My Little Wife

My Little Wife
27. Honeymoon dan Holiday


__ADS_3

Menginjak tanah Paris, Mereka bertiga tersenyum bahagia karena selamat hingga tujuan. Dylan dan Tasya bahagia melihat Hana yang memotret sana sini karena kagum.


"Indah banget ya, Ma, Pa." Kata Hana.


"Iya dong." Jawab Dylan sambil tertawa.


"Betah deh." Kata Hana lagi. "Kita disini berapa hari?"


"Dua minggu, sayang." Jawab Tasya sambil mengelus puncak kepala Hana.


"Dua minggu?"


"Iya. Kamu bisa lakukan sepuasmu disini."


Hana tersenyum sumringah. Dia merasa beruntung bisa liburan kesini. Walaupun yang bersamanya ini bukanlah keluarga kandungnya, tapi dia sangat menyayanginya.


***


Menghirup udara malam yang segar di kota Paris adalah hal terindah. Terlebih lagi ada sang suami di belakangnya. Memeluknya romantis.


Hotel yang di sewa selama kurang lebih dua minggu ini terlalu mewah hanya untuk sekedar honeymoon. Aksen dengan warna putih ini menghiasi dinding apartemen. Bahkan, apartemen ini ada kolam renangnya sendiri. Sangat mewah.


"Sayang..Kamu suka?" Tanya Kenzo.


"Aku suka. Sangat suka sekali. Terima kasih, kak."


"Kita harus punya anak yang banyak, sayang. Agar rumah tidak sepi." Kata Kenzo dengan nada nakalnya.


Vanes membalikkan posisi tubuhnya. Sekarang, posisinya sangat dekat dengan Kenzo. "Itu bisa di atur, suamiku. Aku juga menginginkan seorang..anak."


"Apa kita harus membuatnya sekarang?" Lagi. Kenzo mulai menggoda sang istri.


Vanes mengangguk samar sambil tersenyum. Tanpa banyak bicara, Kenzo langsung menggendong Vanes. Membawanya ke ranjang yang telah siap menanti mereka.


"Aku tidak yakin kamu bisa mengimbangi permainanku, sayang." Kata Kenzo saat sudah berada di atas Vanes.


"Aku juga tidak yakin." Jawab Vanes.


Kenzo menyeringai. Tangan kekarnya telah masuk ke dalam bagian inti Vanes. Kenzo memainkannya dengan gemas.


"Akhh Khhakhh Kehhnzohh.." Lengkuh Vanes.


"Mari kita tuntaskan, sayang."


***


Menikmati suasana indah kota indah Paris di sebuah restoran adalah hal yang akan selalu di ingat oleh Hana. Baru kali ini dia tahu bagaimana liburan ke luar negeri. Selama ini, dia hanya mendengar cerita dari temannya atau melihat di Handphone.


Tapi sekarang, Hana menginjakkan kakinya di sini. Paris. Negeri romansa. Entah bagaimana cara mengucapkan rasa terima kasih terhadap kedua orang tua angkatnya itu.

__ADS_1


"Ma, Pa, Terima kasih sudah mengajak Hana pergi jalan-jalan." Ucap Hana.


Dylan tersenyum lebar. "Sama-sama, Nak. Nikmatilah liburanmu. Hilangkan beban pikiranmu."


"Rileks sayang." Timpal Tasya.


"Iya! Hana sangat menikmati liburan disini." Balas Hana. "Em-Kenapa waktu itu, Vanessa tidak di ajak Pa, Ma?"


Tasya menatap lekat Hana. "Vanessa sudah punya suami, Nak. Kita sudah tidak berhak untuk mengajak Vanessa mengikuti kemauan kita."


"Lagian, Vanessa juga sudah sering liburan ke luar negeri. Hampir setiap tahunnya dia pergi ke luar negeri." Imbuh Dylan.


"Bagaimana Vanessa bisa menikah di umur semuda itu?" Tanya Hana.


Dylan bergidik. "Papa tidak tahu. Waktu itu, Papa dan Mama baru saja pulang dari luar kota, Tahu-tahu mereka sudah menikah secara siri."


"Papa nggak marah?" Tanya Hana lagi.


"Tidak. Percuma papa marah, karena sudah terjadi, apa yang harus di cegah?"


"Sudah jangan bahas tentang Vanessa di liburan kita." Kata Tasya. "Kita bersenang-senang ya disini?!"


***


Cahaya sinar matahari masuk lewat cela-cela gorden. Mata Vanes mengerjap. Tangan Kenzo melingkar indah di perutnya.


