
Happy reading♡
Ashel langsung berjalan bersama Lupita dan Ardian menuju ke parkiran. Ling memang sudah menghentikan tangisnya namun sesekali ia kembali menangis saat luka lebamnya tertekan.
Di parkiran sudah ada kedua orang tua Ashel dan suaminya.
"Ling gak papa kan sayang?" Tanya Anna khawatir.
"Lebam bun, dia juga nangis lagi kalo lebamnya keteken," ucap Ashel.
"Astaga," ucap Anna.
"Ya udah biar baby's sama ayah sama bunda aja malam ini. Kamu fokus urus Ling aja ya sayang," ucap Adi.
"Iya yah, titip anak anak ya," ucap Ashel.
"Iya sayang," ucap Adi.
Ashel masuk ke dalam mobil suaminya. Ia langsung menuju ke rumah sakit untuk mengecek keadaan anaknya. Memang ada Lupita, tapi Lupita meminta Ashel membawa anaknya ke rumah sakit saja. Lupita merasa jika ditubuh anak kecil tadi tidak hanya ada lebam.
Sementara di pesta, beberapa orang Kavin sudah stand by untuk meringkus pria yang sudah membuat anaknya seperti ini. Ia masih belum mendapatkan laporan dari Josh mengenai cctv di ruangan itu.
Mobil yang ditumpangi Ashel dan Kavin pun sampai di rumah sakit. Ia langsung menuju ke dalam rumah sakit. Kebetulan dokter yang akan menangani anaknya adalah paman Kavin. Adik dari mamanya.
"Om, tolong periksa anak Kavin dengan baik. Dia kesakitan terus dari tadi," ucap Kavin. Mereka sudah berada di depan dokter Ari.
"Tenang Kav, om akan berikan yang terbaik untuk cucu om," ucap Dokter Ari.
"Ling gak mau lepas dari Riana om, gak papa kalo Ling diperiksa sambil dipangku sama Riana?" Tanya Ashel.
"Gak papa, kamu duduk di brankar aja. Tolong buka kemeja yang ada di tubuh Ling," ucap Dokter Ari.
Ashel pun perlahan membuka kemeja yang melekat di tubuh Ling. Bayi itu kembali menangis karena mungkin sakit.
"Terlihat dari luka lebam ini, sepertinya ini terjadi karena pukulan dan remasan pada pergelangan tangannya. Kulit bayi masih sensitif dan juga masih sangat rentan," jelas dokter Ari.
__ADS_1
"Tapi Ling akan sembuh lagi kan?" Tanya Ashel.
"Pasti sembuh Ria, tapi ini kenapa lebamnya sampai ke pipi?" Tanya dokter Ari. Ia mencoba meraba pipi Ling dan bayi itu menangis lebih kencang.
"Ternyata lebamnya tidak hanya ada di tubuhnya, tapi sampai ke pipi. Lebamnya belum terlihat saat ini tapi mungkin besok akan mulai terlihat jelas. Besok om akan periksa lagi, kamu nanti balurkan Ling salep pereda nyeri," ucap Dokter Ari.
"Iya om. Besok Riana hubungi om lagi," ucap Ashel.
"Makasih om. Besok tolong datang ke rumah Kavin aja untuk pemeriksaan Ling," ucap Kavin.
"Iya Kav. Besok om akan ke rumah kamu," ucap Dokter Ari.
Ashel dan Kavin pun keluar dari dalam ruangan pemeriksaan. Ling kembali memakai kemejanya dan sudah tertidur di pangkuan maminya. Diluar ruangan, Ardian dan Lupita menunggu mereka berdua.
"Gimana?" Tanya Ardian khawatir.
"Besok diperiksa lagi bang. Katanya lebam lebamnya keliatan besok baru ditindak lanjut lagi," ucap Ashel.
