
✊️✊️✊️✊️
Happy reading♡
Ashel menghela nafasnya. Sekesal apapun dia pada suaminya, ia tetap tidak tega. Bahkan tadi pelayan bilang jika Kavin sejak pagi belum makan sama sekali. Ia hanya diam di dekat kamar tamu ini. Ashel masih marah tentu saja, tapi ia juga tidak bisa terus terusan seperti ini. Yang ada suaminya tidak mau makan dan malah sakit. Kan ia sendiri yang repot.
Tidak ada pilihan lain selain memaafkan suaminya ini.
"Lepas, anak kamu nangis tuh," ucap Ashel.
"Dimaafin gak mi?" Tanya Kavin.
"Jangan kayak gitu lagi. Lepas," ucap Ashel.
"Makasih sayang, maafin sifat kekanakan aku ya? Janji gak gitu lagi," ucap Kavin. Ia melerai pelukannya dan mengecup kening istrinya.
"Buktiin, jangan ngomong doang," ucap Ashel. Ia melepas tangan suaminya yang memegang bahunya dan beralih pada Ling. Ia memangku bayi itu dan memberikan asi pada anak anaknya itu.
"Kamu makan dulu sana, nanti sakit aku yang repot," ucap Ashel.
"Iya mami," ucap Kavin. Ia pun pergi dari kamar tamu menuju ke ruang makan. Meskipun hanya makan sendirian setidaknya Kavin bisa bernafas lega karena istrinya sudah memaafkannya.
Pelayan menghidangkan makanan untuk Kavin. Namun Kavin hanya mengambil nasi, sayur, dan ikan goreng saja. Sisanya ia biarkan. Kavin pun makan makanan yang sudah ia ambil. Ia rela menahan lapar agar istrinya mau memaafkannya. Ini sebanding karena semua ulahnya.
Sementara di dalam kamar, ketiga bayi Ashel sempat bangun dan kembali tidur lagi. Bayi memang seperti itu mungkin. Bangun lalu diberi asi kemudian tidur lagi. Monoton memang tapi mereka masih bayi tidak memiliki kegiatan lain selain makan, tidur, main dan berjemur.
Lama lama Ashel kebosanan. Ia pun beranjak dari kamar baby's. Ia ingin menyusul suaminya. Takutnya makan pria itu hanya sedikit. Ia juga sudah meminta pengasuh menjaga bayi bayi itu. Jadi ia bisa tenang, takutnya anak mereka menangis dan tidak kedengaran sampai dapur. Wajar saja, jaraknya lumayan jauh.
Ashel melihat suaminya yang makan sedikit sedikit. Bahkan makanan di piringnya berbeda dengan biasanya. Ashel pun mengambil piring suaminya dan memasukan satu centong nasi dan ayam juga sisanya masih banyak.
"Makan yang bener, kalo enggak abis aku bakalan tinggal di mansion ayah," ancam Ashel.
"Ayang, aku gak nafsu makan," ucap Kavin memelas.
"Terus nasfunya sama apa? Biar aku buatin kamu makanan," ucap Ashel.
__ADS_1
"Nafsu sama kamu, bukan sama makanannya," ucap Kavin. Ia memeluk perut istrinya dan menyembunyikan wajahnya disana.
"Itu maunya kamu, makan yang bener mas. Kamu bukan bocah lagi," ucap Ashel.
"Nanti sore ajak keliling baby's keliling mau gak? Mereka udah bisa dibawa keluar kan?" Tanya Kavin. Pria itu mengalihkan pembicaraan.
"Bisa, tapi nanti sore abang mau kesini sama kak Lulu. Makan cepat, jangan banyak alasan. Bersyukur mas, diluaran sana masih banyak orang yang gak bisa makan enak kayak kamu," ucap Ashel.
Kavin kicep seketika. Ucapan istrinya ini selalu benar da terkadang selalu menyindirnya. Meskipun itu kebenarannya.
"Temenin tapi," ucap Kavin. Ashel mengangguk dan mengambil stup roti dan salad buah miliknya untuk ia makan. Kavin tersenyum sumringah dan memakan makanannya.
***
Sesuai dengan pesan yang tadi pagi dikirimkan Lupita padanya, Ardian dan Lupita benar benar datang. Semenjak datang tadi Lupita terus memangku bayi Ling. Bayi yang paling kalem. Sementara Ardian tidak mau memangku salah satu anak adiknya, namun setelah dipaksa Ashel akhirnya Ardian mengalah dan terpaksa memangku Briella.
