My Little Wife

My Little Wife
23. Who?


__ADS_3

"Eh! Regina? Kamu dari mana, Reg?" Pertanyaan bodoh Vanes keluar hingga membuat Regina heran.


Regina tampak terbengong. "Kan kamu tahu kalau aku tadi pamit ke kamar mandi eh toilet."


"Oh iya ya."


"Kamu kenapa sih?" Tanya Regina. "Eh iya. Di UKS ada Pak Juna. Dia pingsan."


Kenzo menatap keduanya. Kemudian dia memilih untuk pamit pergi. Untung tadi Kenzo tidak melakukan hal lebih karena tempat sepi.


Jika sampai ketahuan, tamatlah riwayatnya.


***


"Juna!" Seru Selena saat Juna masuk ke ruangannya. Tatapan tak bersahabat Juna terpancar. "Kamu kenapa lagi sih?"


"Nggak usah sentuh aku!" Juna menangkis tangan Selena yang hendak menyentuh pipinya.


Selena tiba-tiba menangis. Tentu saja Juna terkejut. Dia langsung merengkuh Selena ke dalam pelukannya. Juna lupa jika Selena sedang hamil.


"Jangan menangis, Selena!" Kata Juna lembut.


Selena mengeratkan pelukannya. "Kamu jangan jahat-jahat sama aku."


"Iya. Maaf." Juna mengelus puncak kepala Selena. Jika seperti ini, dia ingat perlakuannya dengan Vanes dulu.


Ah sudahlah! Juna tahu Vanes hanyalah seorang gadis SMP. Tapi, gadis SMP itu mampu membuatnya merasakan seperti anak remaja. Dia sangat mencintai gadis kecil itu. Tak peduli lagi dengan pandangan orang. Jika dia sudah suka. Maka akan selamanya akan di sukai olehnya.


Dan, Bagi Juna, Vanes adalah miliknya. Miliknya seorang. Walaupun Juna tahu jika Vanes adalah istri Kenzo. Baginya, lelaki itu adalah musuh.


"Kamu masih mau mengejar gadis kecil itu?" Tanya Selena di sela-sela isak tangisnya.


Juna mengangguk mantab. "Iya. Aku harus mendapatkannya."


Selena sesegukan. "Bagaimana dengan anak yang sedang aku kandung, Jun? Ceroboh kamu! mengeluarkannya di dalam!"


Juna hanya diam saja.


"Aku mau kamu nikahi aku, Jun. Aku nggak mau dikira yang tidak-tidak oleh orang lain. Aku mau kamu tanggung jawab!"


Juna dapat mendengar aura keseriusan dari nada bicara Selena. Jika dipikir-pikir, Selena berucap benar. Anak yang di kandung oleh Selena pasti adalah anaknya. Dan, Juna tidak boleh lari dari tanggung jawab. Dia memang tidak mencintai Selena, dia hanya mencintai calon anaknya itu.


Dengan berat hati, Juna menjawab, "Iya. Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahimu."


Juna lupa dengan Nesya. Nesya yang sedang kesakitan saat proses buruk itu.


***


Kenzo menghampiri istri kecilnya yang sedang duduk di balkon sambil membaca buku. Senyum Kenzo tersungging, rupanya, Vanes tak menyadari kedatangannya.


"Serius amat kalau baca buku?" Kenzo mencium pipi kanan Vanes.


Vanes terkejut kemudian segera mendongak. "Eh? Kak Kenzo?"


Kenzo kembali tersenyum. Vanes menutup bukunya kemudian pandangannya terfokus kepada Kenzo. Vanes tidak menyangka jika lelaki yang ada di hadapannya ini adalah suaminya. Lelaki yang awalnya dianggap sebagai kakak sekarang duduk di hadapannya dengan status suami. Walaupun siri.


"Aku mau bilang sesuatu."


Angin malam yang tenang menyentuh kulit Vanes yang putih. Vanes mengusap kedua tangannya. "Bilang apa?"


"Juna akan menikah."


*Deg!


Juna akan menikah. Dengan siapa? Nesya*?


"Dengan siapa?"


"Sekretarisnya." Jawab Kenzo singkat.


