
Happy reading♡
Ashel dan Kavin berjalan bergandengan tangan menuju ke rooftop cafe. Karena disana anak anaknya pasti sedang bermain. Di tangga dekat meja kasir, Ashel dan Kavin berpapasan dengan Dona?
"Dona?" Panggil Ashel.
Dona yang merasa namanya dipanggil pun menoleh namun dengan menundukan kepalanya.
"Iya," jawab Dona.
"Apa kabar? Kenapa bisa disini? Bukannya lo kerja di cabang Sash cafe yang di Bandung?" Tanya Ashel.
"K-kabar gue baik. Lo sendiri?" Tanya Dona.
"Baik kok," jawab Ashel.
"Gue diminta kesini dulu buat bantuin, disini soalnya kekurangan karyawan," ucap Dona.
"Oh gitu, ya udah gue ke atas dulu ya Don. Bye," ucap Ashel tersenyum. Ia sempat menepuk pundak Dona dua kali kemudian pergi dari sana.
Dona menatap Ashel yang dirangkul mesra oleh suaminya. Ternyata Ashel tetap baik meskipun sudah ia jahati dulu. Ini kali pertama ia bertemu lagi dengan Ashel setelah insiden itu. Selama ini ia hanya melihat wajah Ashel di internet. Ternyata Ashel memang sehebat itu.
Penyesalan mungkin terus hinggap di benak Dona kala ia mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Ashel akibat salah paham dan cinta butanya. Namun ia bersyukur karena Ashel masih mau memaafkannya.
"Padahal tadi gak usah kamu tanya dia," ucap Kavin.
"Lah, emang kenapa mas?" Tanya Ashel.
"Gak tahu, lihat dia bawaannya kesel banget. Kayak pengen ngelakuin hal yang sama, kayak dia perlakukan kamu dulu," ucap Kavin.
"Udah dong yang, itu kan udah lama lagian aku tetep di samping kamu kan? Gak kemana mana," ucap Ashel.
"Iya sih yang. Tapi kan aku gondok sama dia, mana Ardian minta dia kerja di cafe kamu," ucap Kavin.
__ADS_1
"Udah udah ah, jangan pendendam kayak gitu," ucap Ashel.
"Ah-nya cuma sekali?" Tanya Kavin.
"Ish, mas," geram Ashel. Ia pun menarik suaminya untuk duduk. Baru ia yang duduk.
Baby's anteng bermain di taman bermain bersama susternya. Sudah masuk waktu makan siang, waktunya mereka makan lagi. Ashel memanggil pelayan untuk memesan menu. Kavin sendiri meminta menu yang sama saja. Toh ia akan memakan semuanya.
"Yang, kalo semisal nih ya aku pergi ninggalin kamu sama cowok lain, kamu bakalan marah?" Tanya Ashel iseng.
"Jelaslah. Aku bakalan seret kamu ke kamar, gak bakalan aku ijinin kamu keluar kamar selama berhari hari. Anggaplah itu hukuman untuk kamu. Sedangkan pria-nya bakalan aku bunuh biar enggak ganggu hidup kita lagi," ucap Kavin.
"Sejak kapan kamu jadi psikopat?" Tanya Ashel.
"Sejak ada orang yang ganggu milik aku, maka mereka akan kehilangan nyawanya. Aku gak peduli soal kemanusiaan kalo buat orang kayak gitu. Kamu cuma milik aku, hanya aku yang boleh sama kamu begitu sebaliknya," ucap Kavin tanpa mau dibantah.
"Ututu, sayang deh sama kamu. Nanti sore barang dari Hermes dateng kesini. Bayarin ya?" Ucap Ashel.
"Gampang, asal jatah aja nanti malem. Kan kemarin enggak puas," ucap Kavin.
Ashel berbisik sembari mengecup pelan telinga suaminya dan sedikit meniupnya.
"Yang," geram Kavin.
"Yes daddy?"
"Bin*l ya sekarang," ucap Kavin. Ia merem*s paha istrinya untuk menyalurkan sesuatu yang bangun di bawah sana.
