My Little Wife

My Little Wife
Bab 241 : Luka Batin dan Fisik


__ADS_3

SALTOO DULUU 🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️


.


.


.


Happy reading♡


Malam hari, kediaman Kavin Ashel sangat sepi. Tidak seperti biasanya. Sejak kejadian tadi, baik Ashel atau pun Kavin sama sama terdiam.


Ashel mengurung dirinya di kamar. Ia tidak mengerti dengan semua kejadian hari ini. Semuanya terjadi begitu cepat sampai sampai Ashel tidak bisa mencerna semuanya dengan baik.


Ashel kira Kavin pria yang baik. Ternyata sama saja. Semua pria tidak akan cukup dengan satu wanita.


Kenyataan pahit ini harus Ashel telan bulat bulat. Ternyata selama suaminya ijin pergi untuk bekerja ke luar negri, itu bukan sepenuhnya bekerja. Melainkan menjalin hubungan dengan wanita lain.


Ashel duduk termenung di depan kaca jendela besar yang ada di kamar mereka. Hari sudah gelap namun Ashel tidak mau menutup tirainya. Bahkan lampu di kamarnya juga sengaja tidak ia hidupkan.


Selama hampir tiga tahun dirinya dan Kavin mengarungi bahtera rumah tangga. Ia kira Kavin pria yang baik. Karena sikapnya yang selalu membuat Ashel nyaman setiap dekat dengannya. Ternyata itu semua hanya kedok untuk menutupi sifat bejatnya.


"Aku gak nyangka kamu tega khianatin aku gitu aja. Jadi kata kata cinta yang selalu kamu ucapkan selama ini itu hanya kebohongan saja?" Gumam Ashel.


Kamarnya sudah seperti kapal pecah. Semua barang barang yang Ashel lihat dilempar begitu saja termasuk gucci boneka yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.


Bahkan tangan Ashel mengeluarkan darah karena terkena pecahan gucci itu. Namun sekarang darahnya sudah mengering.


Guci mahal itu kini sudah tidak berwujud lagi. Awalnya Ashel sangat menyayangi gucci itu bahkan Rafello pun tidak ia biarkan untuk merabanya. Tapi sekarang, ia sendiri yang menghancurkannya.


Terlalu lama menangis membuatnya kelelahan. Ia sampai tak sadar terlelap diatas ubin terlas yang dingin.


Penampilan Ashel sangat kacau. Jauh dari kata baik.


Istri mana yang rela suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Semua istri di dunia ini pasti sama, hanya ingin dirinya yang dicintai oleh suaminya.


Sedangkan di ambang pintu, Kavin menatap tubuh mungil istrinya yang tergeletak di lantai. Hatinya sangat sakit melihat betapa hancurnya keadaan istrinya saat ini.


Meskipun ia sadar, semua kehancuran istrinya ini akibat ulahnya.


Kavin mengangkat tubuh istrinya untuk keluar dari kamar itu. Sedangkan bi Sati yang diperintahkan Kavin untuk membersihkan kamar itu menatap iba kepada nyonya muda mereka.

__ADS_1


Kavin membawa Ashel pergi ke kamar lain yang ada disana. Perlahan Kavin menidurkan istrinya agar tidur istrinya tidak terganggu.


Ia keluar dari dalam kamar itu untuk mengambil kotak obat dan kembali masuk lagi untuk membersihkan darah yang mengering di tangan istrinya.


"Maaf," gumam Kavin. Ia membalut tangan istrinya menggunakan perban. Luka di tangan Ashel cukup lebar dan dalam.


Kavin mengelus surai istrinya. Mata sembabnya yang tertutup membuat Kavin sangat merasa bersalah.


"Maaf."


Lagi lagi hanya ucapan maaf yang keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain kata maaf.


Kavin ikut rebahan di kasur yang sama dengan istrinya. Ia memeluk erat tubuh ringkih istrinya yang sangat rapuh ini.


Kenyataannya memang pahit, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi.


***


Ashel terbangun saat merasakan suaminya ikut tertidur dengannya. Sebenarnya Ashel tidak tidur. Ia hanya memejamkam matanya saat suaminya membalut lukanya.