"Syukurlah. Tapi abang gak akan lepasin anak itu. Abang gak peduli dia adik dari Rafello atau bukan. Josh tadi kesini dan ngasih cctv ini. Sudah terbukti dia memang melakukan kekerasan pada Ling. Dan sialnya orang orang disekitar tidak peka jika Ling tidak mau digendong oleh dia," jelas Ardian. Ia menunjukan video di dalam ponselnya pada Ashel dan Kavin.
"Mas, anak kita," ucap Ashel. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada anaknya. Sementara Kavin mengepalkan tangannya. Selama ini tidak pernah ada yang berani bertindak seperti itu pada anak anaknya.
"Ar, suruh tangkap dia setelah acara selesai. Jangan beritahu siapa pun dulu sebelum besok. Gue mau lihat dulu luka lebam di tubuh anak gue baru gue bakalan tindak lanjut," ucap Kavin.
"Oke. Gue sama Lupi duluan. Lo hati hati baliknya," ucap Ardian.
"Sabar ya Shel, Ling pasti sembuh kok. Dia anak yang kuat," ucap Lupi.
"Iya kak."
Mereka pun berpisah disana. Ashel dan Kavin bergegas untuk pulang ke rumah mereka.
***
Acara resepsi pernikahan pun selesai sekitar pukul dua belas malam. Semua tamu undangan sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Kini tinggal keluarga saja yang ada disana dan segera bersiap pulang.
__ADS_1
"Ma, papa gak lihat Kavin sama keluarganya. Mereka kemana?" Tanya Faraz.
"Bener juga, mama saking sibuknya sampe gak lihat si kembar," ucap Sarah.
"Tadi Riana ajak Ling pergi waktu anaknya nangis tiba tiba. Katanya Ling paling anteng tapi tadi dia nangis kenceng banget," ucap Reza, papa Ayu.
"Kok bisa? Ling kan emang paling anteng. Kok bisa sih dia nangis kenceng. Mama kok jadi khawatir ya pah," ucap Sarah.
"Gak usah khawatir, anaknya lucu juga. Bagas suka anak kecil," ucap Bagas, adik Ayu.
Mereka pun menghentikan pembicaraan dan bersiap pulang. Namun sebelum itu Ardian datang dengan beberapa bawahan Kavin. Ia meminta bawahan itu untuk segera meringkus Bagas.
"Apa apaan ini? Lepasin," ucap Bagas.
"Bawa dia," ucap Ardian.
"Loh, bang Ardian kenapa dia dibawa?" Tanya Fello.
"Suruhan Kavin. Abang cuma bawa dia atas perintah Kavin," ucap Ardian.
"Tunggu dulu, ini ada apa? Kenapa anak saya dibawa?" Tanya Reza.
"Tenang saja, anak anda akan kami bawa dulu untuk diamankan. Mungkin pagi nanti keputusan akan keluar," ucap Ardian. Dia pun pergi dari sana membawa Bagas.
Sementara Ayu yang kebingungan pun langsung meminta Fello untuk pergi ke rumah Ashel untuk menanyakan maksud ini semua. Ayu sangat menyangi bagas adiknya.
"Kavin tidak akan berbuat seperti ini jika tidak ada alasannya. Sesuai yang ia minta, kita tunggu besok. Adik kamu pasti baik baik saja," ucap Faraz.
"Enggak pah. Bagas gak pernah kemana mana selama ini, Ayu cuma khawatir sama dia. Ayo byy kita ke rumah Ashel," ucap Ayu.
Fello yang tidak bisa melihat istrinya khawatir pun langsung mengiyakannya. Sementara Reza dan istrinya Ayu suruh pulang saja. Begitu juga dengan Faraz dan Sarah, mereka memilih pulang saja meskipun sejak tadi perasaan Sarah khawatir tentang cucu cucu-nya.
"Kenapa abang kamu tangkap adik aku byy? Adik aku baik gak mungkin dia buat salah," ucap Ayu.
"Tenang sayang. Kita akan tanyakan alasan abang tangkap adik kamu, kamu tenang ya," ucap Fello.
__ADS_1
Tbc.