
Azalea kembali menuju dapur resort, tapi ia tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu. Memperhatikan Zico yang sedang begitu sibuk memasak dan berbaur bersama koki dapur lainnya, dengan lengan kemeja yang dilipat dan kancing paling atas dibuka, menampakkan sedikit otot dadanya.
"Bu Azalea, apa kau perlu sesuatu?" Tanya salah seorang pelayan. Yang hendak masuk kedalam dapur dan mengambil pesanan pelanggan.
"Tidak.." Azalea langsung menegakkan tubuhnya yang tadinya sedang bersandar. Memberi akses agar si pelayan bisa masuk.
"Sedang apa kau disana?" Tanya Zico pada akhirnya. Karena teguran si pelayan membuat Zico menyadari keberadaan Azalea.
Azalea menoleh, seiring si pelayan yang berlalu dari sana. Akhirnya, Azalea pun melangkah mendekati Zico.
"Apa sudah selesai?" Tanyanya sambil berdiri disamping Zico.
"Sebentar lagi." Imbuh Zico, dengan tangan yang begitu lihai memainkan pisau.
"Aku tunggu diruanganmu, ya." Ujar Azalea, dan tak lupa memberikan kecupan penyemangat untuk suaminya itu.
"No no no.." Zico dengan cepat meraih pergelangan Azalea. "Aku butuh bantuan." Imbuhnya sambil melirik ke arah masakan yang masih berada didalam wajan itu.
"Tapi-" Ucap Azalea menggantung.
Zico langsung memasang wajah memelasnya.
"Baiklah, baiklah.." Azalea mengalah.
__ADS_1
*
Semua makanan sudah tersaji rapi di atas meja. "Silahkan dinikmati." Imbuh Zico, seraya mencubit pelan pipi Azalea yang semakin cabi.
"Tunggu tunggu.." Azalea menghentikan Zico yang hendak memulai makan.
"Ada apa?" Tanya Zico penasaran.
"Aku punya kabar bahagia." Dengan senyuman sumbringahnya.
"Maaf mengganggu." Ella menghampiri.
Zico dan Azalea langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Ada berkas yang harus kau tandatangani." Dengan raut wajah datarnya. Ella menyodorkan berkas itu kepada Zico.
"Ini.." Ella menyodorkan bolpen yang memang sudah dipersiapkan.
"Kau sudah makan, jika belum ayo makan bersama." Ajak Zico, sambil menandatangani berkas tersebut.
"Aku tidak lapar." Tolak Ella dingin.
Zico langsung menoleh, menatap Ella bingung. Ia bersikap tidak seperti biasa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, El. Kami juga tidak akan sanggup menghabiskan semua makanan ini." Sahut Azalea.
Ella tak menggubrisnya. "Apa kau sudah selesai, jika sudah tolong kembalikan berkasnya." Ella bersikeras untuk tidak menerima ajakan itu.
Bukannya menyerahkan berkas itu, Zico justru bangkit dari duduknya. Lalu menuntun Ella untuk duduk dan makan bersama mereka.
Tak ada pilihan lain, atau kemarahannya dan rasa malu juga canggungnya akan diketahui Zico.
Ella ikut duduk disana, ikut makan bersama Zico dan juga Azalea.
Ella hanya terdiam, menikmati makanan itu sambil menekuk wajahnya dalam-dalam.
"Zic..." Panggil Azalea kemudian.
"Emm.." Jawab Zico, dengan makanan yang memenuhi mulut nya.
"Jadi, Ella cinta pertamamu ya?" Tanya Azalea tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu membuat Zico tersedak, sedangkan Ella. Hanya bisa menunduk semakin dalam.
Azalea dengan cepat langsung menyodorkan gelas air minum untuk Zico. Setelah meneguk air itu, Zico justru tertawa terbahak-bahak.
"Itu masa-masa sekolah dasar dulu." Imbuh Zico sambil memegang perutnya. Ia masih belum bisa berhenti tertawa, mengingat kekonyolan dulu semasa sekolah dasar, bisa-bisanya ia menyatakan cinta pada Ella yang masih kelas satu dan dia kelas enam.
__ADS_1
"Ooaallaahhhh... Ternyata itu jaman dahulu kala." Azalea ikut tertawa, menertawakan kesombongan Ella yang begitu percaya diri tadi. Tapi sekarang justru menciut dan diam seribu bahasa.
>>>>