My Little Wife

My Little Wife
Bab 245 : Satu Hari Bersama Nando


__ADS_3

SALTO🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️


KEMARIN LUPA SALTO, JADI SALTONYA BANYAK YYYAAA


.


.


.


Happy reading♡


"Loh, Ashel?!"


Ashel menolehkan kepalanya saat mendengar namanya di sebut. Di belakangnya berdiri Nando.


"Iya apa? Mau buah? Beli aja sana," ucap Ashel cuek.


"Buset, gitu amat lo," ucap Nando. Ia ikut duduk di depan Ashel.


Nando memperhatikan meja di depan Ashel. Disana ada tiga kotak buah buahan yang cukup besar. Namun yang tersisa tinggal beberapa biji buah saja.


"Lo sawan apa gimana? Gak eneg lo ngabisin sebanyak ini?" Tanya Nando.


Ashel menggelengkan kepalanya. "Justru gue masih laper."


Nando menganga mendengarnya. Tubuh sekecil ini ternyata makan banyak juga.


"Serius? Lo masih laper?" Tanya Nando.


Ashel menganggukan kepalanya. Rasanya tiga kotak buah saja tidak cukup.


"Pengen jajan lagi, tapi cape kalo jalan pake scoter," ucap Ashel.


"Bilang aja lo mau dianterin. Yaudah ayo cabut, tapi gimana sama suami lo? Dia kagak marah kan kalo lo pergi sama gue," ucap Nando.


"Kagak usah dipikirin. Lo mending anter gue ke tempat tempat yang banyak makanan enaknya. Tapi maunya street food," ucap Ashel.


"Yaudah ayo kita cari," ucap Nando.


Ashel pun berdiri dari duduknya, namun sebelum pergi ia membuang sampah bekasnya makan ke tempatnya. Nando tersenyum kecil melihat tingkah Ashel yang menurutnya menggemaskan.


Tubuh kecilnya tenggelam karena sweter yang ia pakai. Apalagi rambutnya yang acak acakan tak terikat rapih semakin membuatnya gemas. Pipi gembul itu, rasanya Nando ingin selalu menatap wajah Ashel. Namun kenyataanya tidak seperti itu.


"Nan cari telor gulung disini dimana? Cilok, cilor, pentol bakar. Pengen banget makanan kayak gitu," ucap Ashel.


Nando kicep seketika.


Ini bukan Indonesia. Makanan seperti itu jelas sulit di dapatkan. Ada ada saja wanita satu ini.

__ADS_1


"Yang bener aja anjir, ini Boston bukan Jakarta apalagi Bandung. Nyari gituan susah, kalo ada pun pasti rasanya beda," ucap Nando.


"Ya kan siapa tahu aja," ucap Ashel.


Nando menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Ia pun membantu Ashel memasukan scoter miliknya ke bagasi mobil.


Setelah scoter masuk, kini Ashel dan Nando pun masuk. Nando akan membawanya ke jajanan street food yang letaknya tidak jauh dari sana.


"Kalo aja ini Korea, pasti enak enak jajanan street foodnya. Pengen ke Korea," ucap Ashel.


"Makin ngadi ngadi aje mau lo. Heran gue," ucap Nando.


Ashel cemberut. Ia mengelus perutnya yang lapar. Lagi lagi kelaparan melanda dirinya. Padahal tiga kotak buah sudah ia habiskan.


Nando memarkirkan mobilnya saat ia sudah sampai di tempat tujuan mereka. Mereka berdua keluar dari dalam mobil.


"Ini sih yang sering gue datengin. Kalo gak salah waktu itu juga lo pernah kesini deh, pas awal awal."


"Iya gitu? Gue lupa," ucap Ashel. Ia berjalan menyusuri beberapa stand street food yang ada di depan matanya. Banyak sekali makanan disini.


"Gue mau itu, itu, itu, mmm, sama itu deh," ucap Ashel. Ia menunjuk stand burger, corndog, taco, dan minuman.


Ia pergi begitu saja meninggalkan Nando. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Nando. Yang ia pedulikan adalah makanan itu semua harus ada di tangannya saat ini juga.


"Heran sama cewek, banyak makan tapi maunya diet," gumam Nando. Ia pun mengikuti langkah Ashel.


Setelah menunggu dan mengantri beberapa kali, akhirnya Ashel mendapatkan makanan yang inginkan.


