
02. 17
Kenzo belum juga tidur. Di temani dengan Vanes yang sedang rebahan sambil menonton film, Kenzo mengerjakan beberapa berkas yang belum di salinnya ke laptop.
"Kamu kalau udah ngantuk tidur aja ya?"
Vanes menggeleng. "Aku belum ngantuk, kak. Aku mau temani kamu."
Kenzo mengangguk. Kemudian dia kembali sibuk dengan berkas-berkas tersebut. Kalau sudah begitu, Vanes menjadi kasihan melihat Kenzo yang bekerja hingga larut.
"Kamu tahu kan hal apa yang paling membahagiakan?" Tanya Kenzo tanpa memalingkan pandangannya dari laptop.
"Apa?"
"Melihatmu tertawa, sayang."
***
Erika masuk ke dalam ruang kerja Juna. Bermaksud untuk mencari kakak sepupunya itu. Namun, tanpa sengaja, dia menemukan sebuah foto. Foto Juna berada di mobil dengan seorang gadis berpakaian seragam putih biru.
"Siapa ini? Anaknya Kak Juna? Kak Juna punya anak berapa sih?" Gumam Erika sambil mengambil foto tersebut.
Mata Erika menatap setiap inci wajah perempuan yang ada di foto tersebut. Tertera inisial 'VA 17' di balik foto tersebut. Jiwa keingin tahuan Erika jadi tergugah.
Erika memotret foto tersebut kemudian keluar dari ruang kerja Juna.
"Kau? Ngapain masuk ke dalam ruang kerja Juna?" Cegat Selena yang kebetulan lewat.
"Suka-suka aku dong. Kemana sih Kak Juna?"
"Keluar." Jawab Selena ketus. "Kau kapan keluar dari rumah ini? Menganggu saja."
"Aku malas berdebat denganmu ular. Aku mau ke supermarket, Bye!" Kemudian Erika pergi dari hadapan Selena.
"Dasar burung gagak."
***
"Aww." Vanes meringis ketika ada yang menyenggolnya hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Eh maaf." Kata perempuan yang menabrak. "Kau tidak kenapa-kenapa? Perutmu sakit tidak?"
Vanes menggeleng sambil memegangi perutnya. "Enggak. Aku nggak kenapa-kenapa."
"Maafkan aku. Aku Erika. Kau?"
"Vanessa. Panggil saja Vanes."
"Kau hamil. Tapi terlihat masih muda ya?" Celetuk Erika yang mulai berkomentar.
Vanes hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Aku permisi." Pamit Vanes kemudian.
Erika mengangguk sambil melambaikan tangannya. Kagum melihat Vanes yang menurutnya cantik natural walaupun sedang hamil. Tunggu, wajah Vanes nampak tidak asing. Rasanya Erika pernah melihat wajah itu.
Buru-buru Erika mengambil Handphone yang di berada di tas berwarna kuningnya. Membuka aplikasi galeri. Melihat hasil potretannya tadi di ruangan Juna.
__ADS_1
"Astaga! Wajahnya mirip dengan perempuan itu."
Erika mengelilingi supermarket, mencari keberadaan Vanes. Namun, nihil. Vanes sudah tidak berada di supermarket.
"VA sepuluh. Vanessa." Gumam Erika.
***
Vanes duduk di sofa seraya menghembuskan nafas lega. Dirinya merasa lelah karena aktivitas berbelanja bulanan di supermarket tadi.
"Sayang, kamu udah pulang?" Tanya Kenzo yang berjalan dari ruang makan.
"Iya." Jawab Vanes lesu.
"Kamu kenapa? Lesu gitu?"
"Aku lelah."
Kenzo langsung berjalan cepat ke arah Vanes. "Kamu lelah? Istirahat aja ya? Aku tadi kan sudah melarangmu untuk tidak pergi. Sekarang kamu istrihat. Aku akan menggendongmu."
"Tidak usah. Nanti jasmu lecet." Tolak Vanes.
Kenzo tidak peduli. Dia mengangkat tubuh Vanes. Membawanya ke kamar mereka. Menidurkan Vanes di atas kasur.
"Jangan banyak aktivitas, Vanessa. Aku tidak mau kalian berdua kenapa-kenapa." Kata Kenzo.
"Iya. Maafkan aku." Ucap Vanes.
Kenzo mencium puncak kepala Vanes kemudian dia pergi. Vanes menatap kepergian sang suami. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan suaminya itu baru berangkat.
***
Setelah itu, Hana mengeluarkan laptop. Mengangkat tangannya untuk memanggil pramusaji. Mengatakan apa yang di pesannya.
