
Happy reading♡
Nadine termenung di ruangan pengap yang sempat ia tempati. Hidupnya benar benar hancur saat ini. Ia merasa, dirinya sudah seperti sampah.
Bagaimana tidak, ia kira penyiksaan yang dilakukan Ardian akan berakhir kemarin namun ternyata salah. Bahkan sampai saat ini ia masih terus digilir oleh para bodyguard itu.
Lama lama Nadine akan gila diperlakukan seperti ini terus. Sayangnya ia tidak bisa melakukan apa apa selain pasrah namun bukan berarti ia menikmati setiap sentuhan para bodyguard itu. Salah besar, Nadine justru merasa tersiksa karena ia tidak diberi jeda istirahat.
Setiap satu bodyguard selesai mendapatkan klimaksnya, tak berselang lama masuk lagi bodyguard yang berbeda.
Nadine tidak bisa melihat siapa saja yang melakukan itu padanya. Sebab tubuhnya menungging dan bertumpuan pada meja. Sedangkan kedua tangannya diikat disetiap sisi meja.
Nadine mengeluarkan air matanya. Ia sangat tersiksa sekali. Bahkan ia tidak menikmati percintaan itu. Namun ia tidak bisa bersuara sama sekali. Mulutnya sengaja di ditutup lakban agar tidak berisik.
Tak berselang lama, masuk lagi dua orang bodyguard. Nadine sudah pasrah. Ia tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang akan kembali di gilir.
Namun dugaannya salah, dua bodyguard itu melepaskan ikatan di tangannya dan pergi begitu saja. Nadine meregangkan otot di jari jari tangannya yang keram akibat terlalu lama diikat. Ia ingin bangun namun sangat sakit.
Tapi jika berlama lama dalam posisi seperti ini juga tidak baik. Nadine perlahan lahan bangun dengan tumpuan tangan pada meja yang tadi ia gunakan.
"Perih banget," gumam Nadine. Sebelah tangannya membenarkan posisi gaunnya. Ia pun duduk terkulai lemas di lantai.
"Gimana? Puas?" Tanya Ardian saat masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu menjadi terang saat ia masuk.
Nadine menatap benci ke arah Ardian yang tengah duduk di kursi yang ada disana. Ia berjanji akan membalas dendam pada Ardian dan juga wanita sialan itu.
"Itu belum seberapa. Gue kesini cuma mau ajak lo flashback ke masa lalu supaya lo tahu kenapa gue sampe lakuin hal kayak gini," ucap Ardian. Nadine hanya diam saja. Tubuhnya sangat lelah dan kehabisan energi saat ini.
"Lo inget sama wanita yang namanya Dian? Mungkin lo tahu soalnya scandal bokap lo diliput media," ucap Ardian.
__ADS_1
"Dian adalah bunda gue. Bunda yang udah ngelahirin gue ke dunia ini. Sialnya gue gak bisa lihat dia lagi sekarang karena apa, karena ulah bokap lo," jeda Ardian.
Nadine terdiam namun pikirannya berusaha mengingat sesuatu.
"Satu minggu setelah gue dilahirkan, bokap lo nyulik nyokap gue dan dia sekap nyokap gue. Lo bisa bayangin, bayi yang baru lahir satu minggu ke dunia udah harus pisah sama ibunya."
"Karena obsesi bokap lo sama nyokap gue, dia menghalalkan segala cara. Setelah nyulik nyokap gue, bokap lo perkos* dia dengan begitu keji. Setiap harinya nyokap gue dijadiin budak s*x sama bokap sialan lo itu. Hingga pada akhirnya nyokap gue gak tahan dan mutusin buat bunuh diri tapi gagal."
"Gue kira bokap lo bakalan selamatin nyawa nyokap gue karena dia sendiri yang larang nyokap buat bunuh diri, tapi ternyata salah. Lo tahu, bokap lo lempar nyokap gue ke tengah lautan luas dari atas helikopter," jelas Ardian mengingat masa lalunya.