"Nyari tempat duduk aja. Males di mobil, gak leluasa."


"Oke."


Mereka berdua pun kembali berjalan untuk mencari tempat duduk kosong.


"Noh, disono kayaknya kosong."


"Yaudah kesana aja. Ini tolong bawain, cape gue," ucap Ashel memberikan semua jajanan yang ia beli. Nando hampir kewalahan sebab Ashel memberikannya tanpa aba aba.


Hampir saja jajanan itu berjatuhan. Namun dengan sigap Nando mengambilnya.


Ashel duduk anteng memakan makanannya sembari menonton mukbang di youtube yang ada di ponselnya. Sedangkan Nando sibuk dengan ponselnya. Bibirnya juga ikut bergerak karena mengunyah burrito yang ia beli tadi.


"Nan, lo pernah pulang ke Indo lagi gak?" Tanya Ashel.


"Pernah beberapa kali. Soalnya ada urusan mendadak," ucap Nando.


"Kangen Bandung deh. Apalagi cilok mang Mi'un. Kapan ya gue cobain cilok itu lagi," gumam Ashel.


"Ya lo tinggal bilang laki lo mau balik ke Indo. Laki lo kan tajir, yakali gak nurutin maunya lo. Secara kan lo istrinya," ucap Nando tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

__ADS_1


Sedangkan Ashel termenung. Jika saja Nando tahu keadaan rumah tangganya yang akan segera hancur.


Tapi lebih baik ia tidak tahu. Takutnya Nando kembali mengejarnya.


Bukan, bukan Ashel kegeeran karena Nando masih menyukainya. Hanya saja Ashel tidak mau Nando berharap lagi padanya.


"Kok diem? Napa? Ada masalah? Cerita aja siapa tahu gue bisa nambah beban masalah lo," ucap Nando tertawa. Tanpa sadar Ashel juga ikut tersenyum.


"Sembarangan kalo ngomong."


"Ya abisnya lo kayak istri yang kurang belaian. Segala keluar rumah gak sama laki, mana cuma pake scoter lagi. Kasihan banget," ucap Nando.


"Nan," panggil Ashel.


"Paan?"


"Gue seneng deh lo udah balik kayak dulu sebelum lo bilang lo suka sama gue. Gue seneng banget karena lo balik lagi jadi temen baik gue," ucap Ashel membuat Nando berhenti mengunyah.


"Gue udah bisa berpikir dewasa Shel. Justru gue bersyukur dengan gue suka sama lo, ternyata banyak banget pelajaran yang gue ambil."


"Halah, ngomong lo kayak gue ini guru aja," ucap Ashel.


"Serius. Gue makasih banget, dengan gue kenal lo gue semakin bisa berpikir dewasa dan gak gegabah dalam ngambil tindakan."


"Tuhan emang sengaja buat lo kayak gitu Nan. Biar lo tahu dan pikiran lo terbuka, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Ashel.


Nando menganggukan kepalanya dan kembali memakan burrito miliknya.


Sedangkan Ashel mengumpati dirinya sendiri. Bisa sekali ia berkata seperti itu padahal kenyataannya ia hampir mati karena masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


Satu jam berlalu, Nando sudah selesai dengan gamenya. Ia menggeliatkan tubuhnya dan melihat ke arah Ashel. Lebih tepatnya pada jajanan yang menumpuk di meja depan mereka.


Tadi jajanan itu masih banyak, tapi saat ini semuanya sudah habis dan hanya tersisa plastiknya saja.


"Gak sakit kan lo? Jajanan sebanyak ini lo abisin dalam waktu singkat?" Tanya Nando. Sebab setelah Ashel membeli empat jajanan yang tadi ia tunjuk, ia kembali membeli beberapa onigiri dan jajanan lainnya.


"Enggak. Gue mau pulang, anterin ya?" Pinta Ashel.


"O-oke."


Sedangkan di lain tempat, Kavin tengah menatap foto foto yang dikirimkan Jo melalui email. Disana banyak foto Ashel satu hari ini.


"Udah mulai berani ya?" Gumam Kavin.



...ASHEL NAMPAK BAHAGIA SAMA NANDO. Yeh, ini Ashel sama Nando...


Tbc.

__ADS_1


Ramein lah woeee😌🙏


Kalo ada typ ya maap, keyboardnya ngajak gelut.


__ADS_2