Hana merenung sambil menunggu laptopnya menyala. Dia tidak bisa begini terus. Dia harus bangkit. Tidak merepotkan Dylan dan Tasya.
Mengingat kejadian saat Vanes pulang dari rumah sakit membuat Hana tersenyum. Setidaknya, orang tua angkatnya itu bisa berkumpul dengan anak kandungnya.
Hana telah menganggap Vanes seperti adiknya sendiri. Walaupun Vanes sangat membenci dirinya. Setidaknya Hana tahu apa alasan Vanes begitu membenci dirinya.
Aku memang parasit dalam hidup mereka.
Hana buru-buru menundukkan kepalanya ketika ada sosok yang sangat di kenalnya duduk di sebrang dekat mejanya. Dia tahu sosok itu. Kenzo.
Diam-diam, Hana mengagumi sosok Kenzo yang begitu tampan dan berwibawa. Tubuh atletisnya yang menggoda. Rahangnya yang nampak keras. Apalagi jika melihat Kenzo memakai tuxedo, Hana semakin mengaguminya.
Beruntungnya Vanessa memiliki suami seperti Kenzo. Memiliki keluarga yang utuh. Walaupun dia menikah di usianya yang sangat muda, tetap saja Vanessa beruntung.
"Kenzo!"
Hana menajamkan indra pendengarannya ketika suara seorang perempuan memanggil nama Kenzo.
"Erika?"
"Kamu sudah lama menungguku?"
"Tidak. Aku juga baru saja sampai." Jawab Kenzo.
__ADS_1
Mata Hana melebar. Sebelum pesanannya datang, dia harus pergi dari cafe ini.
***
"Tidak. Aku juga baru saja sampai."
"Oh begitu." Jawab Erika yang duduk di hadapannya.
"Kenapa? Ada apa kau menyuruhku kesini?" Tanya Kenzo yang sensi.
Sudut bibir Erika terangkat. "Aku rindu denganmu. Apa kamu tidak rindu kepadaku?"
"Untuk apa aku rindu padamu?"
Erika malah tertawa. "Aku kan calon istrimu. Bukan kah kita akan segera menikah. Aku ini kan sudah menerima lamaranmu."
BRUK
Kenzo beralih ke meja yang berada di sebelahnya. Seorang perempuan dengan rambut sebahu menabrak kursi yang akan di tinggalkannya.
Seketika badan Kenzo menegang. Dia tahu siapa perempuan itu. Perasaan takut kini membuncah dalam lubuk hatinya.
"Kenzo! Jawab ucapanku dong! Ngapain sih kamu liat cewek iti? Lagian dia kan udah pergi."
Kenzo kini beralih ke Erika. "Erika! Jaga ucapanmu itu! Kita tidak akan menikah dan selamanya kita tidak akan menikah. Aku tidak mencintaimu."
"Kamu itu mencintaiku, Ken. Dan selamanya akan seperti itu. Kita hanya perlu waktu dan selalu bersama. Maka, kamu akan sadar jika perasaan itu ada!"
Kenzo meradang. "In Your Dream, Erika. Carilah lelaki yang mash single. Aku ini sudah punya istri. Aku bukan lelaki bodoh yang mengejar jika sudah di tolak."
"Tapi lelaki memang harus seperti itu. Ini kodrat." Erika menyangkal.
"Tau apa kau soal kodrat, Erika? Kau saja tidak punya atitude."
"Aku tahu apa itu kodrat, Ken. Aku juga tahu apa kelemaha lelaki. Kamu itu hanya perlu di goda untuk bisa tunduk." Ucap Erika sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa model punya perilaku seburuk kau! Kau tidak pantas menjadi model, Erika. Pergi saja kau dari Indonesia. Kembali lah ke Mexico. Jangan ganggu hidupku." Kenzo emosi.
"Tidak bisa!" Tolak Erika tegas. "Aku mencintaimu, Ken. Dan, aku harus mendapatkanmu walaupun dengan berbagai cara. Kamu tahu caraku apa? Menggodamu dan merebutmu dari istrimu."
Kenzo menggelengkan kepalanya. Kasihan dengan Erika yang duduk di hadapannya ini.
Perempuan ini sama saja dengan sepupunya. Persis sekali dengan Juna. Jika sudah mengincar, harus di dapatkan incarannya. Aku harus lebih berhati-hati.
_______
Hayo ngeselin siapa? Erika apa Hana?
Lebih milih siapa kalian;
•Juna-Vanessa
apa..
•Kenzo-Vanessa
???
__ADS_1