Suaminya hanya membalut luka fisiknya yang lukanya tidak seberapa sedangkan luka hatinya sangat menganga.


Lagi lagi Ashel mengeluarkan air matanya saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Rasanya sangat menyakitkan mengingat hal itu.


Tanpa ia ketahui, Kavin juga tidak tertidur. Ia hanya diam saja seolah sudah tertidur. Buru buru Kavin menahan tubuh istrinya agar tidak pergi dari sana.


"Lepas," ucap Ashel.


"Kamu gak boleh kayak gini yang, aku tetep suami sah kamu," ucap Kavin membuat pergerakan Ashel terhenti.


"Suami? Berarti aku istri kamu kan?" Tanya Ashel.


"Iya."


"Kalo kamu tahu aku istri kamu, kenapa kamu sampe berani selingkuh sama wanita itu? Bahkan dia dengan lancangnya datang ke hadapan aku," ucap Ashel.


Tangannya kembali berusaha melepaskan tangan Kavin yang melingkar di perutnya namun sangat susah.


"Bukannya seorang suami boleh sampe punya empat istri ya? Apa kamu gak tahu?" Tanya Kavin.


Perasaan Ashel semakin sakit saat Kavin mengucapkan hal itu entah mengapa rasanya sangat menyesakan.

__ADS_1


"Emang boleh dan gak ada larangan juga. Tapi kita cerai dulu sebelum kamu menikah dengan wanita lain. Terserah kamu mau punya empat bahkan sepuluh juga aku gak peduli," ucap Ashel.


Secinta apapun dia pada suaminya, jika ia di duakan tidak ada pilihan lain selain berpisah. Ashel sangat mencintai Kavin. Namun jika perilaku Kavin seperti ini, Ashel tidak terima.


Meskipun jaminannya surga, tetap saja Ashel tidak mau jika sampai harus di madu.


"Cerai? Jangan harap. Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi istri aku," ucap Kavin.


Ia menarik tubuh istrinya agar kembali tidur terlentang kemudian ia menindihnya.


Wajah istrinya yang sering dihiasi senyuman indah kini berubah. Mata istrinya yang selalu berbinar menatapnya kini meredup.


"Jangan egois," ucap Ashel.


Kavin tersenyum kecil dan mengusap wajah istrinya menggunakan jari tangannya.


"Aku tidak peduli. Kamu suka atau tidak, aku egois atau tidak. Aku sangat tidak peduli. Jangan berharap sesuatu hal yang tidak mungkin. Cerai? Apa kamu yakin siap hidup menjadi janda?" Tanya Kavin.


Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Ashel sangat tidak ingin berpisah dengan suaminya. Namun harus bagaimana lagi? Kepercayaan cintanya sudah di hancurkan oleh suaminya sendiri.


Orang yang paling ia percaya untuk melabuhkan semua kehidupannya.


"Lebih baik seperti itu dari pada aku harus melihat mu menikah dengan wanita lain. Apalagi sampai harus mempunyai madu," ucap Ashel.


Ia kembali berontak agar lepas dari kukungan tubuh suaminya. Kavin tentu saja bukan tandingannya. Tenaga pria itu jauh lebih besar dari pada Ashel.


"Kamu memang lemah. Baru aku selingkuhi saja sudah seperti ini," ucap Kavin.


"Bajing*n. Lepas," teriak Ashel.


"Lepas? Sudah aku bilang bukan jangan berharap untuk bisa lepas dari aku. Kamu tetap milik ku sampai kapan pun," ucap Kavin.


"Aku gak mau sama kamu. Kamu bukan Kavin yang aku kenal. Kamu berubah mas, kamu berubah," racau Ashel. Ia terus memukuli suaminya sembari menangis tersedu sedu.


Hatinya sangat sakit sekali mendengar ucapan suaminya saat ini. Kavin benar benar berubah. Entah apa yang mengubah sifat dan sikap suaminya ini.



Tbc.


Yang mau hujat Kavin, monggo😊

__ADS_1


Kalo ada typ maapin y ges.


__ADS_2