Ia mengetahui ini saat ia berumur tujuh belas tahun. Ayahnya yang menceritakan semua kejadian ini padanya. Sebab pada saat itu, Marta, ayah Nadine mengaku pada polisi dan menceritakan semuanya.
Sedangkan Nadine terdiam. Ia tidak pernah tahu tentang hal ini. Selama ini yang ia tahu, papinya selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya.
"Umur kita gak beda jauh sebab satu minggu setelah gue lahir, lo juga lahir cuma ibu lo meninggal waktu ngelahirin lo. Marta emang udah mengakui semuanya tapi itu belum cukup sebelum dia hancur, mungkin nyawa dibayar nyawa," ucap Ardian. Ia kemudian pergi dari sana meninggalkan Nadine.
Dadanya terasa sesak mengingat cerita tentang ibunya di masa lalu. Ardian tidak pernah melihat sosok ibunya secara nyata. Namun beruntungnya saat itu, Anna, ibu Ashel merawatnya dengan baik.
"Papi sejahat itu? Dan Ardian melimpahkan semua dendamnya sama gue?" Gumam Nadine.
Ardian keluar dari dalam ruangan itu. Ia memerintahkan pada bodyguard untuk berjaga ketat di ruangan itu. Jangan sampai Nadine lolos.
Entah mengapa setiap mengingat kejadian masa lalu tentang ibunya, emosinya selalu mendidih.
Ardian sangat hancur saat mengetahui fakta tentang ibunya. Maka dari itu, saat ia kuliah Amerika, ia mulai mengenal dunia malam dan alkohol.
Sejenak Ardian bisa melupakan cerita tentang ibunya dan bisa kembali menjalani hidupnya dengan pelampiasan pada alkohol dan wanita.
Ini memang salah namun bagaimana lagi. Hanya dengan seperti ini Ardian bisa kembali hidup.
__ADS_1
"Gue gak bakalan biarin perusahaan Marta tetap berdiri. Gue harus hancurin hidupnya dia. Anaknya udah ada di genggaman gue. Selanjutnya mengambil semua saham milik gue yang ada di perusahaan Marta," ucap Ardian tersenyum licik.
***
Ashel terdiam mendengar ucapan Rafello. Apa mungkin ia hamil? Memangnya proses hamil secepat itu?
"Yang?" Panggil Kavin.
"Apa mas?" Tanya Ashel.
"Kita ke dokter aja ya buat mastiin kamu hamil atau enggaknya," ucap Kavin. Ashel menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin hamil. Bahkan beberapa minggu yang lalu ia baru saja haid ditambah lagi ia selalu rutin mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.
"Gak mungkin mas. Kan aku sering konsumsi obat yang kamu kasih. Masa iya aku hamil," ucap Ashel.
"Obat apaan?" Tanya Rafello.
"Pencegah kehamilan," ucap Ashel.
"Heh berdosa. Gak boleh kayak gitu anjir, kalian berdua sama aja menolak kehadiran malaikat kecil di perut Ashel," ucap Rafello.
"Bukannya menolak, tapi kita emang belum rencanain buat punya baby cepat cepat Fell. Lagi pula Ashel masih kuliah, abang gak mau membebani dia," jelas Kavin.
"Ya salah sendiri, ngapain nikahin Ashel cepet cepet bang," ucap Rafello. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan kedua pasutri itu.
Sedangkan Ashel terdiam setelah mendengar ucapan Rafello. Apa benar dengan mengkonsumsi obat pencegah kehamilan sama dengan ia menolak kehadiran malaikat kecil itu?
Tanpa sadar, Ashel mengelus pelan perutnya yang rata. Apa ia sejahat itu karena belum menginginkan seorang anak.
"Yang, jangan di dengerin ucapan dia. Jangan dibawa stress gitu ya. Inget sama kesehatan kamu. Aku gak masalah kamu mau nunda kehamilan sampe kapan pun itu yang penting kamu bahagia menjalaninya. Oke?" Ucap Kavin namun Ashel terdiam saja.
__ADS_1
Tbc.
Kalo ada typ maap y