
Happy reading
Kavin masih berusaha membujuk Ashel untuk pindah kamar namun Ashel tetap pada pendiriannya. Ia ingin pisah kamar dengan Kavin.
Saat ini Kavin masih berada di kamar yang disewa oleh Ashel. Sebenarnya Ashel tidak perlu menyewanya. Toh hotel ini milik Kavin.
"Ayo yang. Please kita sekamar," bujuk Kavin.
"Enggak mau."
"Aku kasih kamu uang saku deh. Tapi bobo bareng," tawar Kavin.
"Berani kasih berapa?" Tantang Ashel.
"Satu miliyar pun aku kasih. Ayo cepet," ucap Kavin.
"Gak mau, maunya lima milyar," ucap Ashel.
"Deal," ucap Kavin tanpa pikir panjang. Ia langsung menggendong Ashel keluar dari kamar itu.
Sebenarnya Kavin bisa saja memaksa Ashel dan langsung membawanya ke kamar yang sudah ia siapkan, namun Kavin takut Ashel semakin marah padanya. Jadi dia harus bernegosiasi dulu.
"APAAN SIH? AKU BECANDA. ENGGAK AKU GAK MAU UANG. AKU MAUNYA TIDUR SENDIRI," teriak Ashel.
"Iya sayang, nanti kita buat dedek bayi gemes kayak kamu. Gak usah teriak teriak, aku bakalan turutin kok," ucap Kavin melantur.
"LEPASIN WOI. TURUNIN."
Namun Kavin tidak mengindahkan ucapan Ashel. Ia memasuki lift dengan Ashel yang tidak ia lepaskan dari pangkuannya.
Kavin memangku Ashel layaknya seperti seekor ibu koala yang menggendong anaknya.
"Gak mau Apin. Aku maunya sendiri," ucap Ashel. Kavin lagi lagi tidak mendengarkan ucapan Ashel. Ia keluar dari dalam lift setelah pintunya terbuka.
Kavin menempelkan jari telunjuknya. Pintu pun terbuka. Kavin membawa Ashel masuk ke dalam kamar presindet suite yang sering ia gunakan saat ada perjalanan bisnis ke Jepang.
"Kita disini sampai dekat ke hari pernikahan," ucap Kavin tiba tiba saat ia mendudukan Ashel di kasur.
"Kenapa? Kok selama itu?" Tanya Ashel.
"Selain ada kerjaan, aku juga gak mau hal yang sama terulang lagi. Orang itu udah tahu alamat penthouse milik ku yang akan kita tempati nanti. Jadi untuk berjaga jaga, aku membawa mu sampai sejauh ini," ucap Kavin. Saat ini ia sedang menatap ke arah luar jendela besar yang ada di kamarnya.
Kamar yang ditempati keduanya berada di lantai paling atas.
__ADS_1
"Aku juga sengaja maksa kamu buat sekamar sama aku. Aku gak mau kamu terluka lagi. Udah cukup banyak luka yang kamu dapetin selama ini karena orang itu. Yang sialnya belum aku ketahui," ucap Kavin.
"Kamu khawatir?" Tanya Ashel.
"Apa perlu pertanyaan itu aku jawab? Apa dengan tindakan ku selama ini kamu tidak bisa menyimpulkanny?"
"Maaf maaf, aku hanya bertanya saja," ucap Ashel. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Ternyata kasur yang ada di kamar ini jauh lebih empuk dan nyaman.
Ashel memejamkan matanya. Kedua tangannya bergerak bebas mengusap usap kasur besar itu.
Kavin merasa aneh saat mendengar Ashel yang tidak lagi berbicara. Ia pun membalikan badannya dan melihat ke arah Ashel. Ternyata anak itu sudah memejamkan matanya.
Kavin mendekat ke arah ranjang. Melihat Ashel, sepertinya anak itu sangat nyaman dengan kasur ini.
"Tadi aja sudah banget diajak yang enak enak," gumam Kavin.
Ia pun menindih tubuh Ashel. Memandangi wajah cantik yang mampu membuatnya jatuh hati.
"Jangan ganggu aku. Aku lagi nikmatin kasurnya. Nyaman banget," ucap Ashel.
Kavin terkekeh mendengar larangan Ashel. Dia tidak tahu saja, bagi Kavin larangan yang diucapkan oleh Ashel adalah perintah baginya.
