
Happy reading♡
Pagi harinya, Ashel bangun seperti biasanya. Namun dengan keadaan baju atas terlepas. Suaminya sudah melepaskan squishy-nya dan masih tidur lelap. Ashel melihat area dada dan squishy-nya. Put*ng miliknya sedikit lecet dan juga banyak bercak merah keunguan. Untungnya tidak sampai ke lehernya.
Ashel pun segera bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Setelah selesai ia turun ke dapur untuk membantu mama mertuanya memasak.
Benar saja, Sarah sudah berkutat dengan alat alat masak. Baru pukul enam pagi, langit juga masih sedikit menggelap.
"Pagi ma," sapa Ashel.
"Pagi sayang. Kok udah bangun, emangnya gak cape?" Tanya Sarah.
"Enggak ma, emang cape kenapa?" Ucap Ashel tersenyum. Ia mengambil pisau dan memotong motong sayur di depannya yang sudah tersedia.
"Jangan pikir mama gak tahu sayang, suami kamu itu pasti minta jatah terus kan? Belum lagi dia masih dendam kayaknya gara gara kamu nifas empat puluh hari," ucap Sarah.
Ah, Ashel mengerti kemana arah pembicaraan mama mertuanya ini.
"Iya ma. Mas Kavin emang maksa banget dan sering minta jatah setelah selesai nifas kemarin. Mana dia sering ngambek kalo jatahnya aku kurangin," ucap Ashel. Tidak ada salahnya kan membicarakan soal seperti ini dengan Sarah? Toh dia mamanya Kavin.
"Sabar ya, Kavin itu emang copy-an papanya. Mama juga dulu waktu baru lahiran Kavin, papanya minta jatah terus sampe sampe Kavin harus di urus neneknya. Tapi untungnya mama Nata ngertin mama banget waktu itu," ucap Sarah.
"Mama juga sama loh, ngertiin Riana sama mas Kavin. Mama sama bunda sampe sampe rela ngurusin baby's karena mas Kavin sama Riana. Maafin ya ma," ucap Ashel. Ia memeluk mama mertuanya dari arah samping.
"Sudah seharusnya mama memang seperti itu sayang. Sekarang mama bahagia dan juga tenang. Anak anak mama udah punya pawangnya masing masing. Meskipun dulu mama sering ngotot sama Kavin minta anak itu cepet cepet nikah. Makasih ya, kamu udah terima perjodohan yang direncanakan oleh opa buyut," ucap Sarah.
Ashel menganggukan kepalanya, "Iya ma. Riana juga minta maaf awal awal Riana nolak perjodohan ini. Ya mama bayangin aja, masa masih SMA udah mau nikah aja," ucap Ashel.
"Udah lupain. Mama ngerti posisi kamu saat itu. Santai saja sayang," ucap Sarah.
__ADS_1
Ashel tersenyum dan melanjutkan kegiatan memotong motong sayurannya. Ia bahagia sekali karena memiliki mertua baik seperti Sarah. Dulu ia sering membaca kisah seorang mertua di novel novel miliknya. Sebagian ibu mertua di novel cukup mengerikan. Bahkan Ashel juga cukup takut saat memiliki seorang ibu mertua.
Namun lambat laun, ia mematahkan pemikirannya sendiri. Sikap Sarah dengan tokoh di dunia fiksi sangat bertolak belakang. Memang tidak semua ibu mertua sebaik Sarah namun tidak sedikit juga seorang ibu mertua sama persis seperti tokoh fiksi.
Selesai memasak, Ashel pun langsung mengambil bayi bayinya satu persatu untuk ia mandikan di kamar miliknya. Tadi Ashel dibantu mama mertuanya untuk membawa baby's.
"Mas, jagain Briella sama Ling. Aku mau mandiin Kai dulu," ucap Ashel.
"Mandiin langsung aja mereka bertiga yang, aku bantuin," ucap Kavin. Ia bangun saat kamarnya dimasuki ketiga anak anaknya.