Vanes melirik Kenzo yang masih tidur di sampingnya dengan tenang. Jika mengingat hal yang telah semalam di lakukannya dengan sang suami. Hal yang sepatutnya di lakukan oleh suami istri. Dan mereka berdua telah melakukannya.


"Bangun sayang.." Bisik Vanes tepat di telinga Kenzo.


Perlahan, Kenzo membuka matanya. Senyumnya tersungging ketika melihat Vanes yang membangunkannya. "Pagi Juga sayang.." Balas Kenzo.


"Aku mau mandi." Kata Vanes. Dia menunduk malu. "Tap-Tapi aku nggak bisa ja-jalan. Sakit."


Kenzo mengusap pipi Vanes sayang. "Aku bantu kamu ya? Apa sekalian kita mandi bareng?"


Mata Vanes melotot. "Nggak. Mandi sendiri-sendiri!"


"Kamu nggak ingat apa yang telah kita lakukan, huh?" Goda Kenzo jahil


"KAK KENZO!" Tukas Vanes kesal.


Kenzo tertawa. Kemudian dia memakai kembali pakaiannya. Setelah itu dia mengangkat tubuh ramping Vanes ke kamar mandi.


"Mandi yang bersih! Nanti siang kita jalan-jalan ya? Pasti udah nggak sakit kalau nanti siang." Kata Kenzo.


Vanes mengangguk. Kemudian dia menutup pintu kamar mandi. Dia melirik tubuhnya. Kenzo memberinya banyak tanda. Serangan bertubi-tubi Kenzo membuat Vanes kuwalahan hingga lelah. Vanes dan Kenzo tinggal menunggu hasil. Hasil yang telah di nanti-nantikan oleh Kenzo dan Vanes. Yaitu buah hati.


Setelah membersihkan diri, Vanes keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk bewarna biru laut itu. Kenzo tengah menonton acara TV sambil menyandarkan kepalanya di bantal kasur.

__ADS_1


"Kak..Mandi ya?" Bujuk Vanes.


Kenzo mengangguk. "Iya."


"Aku siapkan bajunya." Kata Vanes.


"Kamu ganti baju dulu. Jangan seperti itu. Kamu mau aku terkam lagi?" Kenzo kumat jahilnya.


"Kak Kenzo masuk ke kamar mandi! atau nggak ada lagi yang namanya jatah!" Timpal Vanes.


"Oke. Kamu menang, sayang." Kata Kenzo sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Vanes terkikik. Kemudian dia mengganti handuk yang melilit di tubuhnya dengan T-shirt berwarna merah maroon serta jins selutut. Tak lupa juga dia menyiapkan baju santai untuk Kenzo.


***


"Hana mau sarapan sama apa?" Tanya Tasya saat di bawah restoran hotel.


Hana melihat sajian makanan hotel. "Salad sayur aja, Ma. Kalau pagi-pagi nggak makan berat dulu deh."


"Kalau nggak makan berat, mana ada tenaganya, Hana?" Tanya Dylan.


"Hehehe. Ya udah, Hana cari tempat duduk dulu ya?"


"Iya."


Hana berjalan ke arah meja yang berada di pinggir tembok. Namun, saat hendak sampai di sana, tanpa sengaja dia menabrak seseorang


"Eih! Oh. Sorry. " Kata Hana.


Perempuan yang menggenakan baju berwarna merah di tabrak Hana itu bajunya basah karena terciprat air yang di pegang oleh Hana.


"Are you okay?" Tanya Hana.


"I okay. Dont worry!" Jawab perempuan itu kemudian melenggang pergi.


Hana mengerutkan dahinya. Suara itu seperti tak asing baginya. Rasanya dia pernah mendengar suara itu. Tapi dia lupa dimana.


Akhirnya Hana memutuskan untuk duduk di meja incarannya. Tasya dan Dylan juga ikut menyusul. Mereka bertiga saling melemparkan senyum layaknya keluarga bahagia yang utuh.


Hana memang tersenyum. Tapi, dia masih memikirkan perempuan yang di tabraknya tadi. Sayangnya, Hana tak dapat melihat wajah perempuan tersebut karena tertutup rambut panjang legam yang dimiliki oleh perempuan itu.


"Hana?" Tegur Dylan. "Dari tadi di panggil kok nggak nyahut."


"Ada apa, Hana?" Tanya Tasya.


"Nggak kok." Elak Hana.


Aku harap, aku bisa bertemu dengan perempuan itu tadi.

__ADS_1


__ADS_2