My Little Wife

My Little Wife
Bab 210 : Email


__ADS_3

Happy reading♡


Rafello masih berada di apartement Ayu, ia bahkan memesan makanan dan cemilan untuk diantarkan ke apartment Ayu.


Saat ini, Rafello tengah makan sushi yang ia pesan. Ia sudah memaksa Ayu untuk memakan yang lainnya karena makanan yang ia beli cukup banyak, namun anak itu hanya fokus pada ponselnya.


"Gue itu beli ini pake duit buka daun. Makan!" Ucap Rafello sedikit kesal karena Ayu terus fokus pada ponselnya.


"Lo kalo mau makan ya tinggal makan yang anteng. Masalah gue mau makan apa enggak itu terserah gue, lagian gue gak nyuruh lo beli makanan ini," ucap Ayu.


"Dasar cewek, diperhatiin sama gue bukannya baper malah ngamuk," gumam Rafello yang masih bisa didengar oleh Ayu.


"Cowok kok hobinya ngedumel kayak gitu," ucap Ayu. Ia berdiri meninggalkan Rafello.


"Heh anjer, lo mau kemana? Kok ninggalin gue?" Tanya Rafello.


"Diem deh Raf, gue lagi hubungin Ashel. Dia belum ada kasih kabar, kan gue khawatir," ucap Ayu.


Rafello menghela nafasnya. Ternyata sebegitu dekatnya hubungan persahabatan Ayu dan kakak iparny, Ashel.


"Lo duduk deh, gue coba tanyain sama abang gue," titah Rafello. Ayu pun mengangguk. Siapa tahu suami sahabatnya ini bisa dihubungi. Jujur saja Ayu sangat khawatir dengan keadaan Ashel. Apalagi saat tadi kelas online, dosen mengatakan jika Ashel ijin sakit.


"Hallo bang," ucap Rafello saat panggilannya tersambung. Ayu berjalan mendekat ke arah Rafello dan duduk disebelahnya. Ia juga mendekatkan telinganya ke dekat ponsel Rafello yang berada di telinganya.


"..."


"Enggak sih, Fello cuma mau tanya kalian dimana? Tadi di penthouse kalian gak ada. Kata bi Sati kalian pergi sejak kemarin," ucap Rafello. Ia memang tadi mengunjungi rumah kakaknya. Namun mereka tidak ada. Jadi Rafello berakhir di rumah Ayu.


"..."


"Ya udah kalo gitu. Bye bang."


Telepon pun terputus. Ayu hendak bangun dari posisinya namun dengan cepat Rafello menahannya. Ia bahkan menarik Ayu ke atas pangkuannya.


"NGAPAIN SI LO JING?! AWAS," teriak Ayu.


"Sstttt, jangan banyak gerak. Lo lagi di duduk di daerah rawan," bisik Rafello di telinga Ayu.


Tubuh Ayu yang sangat kecil. Sama kecilnya seperti Ashel. Itu sebabnya membuat Rafello mudah menarik tubuhnya.


"LEPAS GAK? GUE TERIAK NIH," ancam Ayu.

__ADS_1


"Lo udah teriak babe. Lagian emang lo mau dipergokin lagi di posisi kayak gini? Palingan mereka ngiranya kita pacaran," ucap Rafello.


***


Setelah mengatarkan istrinya ke kamar mandi, Kavin bergegas untuk membereskan kamarnya yang sangat berantakan seperti kapal pecah.


Namun tiba tiba ada panggilan dari adiknya jadi ia mengangkatnya terlebih dahulu.


Setelah selesai ia kembali membereskan tempat tidur. Ia menarik sprei yang sudah kumal dan sangat lecek. Disana juga ia melihat noda merah seperti darah yang sudah mengering.


"Ternyata rasanya gitu ya. Enak, tapi gak bisa cepet cepet. Istri gue belum terbiasa. Mana tadi malem dia minta gak jadi setelah liat ukuran gue," gumam Kavin. Ia pun melipat sprei itu dan membawanya pulang. Ia tidak mungkin meninggalkan benda itu. Apalagi disana ada darah virgin istrinya.


Selagi menunggu istrinya keluar, Kavin rebahan sembari memainkan ponselnya. Ia sudah memasang sprei baru. Sengaja ia tidak meminta orang lain untuk memasangnya. Karena ia tidak mau mereka melihat noda itu.


