untuk memberikan hadiah yang tadi sudah mereka beli. Hari ini seharusnya sejak sore tadi Ayu dan Rafello datang ke mansion itu, namun ternyata Rafello malah mengajak Ayu ke apartementnya. Entah apa yang mereka lakukan disana. Yang jelas itu sebuah kenikmatan.


Yap, kenikmatan karena mereka memesan banyak makanan untuk mereka makan sembari menonton tv. Ayu melahap habis makanan tadi begitu juga dengan Rafello. Setelah mereka kenyang, tanpa sadar mereka pun tertidur cukup lama. Alhasil mereka baru bisa malam ini datang ke mansion itu.


Rafello dan Ayu berjalan bergandengan tangan dan masuk ke dalam mansion. Keadaan mansion sangat sepi. Entah dimana keberadaan Ashel dan Kavin saat ini. Mungkin mansion ini terlalu besar jadi tidak mudah menemukan kedua pasutri itu.


Tiba tiba ada seorang maid yang mengatakan jika Kavin dan Ashel keluar sore tadi dan belum kembali.


"Gimana byy? Pulang aja?" Tanya Rafello.


"Ya udah kita pulang aja. Kalo kita telepon mereka kan kasihan ganggu waktu mereka berduaan. Besok lagi aja kita kesini," ucap Ayu.


"Oke baby," ucap Rafello. Mereka berdua pun memutuskan kembali pulang saja karena tuan rumah tidak ada di tempatnya.


Sedangkan itu, di salah satu ruangan di rumah sakit Kavin masih terlelap. Ia bahkan tidak menyadari saat jari jari lentik milik istrinya bergerak. Ashel membuka matanya. Untuk beberapa saat ia terdiam. Ia kemudian menolehkan pandangannya ke arah kanan. Disana ada suaminya yang sedang terlelap damai.


"Rumah sakit? Sejak kapan? Dan kenapa gue disini," gumam Ashel. Ia pun melepaskan genggaman tangan suaminya di tangannya dengan perlahan. Namun saat genggaman terlepas, Kavin menjadi bangun. Ia membuka matanya perlahan dan tersenyum ke arah istrinya.


"Mami udah bangun? Lama banget sih tidurnya. Aku bosen dari tadi sendirian," ucap Kavin dengan wajah yang masih mengantuk.


Ashel tersenyum dan menggeser tubuhnya. Brankar yang ia tempati cukup besar. Muat untuk dua orang.


"Naik sini, terus bobo lagi," ucap Ashel.


"Nanti kamu kesempitan kalo aku naik. Gak papa aku tidur disini aja," ucap Kavin.

__ADS_1


"Enggak sayang. Sini naik, aku pengen peluk papinya baby's," ucap Ashel. Kavin pun menurutinya dan naik ke atas brankar. Ia menaikan kepala Ashel kemudian menyimpan tangannya dibawah kepala Ashel. Ia sengaja menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk istrinya ini. Ashel sendiri memeluk tubuh suaminya dengan tangannya yang terpasang infus.


"Mami laper gak? Kalo laper aku suruh Josh beli makanan," ucap Kavin.


"Enggak mas. Aku gak laper," ucap Ashel.


"Syukurlah kamu bangun. Cepet sembuh ya? Nanti aku ajak kamu pulang ke Indonesia. Katanya mau makan bakso mang Mi'un di Bandung," ucap Kavin.


"Iya mas sayang. Gak sabar banget nyobain bakso seenak buatan mang Mi'un. Aku juga pengen makan alpukat kocok yang ada di deket komplek rumah ya," pinta Ashel.


"Everything for you mami. Aku bakalan turutin semua mau kamu asal jangan terlalu pedes, asin, ataupun manis. Pokonya gak boleh berlebihan," ucap Kavin.


"Iya mas. Sayang deh sama mas Kavin. Jadi, kita kapan pulang?" Tanya Ashel.


"Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita langsung berangkat. Barang barang kita juga udah siap, aku minta Josh buat beresin semuanya," ucap Kavin.