Vanes terdiam. Tiba-tiba hatinya merasa sakit. Juna akan menikah. Dia jadi teringat masa lalunya saat dia menjadi kekasih Juna dulu. Kenzo memeluk Vanes ketika melihat gadis itu nampak kedinginan.


"Kenapa?"


Vanes terenyak. "Nggak. Terus Nesya gimana?"

__ADS_1


"Aku masih nggak tahu tentang itu."


"Kapan Juna akan menikah?" Nada bicaranya berubah menjadi datar dan tak bersemangat.


"Tiga minggu lagi." Jawab Kenzo.


"Oh." Vanes berdiri dari duduknya. "Ayo tidur. Besok, Kak Kenzo harus pergi ke kantor kan? Aku besok mau ke rumah Mama. Besok kan sabtu."


"Ayo. Iya, aku antar kamu."


Kenzo dapat merasakan perubahan sikap istrinya. Pikiran negatif bermunculan. Dia takut jika Vanes akan cemburu menerima kabar itu. Namun, dia tidak boleh berpikiran negatif kepada Vanes. Dia harus percaya.


Kenzo memang sudah sepenuhnya mencintai Vanes. Tapi, Dia tidak tahu dengan perasaan gadis itu. Apa benar gadis itu juga mencintainya? Atau hanya sekedar pelindung?.


***


Malam ini, Dylan dan Tasya sedang berjalan di sekitar tempat tinggalnya. Sekedar untuk refresh. Mereka berdua rindu dengan anak semata wayangnya.


"Aku rindu Vanessa." Cetus Tasya.


Dylan merangkul bahu Tasya. "Aku juga merasakan hal yang sama."


"Tolong aku.."


Dylan dan Tasya saling pandang saat mendengar suara lirih itu. Tasya merapatkan tubuhnya ke Dylan. Takut jika itu penjahat atau hantu. Berbeda dengan Dylan. Pria itu mendekat ke sumber suara.


Saat tiba di salah satu semak belukar, mereka berdua melihat seorang anak perempuan yang memakai kebaya putih sedang menangis sambip menunduk.


Dylan memegang pundak anak perempuan yang di tafsir umurnya sebaya atau dua tingkat diatasnya. Perempuan tersebut terkejut.


"Ja..Jangan.."


"Tenang, Nak. Kami orang baik. Kamu butuh pertolongan? Kami akan membantumu." Suara keibuan Tasya keluar. Dia langsung menjajarkan posisinya yang sama dengan anak perempuan itu.


"To..Tolong..aku. Aku ng..nggak mau menikah."


"Siapa namamu?" Tanya Dylan.


"Hana."


***


"Hana..kamu minum tehnya ya!" Suruh Tasya sambil mengelus puncak kepala Hana.


Hana tampak malu-malu. Dia tertegun dengan rumah pasangan suami-istri yang berbaik hati menolongnya ini. Baginya, rumah ini terlalu besar. Dia ikut tersenyum ketika Tasya melemparkan senyum ke arahnya.


"Hana?" Panggil Dylan. "Kenapa kamu bisa berada disini?"


Hana menunduk. "Saya dari desa kecil. Saya yatim piatu yang di bebani oleh hutang-hutang kedua almarhum kedua orang tua saya. Hingga ada saudagar yang menagih hutang. Saya nggak punya uang, terus saya dipaksa menikah dan di suruh berhenti sekolah."


"Hana..Kamu masih mau sekolah?" Tanya Dylan. Dia sungguh iba mendengar cerita Hana. Tak terbayang jika Vanes seperti itu.


Hana mengangguk. "Saya mau, pak."


Tasya pindah duduk di sebelah Hana. "Hana sayang..Kamu tinggal disini ya? Tinggal sama kita berdua. Mau ya?"


"Saya takut merepotkan kalian." Jawab Hana sungkan.


"Tidak." Jawab Dylan. "Tinggalah disini. Saya akan mengangkatmu sebagai anakku."


Tasya berseri. Dia sependapat dengan suaminya. "Iya. Jangan sungkan. Anggap kita sebagai orang tuamu."


"Kamu sekarang tidur saja ya? Sayang, bawa Hana ke kamarnya Vanessa ya?"


Tasya mengangguk.


