My Little Wife

My Little Wife
Bab 181 : Bangga Memiliki mu


__ADS_3

Happy reading♡


Sejak beberapa jam yang lalu Ashel tidak henti hentinya muntah tidak jelas. Kavin dengan setia memijat kepala belakangnya.


"Udah dong yang. Aku gak tega lihat kamu kayak gini," ucap Kavin.


Ashel tidak menjawabnya. Ia masih sibuk muntah. Namun tidak ada apapun yang keluar. Rasanya sangat mual sekali sehingga Ashel ingin sekali muntah.


"Aku ambilin air hangat dulu ya. Bentar," ucap Kavin. Ia pun pergi dari kamar mandi menuju ke luar kamar. Tadi ia sudah menelepon petugas hotel untuk membawakan air putih hangat serta sarapan.


Ashel masih mual sebenarnya. Namun ia tidak lagi menundukan kepalanya ke wastafel. Rasanya sangat lemas. Ia pun terduduk di lantai. Saat ini ia menggunakan kemeja besar milik Kavin.


Ia masih terbayang bayang kejadian tadi. Dimana ia membantu milik Kavin untuk mendapatkan klimaksnya. Dan ternyata bentuknya seperti itu. Ashel tidak pernah menyangka.


Milik Kavin sebesar itu. Mengingatnya membuat Ashel kembali mual. Ia pun kembali muntah namun tidak ada yang keluar.


Kavin buru buru membawa segelas air hangat ke kamar mandi.


"Yang, ini minum dulu biar gak mual terus," ucap Kavin. Ashel pun menerimanya dan langsung meminumnya. Kavin membantunya mendekatkan gelas itu ke dekat mulut Ashel.


Ashel meneguk air itu sampai habis tak tersisa. Tubuhnya mendadak sangat lemas sekali. Ia pun menjatuhkan tubuhnya kepada Kavin. Dengan sigap Kavin menahannya dan menggendongnya kembali ke kasur.


Ashel ditidurkan Kavin. Ternyata efeknya sangat besar sekali untuk Ashel. Ia kira awalnya tidak akan seperti ini. Bodohnya ia juga karena memaksa Ashel menelan cairan miliknya.


Ashel memejamkan matanya. Ia masih syok karena kejadian beberapa jam yang lalu.


"Maaf, aku salah karena paksa kamu telen itu," ucap Kavin.


Ashel menggeleng. Bagaimana pun ia tidak bisa menyalahkan Kavin. Seharusnya yang salah disini adalah Ashel. Karena ia belum bisa memberikan hak Kavin.


"Janji gak gitu lagi," ucap Kavin.

__ADS_1


Ashel bergerak memeluk tubuh Kavin. Ia menghirup aroma maskulin dari tubuh Kavin. Itu membuatnya sedikit membaik dan mualnya tidak begitu terasa lagi.


"Kamu mau apa biar gak mual lagi?" Tanya Kavin. Tangannya mengusap usap lembut punggung Ashel. Tubuh Ashel sangat menempel pada tubuhnya.


"Mau peluk kamu aja. Aroma tubuh kamu buat mualnya sedikit menghilang," ucap Ashel.


"Maafin aku ya. Janji gak maksa kamu lagi buat bantuin aku," ucap Kavin menyesal.


Ashel mengurai pelukannya. Ia menangkup wajah Kavin dengan kedua tangannya.


"Sayang, kamu gak salah. Yang salah disini aku, karena aku belum bisa kasih hak kamu. Aku minta maaf," ucap Ashel. Jujur saja ada rasa bersalah di hatinya karena ia belum bisa memenuhi kewajibannya pada Kavin.


"No. Kamu gak salah yang. Aku paham kalo kamu belum siap," ucap Kavin.


Ashel menyandarkan kepalanya bahu Kavin. Ia kembali memeluk tubuh Kavin dari samping.


Ia memejamkan matanya. Ingatan mengenai ucapan bunda dan mama mertuanya kembali muncul. Sehari sebelum Ashel menikah bundanya pernah berkata.


Itu yang diucapkan oleh Anna pada Ashel. Sehari sebelum ia menikah, Adi dan Anna meminta mereka untuk tidur bersama. Sebelum Adi datang ke kamar Ashel, Anna lebih dulu berkata seperti itu padanya.