"Ya udah kalo gitu. Ayo anak anak kita ke kamar mandi," ucap Ashel. Usia dua tahun ini ketiga anak Ashel sudah berjalan lancar meskipun terkadang masih terhuyung jatuh.
Ketiga baby's dimasukan oleh Ashel ke dalam bathup yang ada di kamar mandi. Ketiganya bermain air seolah itu sangat menyenangkan.
"Yang, kapan kapan kita ajak mereka berenang yuk. Kayaknya seru deh," ucap Kavin.
"Iya. Hari ini aku sama baby's ikut kamu ke cafe. Suster mereka juga bakalan ikut dan ketemuan disana. Aku investor di cafe kamu, boleh dong ikutan meeting," ucap Kavin.
"Gimana ya? Kalo ada kamu aku gak bisa fokus mas. Mana kamu suka natap terus ke arah aku," ucap Ashel.
"Gak ada penolakan mami sayang. Udah yuk cepet kita beresin mandi baby's. Kasihan mereka kedinginan kalo lama lama," ucap Kavin. Ashel mengangguk dan menyelesaikan mandi baby's.
Ketiga baby's keluar dari dalam kamar mandi. Mereka memakai handuk panjang dari dada sampai lututnya. Ashel memperingati ketiga bayinya untuk berjalan pelan dan mengelap dulu kali sebelum keluar kamar mandi. Ketiga bayinya mengerti dan melakukan hal yang sama.
Ling dengan anteng dipakaikan telon dan baju oleh mamanya. Sementara Kai masih berlarian kesana kemari karena memang belum dipakaikan baju. Tiba tiba anak itu masuk ke dalam lemari kaca yang berisi tas mamanya.
Karena suhu tubuh Kai yang hangat, jadi saat pintu lemari kaca tertutup, suhu di yang keluar dari dalam tubuh Kai meluap dan mengembun di kaca itu. Tiba tiba anak itu mendekatkan wajahnya ke kaca. Hanya mulut, hidung dan matanya yang terlihat.
__ADS_1
"Astaga, yang anak kamu," ucap Kavin kemudian tertawa terbahak bahak melihat tingkah anaknya. Tadi Kavin celingukan mencari keberadaan bocah itu ternyata dia sudah masuk ke dalam lemari istrinya.
"Astaga Kai, kamu ngapain sih?! Keluar sini pake baju," ucap Ashel berkacak pinggang. Wanita itu membuka lemari kaca itu dan menuntun anaknya keluar.
"Baaa," ucap Kai.
"Gak lucu Kai. Udah diem duduk anteng, mami pakein baju dulu," ucap Ashel. Ia sedikit kesal dengan anaknya yang random ini.
"Bbaa-u," ucap Kai.
"Wangi sayang. Bukan bau, masa minyak telon bau," ucap Ashel.
"Anak kita random banget astaga. Perasaan aku sama kamu gak kayak gitu yang," ucap Kavin. Ia mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air. Sungguh sangat ia terus tertawa melihat tingkah random anaknya itu.
"Aneh tapi ini anak aku juga," ucap Ashel.
Setelah selesai memakaikan baju pada baby's, Ashel meminta Kavin mandi duluan sementara dia akan memberikan makan pagi pada bayi bayinya. Ketiga bayinya duduk diatas kursi khusus bayi untuk makan. Setelah selesai Kavin bergantian berjaga. Ia mengajak anak anaknya bermain sembari menunggu maminya.
Ashel dan Kavin turun ke lantai satu untuk makan pagi. Sudah pukul setengah delapan dan waktunya sarapan. Saat sarapan baby's bermain dengan pelayan disini.
Tiga puluh menit berlalu, Ashel dan Kavin pun segera pergi ke cafe milik istrinya yang berada di pusat kota. Entah meeting seperti apa yang akan dihadiri istrinya. Tidak biasanya ia meminta meeting dadakan.
"Suster gimana?" Tanya Ashel.
"Mereka udah di tempat," ucap Kavin.
"Bagus deh, nanti mereka biar main di rooftop cafe aja. Disana ada taman bermainnya," ucap Ashel.
Tbc.
__ADS_1