
Haiii guyss. Im backkk😘
Jadi, buat yang masih bingung, aku jelasin deh. Dona itu temen lama Ashel. Mereka satu sekolahan waktu smp. Nah pas SMA dona pindah ke jakarta dengan maksud melupakan liam. Tapi dendamnya masih ada buat ashel. Selama di jakarta juga dia sering memantau keberadaan ashel tapi belum bertindak.
Ternyata takdir punya rencana lain. Ashel harus pindah dari Bandung ke Jakarta dan disini dia ketemu lagi dong sama Dona. Dan parahnya mereka satu kelas. Coba deh baca lagi di bab sebelumnya. Pas ashel masuk sma praja. Pasti ngerti.
Dona balas dendam sama Ashel karena kematian Liam. Padahal liam masih.... rahasia wkwk.
Vote komen yaa, aku udh crazy up. Rameinnnn🔥🔥🔥
.
.
.
Happy reading♡
Bukan hanya Kavin, namun Ardian pun sama. Ia juga mengerahkan semua bawahannya untuk mencari Ashel.
Kavin dan Ardian bekerja sama untuk mencari Ashel. Beruntung Ardian bisa melacak ponsel milik Ashel karena ponsel itu sepertinya sempat dihidupkan seseorang.
Hari itu juga Kavin dan Ardian langsung berangkat ke lokasi dimana ponsel Ashel berada. Mungkin dari sana mereka bisa menemukan keberadaan Ashel. Meskipun kecil kemungkinannya.
Kavin dan Ardian menghabiskan waktu berjam jam untuk bisa sampai ke salah satu tempat yang ada di Indonesia. Kalimantan Barat adalah temapt yang dituju oleh Kavin dan Ardian.
Mereka berdua mendapatkan informasi dari masing masing detektif yang mereka sewa. Lokasi yang mereka dapatkan sama yaitu Kalimantan Barat.
Ardian mencoba kembali menghubungi ponsel Ashel. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya telepon Ashel pun diangkat.
Ardian senang bukan main. Namun sayangnya yang mengangkat telpon itu bukanlah Ashel tapi orang lain. Ardian sempat berbincang dengan orang itu dan menanyakan dimana posisinya.
Lokasinya masih sama sama di Kalimantan Barat. Namun karena luasnya Kalimantan Barat membuat Kavin dan Ardian sedikit bingung akan mulai mencari dimana. Itu sebabnya mereka akan menemui orang yang menemukan ponsel Ashel terlebih dahulu.
Ardian membuat janji dengan orang ini. Setibanya mereka di Kalimantan Barat, mereka langsung bergerak ke lokasi orang itu.
Jarak dari bandara menuju ke lokasi orang ini cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Ardian dan Kavin sepakat hanya membawa dua mobil saja dan beberapa bodyguard juga. Mereka berdua keluar dari dalam mobil. Terlihat seorang pria remaja tengah menunggu mereka.
"Apa kalian yang menghubungi ponsel ini?" Tanya anak remaja itu.
"Iya kami yang menghubunginya. Kamu dapat ponsel ini dari mana?" Tanya Ardian.
"Aku menemukannya tidak sengaja saat pergi mencari kayu ke hutan," ucapnya.
__ADS_1
"Siapa nama mu?" Tanya Ardian.
"Reza."
"Apa kau bisa menunjukan dimana hutan tempat kau mencari kayu?" Tanya Kavin.
"Bisa. Ayo ikuti aku," ucapnya. Remaja itu pun memimpin jalan masuk ke dalam hutan. Kavin dan Ardian mengikuti mereka dengan dua bodyguard.
Jarak dari tempat mereka memarkirkan mobil ke dalam hutan cukup jauh. Ardian dan Kavin terus masuk ke dalam hutan. Saat ini Kavin yang memegang benda pipih milik Ashel itu.
Baterai ponselnya sebentar lagi akan habis. Kavin menatap sendu pada wallapaper ponsel. Itu adalah fotonya dan Ashel ketika mereka sedang bersama.
"Aku menemukannya tepat di dekat pohon itu," ucap Reza menunjuk sebuah pohon.
"Apa kau yakin disini?" Tanya Kavin.
"Aku yakin dan masih ingat. Kemarin aku menemukannya disini dan membawanya pulang. Ternyata setelah aku hidupkan ada notifikasi telepon masuk dan aku mengangkatnya saja. Karena mungkin orang yang menelepon ku kemarin adalah orang yang memiliki ponsel ini," jelas Reza.
Kavin dan Ardian saling pandang. Apa mungkin ini sebuah petunjuk?
"Hutan apa ini?" Tanya Ardian.