"Kamu gak inget apa yang terjadi sama kamu tadi?" Tanya Kavin. Ashel mengelengkan kepalanya. Karena memang ia tidak mengingat apapun yang terjadi tadi. Ia hanya ingat kecelakaan setelah itu tidak ads yang ia ingat lagi.


"Selepas kecelakaan tadi, aku bawa kamu pulang pake mobil asistennya Ardian. Pas di jalan pulang, tiba tiba kamu pendarahan," ucap Kavin.


"Apa?! Terus bayi aku gimana mas? Mereka baik baik aja kan?" Tanya Ashel. Ia buru buru meraba perutnya. Mengecek keberadaan si kembar disana. Ternyata perutnya masih buncit. Berarti si kembar masih ada disana.


"Baby's aman sayang. Semua karena kamu, tubuh kamu yang kuat jadi janin kamu juga selamat. Makasih ya udah jaga baby's buat aku," ucap Kavin.


"Aku kira mereka-," ucap Ashel menggantung. Ia tidak mau mengucapkan kata kata itu.


"Enggak sayang. Baby's selamat. Mereka baik baik aja. Dokter bilang pendarahan tadi terjadi karena kamu terlalu syok dan ketakutan. Itu mempengaruhi baby's. Tapi syukurlah mereka baik baik aja," ucap Kavin.

__ADS_1


"Tapi mas, siapa yang buat kita kayak gini?! Kenapa dia jahat banget. Dona gak mungkin, apa itu Nadine?" Tanya Ashel.


"Bukan mereka berdua sayang," ucap Kavin. Memang benar adanya, Dona berada di Indonesia dan sekarang sudah menjadi karyawan di Sash Cafe milik Ashel sedangkan Nadine masih di sekap oleh Ardian. Bahkan Marta, ayah Nadine sudah sejak lama mencari keberadaan Nadine namun ia belum menemukan putri satu satunya itu. Entah dimana keberadaan Nadine, hanya Kavin dan Ardian saja yang tahu.


"Terus siapa mas?" Tanya Ashel.


"Nanti aja kita bahasnya ya? Mas ngantuk pengen peluk kalian bertiga," ucap Kavin.


Ashel mendesah kecewa. Padahal ia sangat ingin tahu siapa dalang dibalik kecelakaannya hari ini. Sedangkan Kavin sebenarnya tidak terlalu mengantuk. Ini hanya alibinya saja agar ia tidak memberitahu yang sebenarnya pada Ashel. Ia takut jika nanti Ashel akan memikirkan ini semua dan itu akan menjadi pengaruh buruk untuk bayi bayinya. Ibu hamil tidak boleh stress. Itu yang dia tahu dari mamanya.


Kavin pun mengulurkan tangannya memeluk Ashel. Ia memejamkan matanya namun tidak tidur lelap. Sedangkan Ashel membuat pola abstrak di dada bidang suaminya. Namun pikirannya berkelana kemana mana. Ia memikirkan siapa yang tega melakukan ini semua.


"Sebenarnya apa yang kamu tutupi mas? Apa maksud kamu? Kenapa aku gak boleh tahu," gumam Ashel yang terdengar jelas oleh telinga Kavin. Meskipun dengkuran Kavin sudah terdengar halus dan seperti sudah terlelap, nyatanya ia memang tidak tidur.


"Jika bukan Dona dan Nadine, lalu siapa? Nando gak mungkin, dia udah tobat dan mengakui kesalahannya waktu itu. Lalu siapa?" Tanyanya lagi. Ia mencoba berpikir keras. Siapa tahu ada yang ia ingat.


"Pesan itu. Pesan yang pernah masuk ke ponsel gue, disana dia bilang buat hati hati sama satu orang. Orang itu deket sama gue di masa lalu. Apa jangan jangan ini semua ulahnya Liam?"


Kavin sontak membuka matanya saat mendengar ucapan istrinya ini. Ternyata selama ini istrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tapi apa emang bener? Gue aja lupa sama pesan itu." Gumam Ashel.



Emaknya si kembar cakep banget wwooiiiii


Tbc.

__ADS_1


Ig : @oviealkhsndi @cocoretanayc_


__ADS_2