***


"Aku sangat suka melihat Tuan Kenzo dan Nyonya Vanessa, mereka berdua pasangan yang unik."


"Iya. Setidaknya Tuan Kenzo sudah lupa dengan masa lalunya."


Vanes yang tak sengaja menangkap pembicaraan kedua pelayan, Ani dan Sari langsung terkejut ketika Sari menyebutkan kata 'masa lalu'. Siapa yang disebut oleh Sari?


"Sari?" Panggil Vanes sambil berjalan masuk ke dalam dapur.

__ADS_1


Lantas, keduanya langsung tergelak. "Nyonya? Anda sudah bangun?"


"Iya." Jawab Vanes acuh.


Ani, Sari dan lainnya kemudian sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Vanes mengawasi mereka. Terlebih lagi Sari. Matanya terus mengawasi Sari layaknya Sari adalah mangsanya.


Kenzo kemudian memeluknya dari belakang kemudian mencium leher jenjang Vanes. Vanes terkejut.


"Kak Kenzo? Bikin kaget aja."


Kenzo tersenyum. "Kamu kaget ya? Maaf."


"Nggak mau." Vanes menjulurkan lidahnya.


"Kok gitu? Jahat gitu." Kenzo manyun.


"Kak Kenzo nanti aku suruh tidur di luar loh." Ancam Vanes.


"Jangan dong.."


Mereka berdua jadi pusat perhatian para pelayan. Hingga salah satu dari mereka menjatuhkan panci karena melihat kemesraan mereka. Tuan mereka yang biasanya bersikap elegan dan dingin kini sedang bersikap melas.


"Eh?" Kaget mereka.


Kenzo langsung membawa Vanea ke ruang makan sambil menunggu sajian sarapan. Setelan jas kantornya melekat keren di tubuhnya. Kenzo terlihat semakin tampan jika sudah dengan setelan jas kantornya.


"Kamu nanti mau ke rumah Mama?" Tanya Kenzo.


"Iya." Singkat Vanes.


"Jangan bawa mobil sendiri. Minta antar sopir!" Nada Kenzo mulai tegas.


"Iya suamiku."


"Good."


Kenzo kemudian mengeluarkan ponselnya ketika berdering. Dia beranjak dari duduknya. Menjauh agar percakapannya tidak di dengar oleh Vanes. Vanes dapat melihat wajah suaminya itu serius dan tegang. Disitu, Vanes mulai khawatir.


"Sayang, aku harus segera ke kantor." Kenzo mencium puncak kepala Vanes.


"Nggak sarapan?"


"Sarapan di kantor." Jawab Kenzo kemudian melenggang pergi.


Vanes cemas. "Hati-hati." Lirihnya.


***


Tak henti-hentinya Vanes memaki kesal karena jalanan yang macet. Sudah di tinggal Kenzo. Dia juga harus menghadapi jalanan yang macet ini.


Vanes menyesal tidak menuruti ucapan Kenzo. Dengan nekadnya dia mengendarai mobil sendiri ke rumah kedua orangtuanya.


Setelah 35 menit menempuh jalanan yang macet, Vanes sampai di rumahnya. Dia memakirkan mobil di halaman rumah. Tepat di samping mobil Dylan. Dia terkejut ketika melihat Tasya dan seorang perempuan sedang berkebun.


"Mama?" Panggil Vanes.


Tasya terkejut. Dia berdiri kemudian menghampiri Vanes. "Vanessa!" Raut wajah Tasya nampak girang.


"Dia siapa, Ma?" Vanes menunjuk perempuan tersebut. "Pelayan baru, Ma? Kok muda banget? Pengganti Sinta?"


"Hus. Bukan. Dia bukan pelayan, sayang."


Vanes menaikkan alisnya. "Lah terus?"


"Dia Hana. Kemarin malam Papa sama Mama mengangkatnya sebagai anak. Nggak pa-pa kan? Dia tidurnya di kamar kamu, soalnya kamar tamu belum di beresin."


"HAH?"


Vanes tak terima.


Dia tidak terima jika kedua orang tuanya mengangkat anak tanpa berdiskusi dengannya.


Dia juga tidak terima jika kamarnya di pakai dengan orang asing.


Vanes menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dia ingin protes kepada sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2