Ashel berada di sebelah Ardian. Menjaga bayinya takut takut di salto oleh abangnya ini.
"Kalian udah cocok, cepetin nikah kali bang. Jangan nanem benih mulu. Kak Lulu butuh kepastian," sindir Ashel.
"Idih, psycho. Jangan mau sama dia kak Lulu, dia nyeremin. Mending nyari lagi aja," ucap Ashel.
Sejak dulu, Ashel memang selalu mencari gara gara pada abangnya ini. Menyenangkan saja membuatnya kesal dan akhirnya marah. Tak jarak Ashel selalu mendapatkan tabokan dari abangnya ini.
"Gak bisa, yang ada aku di seret dia. Kemarin aja makan bareng Daren, ujungnya Daren babak belur," ucap Lupita. Dokter cantik itu sudah tidak canggung lagi dengan Ashel. Bahkan mereka sudah dekat entah sejak kapan.
"Sebelas dua belas sama bapaknya si Kai, posesifnya tingkat akut. Padahal aku cuma temenan," ucap Ashel.
"Temenan sama cowok gak mungkin kalo gak ada perasaan salah satu diantara kalian. Mas cuma jaga jaga aja sayang," ucap Kavin tak mau kalah.
"Tapi serius dek, yang namanya Nando Nando itu, yang nolongin kamu waktu itu beneran dia suka sama kamu?" Tanya Ardian. Ia sengaja ingin membuat Kavin kepanasan.
"Iya loh. Bahkan bukan cuma dia, ada Randi, Randu, Doni, Daffa, sama siapa ya? Banyak pokoknya. Mereka semua ya minta aku pacaran. Istilahnya nembak aku, waktu SMA, Randu kan ketua basket dia nembak aku pas dia menangin basket juara satu. Ya dari hari itu aku jadk trending topik. Tapi sayangnya gak aku terima," ucap Ashel.
Kavin berdehem. Ia tidak suka jika istrinya ini membicarakan soal laki laki lain. Apalagi sebelum dirinya mendekati Ashel.
__ADS_1
Ashel tersenyum, "Ya tapi untungnya aku tetep jomblo sampe dipaksa nikah sama pria tajir melintir. Aku phobia miskin soalnya, jadi ya aku terima aja. Rezeki kan gak boleh ditolak."
"Yah, padahal kamu terima mereka. Lumayan bahan gabut," ucap Ardian.
"Gak ada kata gabut abang. Kan tahu sendiri kegiatan aku di sekolah waktu itu kayak apa," ucap Ashel.
"Iya, ngalahin tugas DPR aja kamu. Tapi beruntungnya sekarang kamu udah mau wisuda aja," ucap Ardian.
"Wah, serius kamu mau wisuda? Kapan?" Tanya Luoita semangat.
"Satu minggu lagi. Kak Lulu sama abang harus dateng pokoknya," ucap Ashel.
"Pasti, aku bakalan kosongin jadwal hari itu. Nanti spesifik harinya kapan kasih tahu aja," ucap Lupita.
"Oke. Tapi kak, mau nemenin belanja gak? Soalnya aku belum punya baju buat wisuda," ucap Ashel.
"Boleh tuh, emang kamu maunya baju kayak gimana?" Tanya Lupita.
"Kebaya bali sih, aku kepikiran itu," ucap Ashel.
"Tapi, emangnya disini ada? Palingan ada bahannya aja, kenapa kamu gak minta desainer aja bikin baju yang kamu mau? Biar simpel juga," ucap Lupita.
"Ya ada benernya juga, soalnya masih ribet si kembar belum gede gede. Kayak lama bener gedenya," ucap Ashel.
"Astaga yang, kan berproses. Bikin mereka aja butuh proses beberapa kali, mana nunggu lama. Sabar dong," ucap Kavin membuat Ashel tertawa begitu juga dengan Lupita. Ardian sendiri hanya diam, dia pria kaku.
...Kapin bangun ngebo😌...
Tbc.
Part selanjutnya aku cepetin ke wisuda Ashel, terus nanti aku cepetin juga umur baby's biar gak lama yyy.
Kalian mau gak kalo aku bikin cerita tentang Ardian dan Lupita? Kalo mau boleh dong komen🥸
__ADS_1