"Hutan sungai bening. Kalian harus hati hati disini. Ini masih area sekitar yang dekat dengan pemukiman warga. Jangan coba coba berjalan terlalu jauh ke dalam hutan. Banyak sekali binatang buas disana," peringat Reza.
"Kalian hanya sampai area sini jika mencari kayu?" Tanya Kavin.
Ardian pun mengangguk dan memberikan setumpuk uang pada Reza sebagai ucapan terimakasih. Setelah itu Ardian meminta Reza untuk pulang dan merahasiakan kejadian ini.
***
Sudah tiga hari berlalu, Ashel masih disekap oleh Dona. Setiap harinya Ashel selalu disiksa oleh Dona.
Tubuh Ashel sudah penuh dengan luka. Apalagi luka yang parah ia dapatkan di area perutnya. Luka itu masih belum diobati. Bahkan darahnya juga sudah mengering.
Selama tiga hari ini, jangankan untuk makan. Sekedar untuk menghilangkan haus saja Ashel tidak bisa. Dona tidak hanya menyiksa bagian luar tubuh Ashel tapi bagian dalamnya juga.
Bibir Ashel yang biasanya terlihat sehat kini sangat kering. Wajah Ashel juga sangat pucat.
Saat ini, tangan Ashel masih digantung oleh Dona. Pergelangan tangan Ashel sudah memerah karena ikatan tali yang mengikat tangannya.
Sepertinya sudah pagi namun anehnya Dona masih belum datang. Biasanya pagi pagi sekali Ashel akan di cambuk lagi.
"Gue harus bertahan," gumam Ashel pelan.
Ia harus tetap bertahan meskipun rasanya ia sudah tidak kuat. Luka di perutnya semakin terasa sakit. Entah sampai kapan ia bisa bertahan.
__ADS_1
Luka di bagian atas tubuh Ashel terlihat jelas karena ia masih menggunakan baju yang sama saat ia dibawa kesini.
Rambut Ashel sudah berantakan karena sering dijambak oleh Dona. Bagian wajahnya juga sudah lebam lebam.
Brakkk...
Dona menendang pintu yang menutupi ruangan dimana Ashel berada. Ia tersenyum licik saat melihat musuhnya terdiam lemas tak berdaya.
"Cek dia," titah Dona padv bawahnnya.
Seorang pria bertato pun mengangguk dan mengecek keadaan Ashel.
"Dia masih hidup tapi nadinya lemah. Kita apakan dia bos? Bunuh langsung atau kita biarkan lagi?" Tanyanya.
"Gue pengen dia disengat listrik," ucap Dona.
"Tapi bos, barang yang adan inginkan masih dalam perjalanan. Sepertinya akan sampai nanti malam," ucap bawahannya.
"Selagi nunggu alat sengat listrik itu, lo masukin kaki dia ke es batu lagi. Gue suka kalo nanti dia lumpuh," ucap Dona.
"Baik bos," ucapnya. Dia pun kembali menyiapkan sebaskom penuh berisi pecahan es batu.
Saat kaki Ashel diangkat untuk masuk ke baskom itu, tiba tiba ia menendang pria itu.
"BAJING*N!! BERANI BERANINYA LO NGELAWAN," ucap Dona. Ia pun melayangkan cambukan pada Ashel.
"HAHAHA, MAKANYA JANGAN BERANI LAWAN GUE ANJ*NG."
Setelah kaki Ashel berada diatas tumpukan es batu. Mereka semua kembali meninggalkan tempat Ashel disekap.
Dona sudah bersiap memasuki lagi mobilnya, namun terhenti karena panggilan dari anak buahnya.
"Bos, barang yang anda inginkan mendapat kendala dalam perjalanan. Mereka di hadang polisi jadi mereka memutuskan kembali mengundur kedatangan barang itu," ucapnya.
"Sialan. Dasar orang orang gak berguna! Terserah yang penting benda itu sudah ada disini besok pagi. Jika tidak kalian sendiri yang akan aku habisi," ancam Dona. Ia pun kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Para bawahannya bergidik ngeri mendengar ucapannya itu.
Mereka kembali bertugas menjaga di area luaran rumah tua itu. Banyak sekali orang yang bekerja untuk Dona. Mereka semua bertugas di sekeliling rumah itu.
Setelah Dona dan bawahannya pergi. Ashel berusaha menggerakan kakinya untuk keluar dari baskom berisi es batu.
Kakinya seperti sudah mati rasa. Luka luka di kaki Ashel kembali mengeluarkan darah.
"S-sakit," gumamnya. Air mata pun turun karena Ashel sudah tidak mampu lagi menahannya.
__ADS_1
Tbc.