"Jangan bangun sayang. Disini banyak pengunjung loh, emang gak malu nanti kamu jalan dengan keadaan milik kamu membesar? Itu milik aku ya! Cuma aku yang boleh lihat dia kayak gitu," ucap Ashel.
"Astaga, makanya jangan mancing mancing yang. Udah tahu dia baperan," ucap Kavin.
"Iya iya ayang. Udah nih makan," ucap Ashel.
__ADS_1
"Suapin," pinta Kavin. Ashel pun menurutinya dan menyuapi suaminya dengan damai dan tenang tanpa gangguan anak anaknya. Ketiga anaknya sedang hiper aktif bermain.
Ling dan Briella bermain kuda kudaan yang ada disana sementara Kai bermain bola. Kai berlari kesana kemari sampai membuat suster Magi kerepotan.
Setelah Ashel dan Kavin selesai makan, ia meminta suster suster untuk makan dulu dan giliran Kavin dan Ashel yang menjaga anak anaknya. Ternyata Briella mengantuk jadi ia meminta digendong papinya. Ling sejak tadi anteng duduk bersama maminya. Di tangannya ada dot susu formula sementara Kai, anak itu masih saja hiper aktif bermain.
***
Malam harinya di kediaman mansion Kavin, ketiga anaknya langsung tidur setelah mandi, makan dan minum susu. Mereka sepertinya kelelahan akibat bermain tadi siang. Para suster juga sudah tidur menjaga anak anak mereka.
Barang yang dimaksud Ashel benar benar datang. Sebauh hells kaca dari brand ternama sampai ke rumahnya. Sebenarnya dia sudah lama p.o dan baru sampai hari ini. Dengan mudahnya Kavin memberikan platinum card miliknya untuk membayar belanjaan istrinya. Kavin tidak pernah melihat harganya. Tugasnya hanya membayar barang istrinya.
Sesuai janji, Ashel sudah memakai lingerie hitam yang mencetak tubuhnya. Ia mengcurly rambutnya dan dibiarkan tergerai. Tidak lupa juga ia memakai parfume khusus untuk memancing nafsu suaminya yang gila.
Ashel berjalan keluar walk in closet. Disana ia melihat suaminya yang sepertinya sedang zoom meeting.
"Jahilin aja kali ya," gumam Ashel tersenyum devil. Ia pun berjalan melenggak lenggokan kakinya menuju ke arah suaminya. Ia berdiri di depan meja kerja suaminya.
Tatapan Kavin membulat melihat tampilan istrinya yang sangat sexy. Sungguh Kavin dibuat kepanasan saat ini. Sialnya ia tidak bisa berhenti zoom meeting karena ini meeting penting.
Kavin mematikan microfonnya sehingga orang orang di seberang sana tidak dapat mendengarnya.
"Kamu ngapain yang? Aku masih meeting," erang Kavin.
"Katanya mau jatah, ya udah aku pake baju ini aja. Kalo masih zoom ya zoom aja dulu," ucap Ashel. Tangannya terulur ke bawah meja untuk mengelus milik suaminya yang sudah mengeras.
Ashel menurunkan tinggi badannya menjadi duduk di sebelah Kavin yang duduk di kursi kerjanya. Ia pun sedikit menggeser kursi suaminya sehingga ia bisa masuk ke bawah meja dan berhadapan langsung dengan milik suaminya.
Suaminya hanya menggunakan celana boxer yang longgar. Tangan Ashel bisa masuk dengan leluasan dan mengelus pelan milik suaminya dibalik boxer yang ia pakai. Kavin menggeram tertahan. Bagaimana pun ia harus fokus pada meeting-nya.
Ashel mulai menarik celana boxer suaminya berikut dengan boxer yang sudah mengetat. Kavin selalu melarangnya melakukan blow j*b, padahal Ashel juga ingin membuat suaminya merasakan kenikmatan.
"Jangan sayang," geram Kavin. Ia tidak bisa bergerak karena masih zoom.
__ADS_1
"Jangan larang aku kali ini," ucap Ashel. Ia pun bermain main dengan milik suaminya.
Tbc.