Awalnya Kavin hanya menciumnya namun lama lama Kavin mulai **********. Menyecap setiap inci bibir ranum yang menjadi candunya itu.
Ashel juga membalas ciuman itu. Sebelum mengenal Kavin, Ashel tidak bisa berciuman karena dia memang menjaga dirinya dari pria pria yang berusaha mendekatinya. Namun pertahanannya runtuh saat Kavin masuk ke kehidupannya.
Ashel menjadi mahir dalam hal itu. Tentunya karena pengajaran dari Kavin.
Pengajaran sesat!
Lama lama ciuman Kavin turun ke leher jenjang Ashel. Membuat beberapa tanda kepemilikan disana. Seolah menegaskan jika Ashel hanya miliknya seorang.
Ashel meremas kepala rambut Kavin. Ia hampir saja mengeluarkan desahannya karena permainan Kavin.
"Keluarkan saja. Ruangan ini kedap suara," ucap Kavin.
"Gak mau," cicit Ashel.
Namun bukan Kavin jika ia tidak memaksanya. Kavin terus mencium leher jenjang itu dengan perlahan dan lembut. Agar Ashel terlena dan tidak sadar.
Lama lama, Ashel bisa gila. Tubuhnya bereaksi saat Kavin mulai menyentuhnya. Apalagi saat tangan besar itu mulai meraba bagian dadanya.
__ADS_1
Saat Kavin meremasnya pelan, ******* lolos dari bibir Ashel. Senyum devil langsung nampak saat Kavin mendengar suara merdu itu.
"S-stop," ucap Ashel.
"No," ucap Kavin. Ia kembali mencium bibir Ashel. Ciuman kali ini lebih menuntut dan lebih panas dari sebelumnya.
Jangan kalian kira jika junior Kavin tidak bereaksi ketika mereka berciuman. Bahkan saat Kavin bersentuhan dengan Ashel saja, juniornya selalu menegang.
Tangan Kavin menarik pelan tangan Ashel. Membawanya ke area paling bawah. Kavin mendekatkan tangan Ashel ke juniornya yang sudah menegang dan sangat sesak sekali.
Ashel yang masih terlena dengan ciuman itu sampai tak sadar tangannya memegang apa. Diluar dugaan Ashel tiba tiba meremasnya. Membuat Kavin mendesah dan semakin menegang.
Ashel langsung mendorong tubuh Kavin saat pria itu memgeluarkan suara horor itu lagi.
"Kenapa kamu meremasnya?" Tanya Kavin. Saat ini wajahnya sudah sangat memerah.
"Me-mangnya a-apa yang aku pegan-," ucap Ashel terhenti saat matany melihat ke arah bawah. Dimana tanganya memegang batang yang sudah menegang itu.
"A-apin, ke-napa b-besar banget?" Tanya Ashel.
Kavin sangat ingin tertawa mendengar ucapan gadisnya ini. Sepertinya ia memang tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
"Ini akan lebih besar jika terus kamu pegang," ucap Kavin. Ashel langsung melepaskannya. Ia takut jika Kavin akan melakukannya.
"Kenapa hm? Takut aku lakuin hal itu?" Tanya Kavin. Ashel menganggukan kepalanya.
"Kenapa emangnya? Toh kita akan menikah," ucap Kavin.
"Punya kamu gede. Emang muat?" Tanya Ashel.
Kavin tersenyum mendengar ucapan Ashel. Ia tidak menjawabnya karena ia juga tidak tahu. Mungkin jika mencobanya ia akan tahu jawabannya.
Kavin kembali mencium Ashel. Lagi dan lagi Kavin menciumnya tergesa gesa dan sangat menuntut membut Ashel tidak bisa meladeninya.
Tangan Kavin juga tidak tinggal diam. Ia terus meremas dua benda kenyal yang masih tertutup baju.
Kavin sangat ingin melakukan itu. Namun kembali lagi ia terpikirkan rasa sayangnya pada Ashel. Ia tidak mungkin memaksa Ashel melakukan hal itu meskipun ia sangat menginginkannya.
Lagi dan lagi Kavin harus bersabar dan kembali menunggu karena Kavin yakin mereka akan melakukannya nanti.
Tbc.
Makin sepi🥲
__ADS_1