
Happy reading♡
Ajeng dan Didi saat ini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Didi sengaja mengajak Ajeng untuk membelikannya gaun. Mengingat kemarin saat mereka mendapatkan undangan pernikahan Ashel, Ajeng sempat mengeluh karena dirinya tidak memiliki baju bagus ataupun gaun untuk datang ke acara pernikahan itu.
Didi menyodorkan beberapa gaun untuk Ajeng lihat. Setelah Ajeng menerimanya dan melihat label harganya ia membulatkan matanya karena harga gaun itu cukup untuknya jajan satu bulan.
Didi menyadari hal itu. Ajeng memang tidak terlalu suka memakai pakaian mahal. Ia pernah bilang, lebih baik uangnya di tabung saja.
"Buat kali ini lo turutin maunya gue. Gue pacar lo, sesekali gue mau beliin harga barang yang mahal buat lo. Bukan cuma cilok aja," dumel Didi karena sejak tadi Ajeng menolak gaun yang ia sodorkan.
"Bukan gitu kakak pacar, tapi sayang aja uangnya. Mendingan lo tabung aja," ucap Ajeng.
"Oh, jadi lo lebih sayang duit gue dibanding sama gue gitu? Oke," ucap Didi. Ia pura pura merajuk dan pergi dari samping Ajeng.
"Ih bukan gitu kakak pacar. Hei, kak," ucap Ajeng cukup keras karena Didi berjalan cukup cepat.
"MAS TUNGGUIN AKU. KOK NINGGALIN ISTRI SIH? KASIAN DEDEK BAYI DI PERUT AKU," teriak Ajeng tanpa malu. Semua orang yang ada di toko itu langsung mengalihkan atensinya ke arah Ajeng.
Sedangkan Ajeng berlagak seperti seorang wanita yang sedang mengandung. Ia mengelus elus perutnya yang terisi cilok, baso, cireng, telor gulung dan pop ice.
"Astaga mas, kasian itu istrinya kok ditinggalin. Nanti bayinya marah loh sama mas," ucap ibu ibu yang kebetulan sedang berada di toko itu.
"Iya bener mas. Kasian istrinya jangan ditinggalin, nanti kalo tiba tiba jatuh gimana? Bayinya bisa keguguran."
Didi menggeram malu. Ia langsung kembali ke tempat dimana ada Ajeng. Ia langsung menarik cewek itu keluar dari dalam toko itu.
Muka Didi seketika memerah. Entah karena malu atau marah sedangkan Ajeng sudah tertawa terbahak bahak.
"Diem lo," ucap Didi ketus.
"Abisnya lucu. Ibu ibu tadi pada percaya kalo gue hamil anak lo kak. Padahal isinya peracian," ucap Ajeng. Saat ini ia sedang ngakak brutal karena ulahnya sendiri.
"Lo kalo becanda suka kelewatan tahu gak? Malu tahu gue dikira bakal jadi bapak bapak padahal begituan aja kagak pernah," gerutu Didi. Saat ini mereka sedang berada di area lain di mall itu. Didi sengaja mengajak Ajeng pergi agak jauh dari area toko tadi. Ia sangat malu sekali.
__ADS_1
"Ya maaf. Abisnya siapa suruh ninggalin gue," ucap Ajeng.
"Ya siapa suruh lo lama banget kalo pilih baju. Padahal banyak baju disana," ucap Didi.
"Mahal kak. Gue gak mau kalo terima barang mahal dari lo. Takutnya gue dikira matre," ucap Ajeng.
Didi menghela nafasnya. Lagi dan lagi soal harga. Padahal ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia rela mengeluarkan uang untuk Ajeng pacarnya. Namun pacarnya ini agak lain dari kebanyakan wanita. Tapi ia tetap bersyukur, setidaknya Ajeng tidak memandang hartanya.
"Kali ini gue gak bakal minta pendapat lo. Gue sendiri yang pilih baju buat lo. Ini keputusan final," ucap Didi. Ia pun kembali menarik tangan Ajeng menuju ke toko baju lain yang ada di mall itu.