Posesif memang. Namun apa boleh buat.


Sejak Ashel berusia lima tahun, anak itu sudah bermain dengannya. Kadang Kavin sering dibuat jengkel dengan tingkahnya waktu itu.


Jika diingat ingat lucu juga. Karena Kavin tidak mau bermain dengan Ashel, waktu itu ia sampai pura pura tidur.


Jahat memang, Ashel sudah jauh jauh dari rumahnya untuk main dengannya tapi setelah sampai di rumahnya ia malah membohonginya.


Namun saat Ashel akrab dengan adiknya Rafello, Kavin tidak suka. Ia bahkan menyesal karena waktu itu berpura pura tidur. Alhasil setelah itu, Ashel tidak mau bermain dengannya lagi.


"Loh? Kok gak manggil aku? Emang gak sakit dipake jalan?" Tanya Kavin. Ia bangun dan mengecek keadaan istrinya.


"Mas, aku baik baik aja," ucap Ashel. Ia menahan tangan Kavin yang akan memeriksa tubuhnya.


Kavin membawa Ashel duduk di kasur. Ashel duduk perlahan karena miliknya masih terasa perih.


"Kamu mandi dulu sana. Air bathup udah aku isi, siapa tahu kamu mau berendam," ucap Ashel.


"Nanti. Aku olesin salep dulu ke punggung kamu sini. Tadi aku liat punggung kamu luka sama lebam lebam," ucap Kavin.


"Kan ulah kamu. Kamu brutal banget, aku sampe kewalahan," ucap Ashel.


"Ya maap yang. Salah siapa kamu enak banget. Nyesel aku dulu so soan nolak padahal pengen banget," ucap Kavin. Ia berjalan ke belakang istrinya dan membuka bathrobe yang digunakan oleh Ashel. Disana terdapat luka yang cukup banyak. Apalagi lebam lebamnya.


"Munafik sih," ucap Ashel.


Kavin meringis ngilu saat melihat punggung istrinya. Ia bahkan mengabaikan ucapan istrinya.

__ADS_1


"Tahan dikit yang, takutnya perih," ucap Kavin.


"Iya."


Kavin mulai mengoleskan salep ke punggung istrinya yang lebam lebam. Sedangkan lukanya ia oleskan obat merah menggunakan kapas.


Ashel sama sekalin tidak meringis. Rasanya biasa saja.


"Dosen kasih aku tugas?" Tanya Ashel.


"Iya. Nanti kamu cek email aku aja, aku suruh paman kirim tugasnya ke email aku," ucap Kavin.


Ashel mengangguk. Setelah selesai, kini giliran Kavin yang mandi. Sedangkan Ashel berganti baju dan mengeringkan rambutnya yang basah.


"Ini Ayu hubungin gue sampe berkali kali? Ada apa ya? Tumben banget," gumam Ashel. Ia sudah duduk anteng diatas kasur dengan laptop dan buku buku pelajaran miliknya.


Ia pun mendial nomor Ayu.


"Ada apa cok? Kangen aku?" Tanya Ashel pede.


"Heh anjer, lo kemane aje? Kagak masuk kelas online lo. Mentang mentang pinter," semprot Ayu.


"Iyalah, gue pinter. Emang lo," ucap Ashel tertawa.


"Ya allah, gini amat punya besti. Tapi lo dimana nge? Lo baik baik aja kan?" Tanya Ayu.


"Baik lah. Kan gue sama suami gue, yakali kagak baik," ucap Ashel.


"Ya syukur kalo gitu. Gue cuma khawatir aja," ucap Ayu.


"Gue baik baik aja Yu. Yaudah kalo gitu gue lanjut kerjain tugas dari dosen, bye," ucap Ashel.


Telepon pun terputus. Ia kembali membuka email milik suaminya.


Disana ia mencari email dari dosennya. Terlalu banyak email yang masuk sehingga Ashel sedikit kesusahan mencarinya.


Namun matanya menangkap sebuah email dari Ardian, kakak sepupunya.


"Mas, aku buka email dari abang ya. Makasih," ucap Ashel.


Ia pun melihat isi email yang dikirimkan oleh Ardian. Isi dari email itu cukup membuat mata Ashel membulat.

__ADS_1


Tbc.


Ramein gyys. Kalo ada typ maap yyyy.


__ADS_2