Dan di hari pernikahannya. Sarah yang sekarang menjadi mama mertuanya juga menyampaikan sesuatu padanya yang membuatnya bangga pada Kavin.


"Selama ini Kavin mengidap hyper s*x. Hebatnya dia tidak pernah melampiaskan hasratnya pada wanita pelac*r di luar sana. Ia menahannya dengan bantuan obat obatan. Itu sebabnya ia jarang dekat dengan wanita tapi bukan berarti dia itu belok. Dia hanya menjaga dirinya agar nanti istrinya tidak kecewa dengannya karena sudah tidak perjaka lagi. Mama mengetahui hal ini, dan mama memaksanya untuk segera menikah agar Kavin terhindar dari obat obatan itu. Karena bagaimana pun setiap obat pasti memiliki efek samping yang berkepanjangan jika di konsumsi begitu lama. Mama harap kamu mengerti."


Begitulah yang diucapkan oleh Sarah padanya. Ucapdn tulus seorang ibu tentang anaknya. Ashel sangat bangga pada Kavin. Karena sebelum Sarah menjelaskannya, Kavin lebih dulu membicarakannya.


"Kamu boleh ambil hak kamu. Aku gak akan nolak lagi," ucap Ashel tiba tiba membuat Kavin mengernyit.


"Maksud kamu?" Tanya Kavin.


Ashel mengangkat tubuhnya dari pelukan Kavin. Matanya menyorot ke arah mata Kavin.

__ADS_1


"Aku siap sayang. Lakukan agar kamu tidak perlu mengkonsumsi obat obat itu lagi," ucap Ashel.


Kavin terdiam mendengar ucapan Kavin. Ia juga melihat ke arah mata Ashel. Tidak ada kebohongan disana namun sepertinya istri kecilnya ini masih belum siap.


Kavin memang sangat ingin melakukannya namun ia tidak boleh egois. Bagaimana pun ia juga harus memikirkan kenyamanan Ashel, istrinya.


Kavin memegang kedua bahu Ashel, "Sayang, dengerin aku."


"Aku gak pernah masalah soal obat obatan itu karena aku sudah terbiasa dengan obat obat itu setiap harinya. Kamu tidak perlu memaksakan diri jika memang kamu belum siap. Aku bisa mengerti hal itu," ucap Kavin.


"T-tapi a-ku gak bi-sa lihat k-kamu makan obat itu la-gi," ucap Ashel terbata bata.


"Sssttt, gak papa sayang. Aku gak mau egois. Aku gak mau kamu gak nyaman sama aku," ucap Kavin. Ia menarik Ashel untuk menengkan gadisnya. Ashel tiba tiba saja menangis.


"Jangan menangis sayang. Kamu tahu, kejadian tadi saja aku sangat senang dan bahagia ketika mengingatnya. Bagaimana tidak, karena kamu mau membantu ku. Selama ini aku selalu melakukannya sendiri," jelas Kavin.


"Tapi tetep aja aku gak kasih hak kamu," ucap Ashel purau.


"Aku bilang apa sayang? Enggak papa. Aku gak masalah soal itu. Aku mengerti. Lebih baik seperti ini dari pada aku memaksa kamu. Akan terasa tidak adil bukan jika aku menikmatinya sedangkan kamu tidak?" Tanya Kavin.


"Gak papa yang penting kamu menikmatinya dan berhenti meminum obat obat itu lagi."


"Gak bisa gitu sayang. Kamu gak boleh egois dong sama diri kamu sendiri. Aku sayang sama kamu, aku bisa mengerti hal itu sayang," ucap Kavin. Ia terus berusaha menjelaskannya pada Ashel pelan pelan agar anak ini mengerti.


Kavin tahu seperti apa perasaan Ashel saat ini, antara harus memaksakan dirinya disaat dirinya belum siap.


"Aku bangga memiliki mu sebagai suami ku, sayang." Ucap Ashel.


Tbc.


Aing kira besok tgl 31, taunya tgl 1😭

__ADS_1


3 bab lagi belum terpenuhi. Smg malam ini bisa ke post😭😭🙏


__ADS_2