***
Saat ini, Dimas masih membagikan sisa undangan yang belum ia berikan pada tuannya. Ia melaju menggunakan sepeda motornya. Karena memang Ashel menitipkan semua undangannya pada Dimas. Ia meminta pada Dimas untuk menyebarkannya. Ashel tidak mengundang banyak orang, ia hanya mengundang orang yang dekat dengannya.
Saat ini ia sedang menuju ke salah satu komplek perumahan elit yang ada di kawasan Bandung. Sebelumnya ia sudah menghubungi Nando jika ia akan datang berkunjung. Mengingat jika kemarin kemarin Nando pergi ke Boston karena ia memang akan berkuliah disana.
Dimas memarkirkan motornya kemudian turun dari sana. Ia berjalan menuju ke arah pintu depan rumah Nando. Namun sebelum mengetuknya, Nando lebih dulu memanggilnya.
"Disini Dim," ucap Nando. Ia sedang berada di sebelah rumahnya. Entah apa yang Nando lakukan disana yang jelas ia hanya diam memainkan ponselnya.
"Baik dong. Lo sendiri gimana?" Tanya Nando.
"Baik dong," jawab Dimas.
"Gue emang sengaja balik dulu Dim. Males disana belum punya temen," ucap Nando.
"Oh gitu."
"Lo sendiri ada apa? Tumben nemuin gue," tanya Nando.
"Ada titipan dari Ashel," ucap Dimas. Ia memberikan gulungan kertas putih yang diikat pita berwarna navy.
Nando menerimanya dengan girang. Ia langsung merebut gulungan kertas itu dan langsung membukanya.
__ADS_1
Namun saat ia membaca kata pertama di kertas itu, ia langsung terdiam.
Undangan pernikahan.
Nando menatap tanpa ekspresi pada kertas yang berada di tangannya. Isi kertas itu sangat cantik. Ada foto Ashel dan seorang pria. Seperti foto prewedding.
Disana tertera nama Ashel dan seorang pria yang dikenal Nando sejak lama. Jelas, siapa yang tidak mengenal CEO muda yang kaya raya itu. Semua orang pasti mengetahuinya. Apalagi wajah Kavin setiap harinya wara wiri di majalah, tv, dan media lainnya.
"Ashel nikah lusa. Gue sama yang lain bakalan berangkat pagi ke Jakarta. Lo gimana?" Tanya Dimas.
"Gue belum tahu. Kalian berangkat duluan aja. Thanks undangannya," ucap Nando.
"Sama sama. Menurut lo gimana? Ternyata Ashel sat set juga ya," ucap Dimas.
"Hahah, iya," ucap Nando.
"Yaudah kalo gitu gue balik dulu Nan," ucap Dimas.
"Oke, hati hati lo," ucap Nando. Dimas pun pergi dari rumah Nando karena ia sudah ditunggu oleh pacarnya. Karena kebetulan juga ia sudah membuat janji dengan pacar barunya itu.
Sepeninggal Dimas, Nando menatap undangan yang berada di tangannya. Perasaanya tidak menentu. Antara marah dan kesal.
"Gue gak nyangka ternyata selama ini gue kalah star dari orang lain. Tapi gak papa, mau lo nikah sama siapapun gue bakalan tetep sama rencana awal gue. Gue gak peduli status lo apa nantinya," ucap Nando. Ia meremas undangan yang diberikan Ashel padanya.
Setelah meremasnya ia pun melemparnya ke tanah dan langsung menginjak injaknya. Undangan yang semua berwarna putih bersih pun kini menjadi kusut dan kotor tak berbentuk.
"Gue gak rela sampe kapan pun. Lo boleh lupa gue tapi gue gak bakalan pernah lupa sama lo," ucap Nando.
Selama ini ia diam bukan berarti tidak mengetahui apapun. Ia tahu, bahkan ketika kemarin Ashel di sekap oleh Dona.
Ya, Nando mengenal Dona. Ia juga mengenal keluarganya.
Tbc.
__ADS_1
Waduuu nando kenapa ya? Wkwk. Makasih vote komennya guys.