
Happy reading♡
Dua minggu berlalu Kavin pergi meninggalkan istrinya ke Jepang. Bukan tanpa alasan ia pergi ke negara sakura ini, ada beberapa hal yang harus ia urus yang mengharuskan ia LDR dengan istrinya.
Beberapa hari terakhir, istrinya terus meneleponnya untuk menanyakan kabarnya namun Kavin belum bisa bicara dengannya. Saking sibuknya dengan pekerjaan ia bahkan lupa makan teratur.
Hari ini, Kavin baru selesai meeting kedua kalinya dengan clientnya. Ia memijat pelipisnya. Kepalanya cukup pening karena kurang tertidur.
Ia mengambil ponselnya untuk mengecek notifikasi whatsapp dari istrinya.
...My Life❤️...
[07.00] Mas lagi apa?
[07.00] Mas udah makan? Jangan lupa sarapan pagi. Kerja boleh tapi jangan sampe sakit.
[08.30] Mas sibuk banget ya?
[08.32] Hari ini aku makan ayam goreng di kantin sama Ayu sama Fello juga. Tapi Fello buru buru pergi gatau kenapa.
[10.30] Kelasnya pak Giant, males banget. Itung itungan mulu pelajarannya.
[12.30] Aku ijin ke toko buku ya? Ditemenin Ayu kok.
[14.40] Maaf aku ketiduran sehabis pulang dari toko buku. Mas jangan telat makan. Cepet pulang.
[18.00] Malam suamikkk. I really miss u mas❤️
5 panggilan video tak terjawab.
[18.02] Baru sempet chat lagi, tadi aku ada zoom sama kak Angel sama Sergio juga buat urus cafe aku.
[18.30] Mama sama bunda kangen katanya mas. Aku juga kangen mereka, tapi lebih kangen sama kamu.
[20.20] Sibuk banget ya? Aku telpon sampe gak diangkat. Cepet pulang.
[21.01] Aku bobok dulu ya. Mas jangan bedagang. Cepet pulang.
Begitu kurang lebih isi pesan singkat istrinya. Kavin merasa bersalah karena beberapa hari ini merasa mengabaikan istrinya.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Sepertinya istrinya juga sudah tertidur. Ia tidak mau menggangu tidur istrinya.
"Josh, apa jadwal ku sudah selesai disini?" Tanya Kavin pada Josh. Kebetulan Josh dan Alin ikut bersamanya ke Jepang.
"Sepertinya sudah selesai tuan. Semua client sudah setuju. Kita tinggal lakukan produksi saja agar bulan depan bisa cepat terealisasi," ucap Josh.
__ADS_1
"Jadi besok jadwal ku kosong?" Tanya Kavin.
Josh menganggukan kepalanya, "Besok hanya tinggal saya dan Alin yang meninjau lokasinya. Lebih baik anda istirahat. Saya mendapat amanat dari nyonya muda, anda tidak boleh terlalu lelah."
"Kalau begitu beritahu Jo, malam ini aku akan pulang ke Boston," ucap Kavin membuat Alin kicep sementara Josh sudah terbiasa.
"Baik tuan," ucap Josh. Ia dan Alin pun keluar dari dalam ruangan Kavin.
Josh dan Alin berjalan bersama menuju ke ruangan mereka masing masing.
"Maaf tuan Josh, apa tidak apa apa tuan muda langsung pulang?" Tanya Alin.
"Ini sudah biasa Alin. Tuan sangat menyayangi istrinya. Mau selelah apapun beliau, beliau pasti akan cepat pulang ke istrinya," ucap Josh.
"Nyonya Kavinder sangat beruntung sekali," gumam Alin yang masih bisa didengar oleh Josh.
"Kau menyukai tuan muda?" Tanya Josh.
Alin langsung menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin saya menyukai beliau. Saya hanya kagum saja padanya tidak lebih dari itu. Lagi pula, tuan muda hanya menyukai nyonya Kavinder."
"Baguslah kalau begitu. Jangan mempersulit diri sendiri," ucap Josh yang mengandung makna.
"Tentu saja. Aku sudah bersyukur sekali karena bisa bekerja di perusahaan besar ini. Selain itu tidak ada lagi yang aku inginkan," ucap Alin.
***
Namun ternyata tidak. Pesan pesan yang ia kirim hanya dibaca saja oleh suaminya itu.
"Awas aja kamu mas. Aku pitek pitek kalo kamu pulang," gumam Ashel. Ia pun melempar ponsel bobanya ke atas kasur dan pergi ke dapur.
Perasaanya sangat tidak mood sekali. Padahal ia baru bangun seharusnya ia merasa baik bukan? Namun kenyataannya tidak.
Suaminya terlalu sibuk bekerja sampai sampai ia dilupakan.
Ashel membuka lemari es dan mengambil tiga biji anggur kemudian menutupnya lagi. Ia mulai memakannya.
"Laper banget heran. Padahal tadi sebelum tidur gue makan," gumam Ashel.
Ia pun mengambil mie instant dan merebusnya. Ia juga memanaskan ayam goreng di microwave.
Setelah semuanya siap, ia pun membawanya ke depan tv. Ashel duduk dan menyalakan tv. Tiba tiba saja rasa kantuknya menghilang. Jadi lebih baik ia menonton netflix saja.
Pelan pelan Ashel memakan mie instantnya. Diluar rumah banyak bodyguard yang jaga malam. Ini sudah rutin terjadi sejak lama. Sedangkan bi Sati dan pelayan lain mungkin sudah terlelap.
Ashel memang sengaja tidak pernah membangunkan pelayannya untuk membuatkannya makanan. Kasihan saja mengganggu tidur mereka.
__ADS_1
Mereka memang dibayar untuk selalu menuruti perintah Ashel, namun Ashel tidak sekejam itu. Ia masih bisa masak sendiri.
Tiga jam berlalu, mie instant dan ayam goreng sudah raip masuk ke perut Ashel. Ia tidak kembali ke kamarnya. Rasanya malas untuk kembali berjalan kesana. Jika saja ia bisa melakukan teleportasi, mungkin hidupnya akan lebih mudah.
Ashel merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk yang ada di depan tv. Lambat laun matanya mulai kembali terpejam.
Tv tetap menyala. Menemaninya untuk tertidur lagi setelah kenyang makan.
***
Kavin sudah tidak sabar ingin cepat cepat memeluk istrinya. Beruntung ia memiliki jet pribadi jadi ia tidak perlu menunggu lama untuk sampai pada istrinya.
Sekitar pukul tujuh pagi, Kavin baru sampai di Boston. Tepatnya di rumahnya.
Para pekerja menyambutnya saat ia datang. Kavin terburu buru masuk. Mengabaikan pelayan yang membungkuk padanya.
Hingga panggilan bi Sati menghentikannya.
"Tuan, Nyonya ada di ruang tengah depan tv. Tadi bibi hanya mematikan tvnya dan tidak berani membangunkan nyonya. Beberapa hari ini tidur nyonya tidak nyenyak," ucap bi Sati.
"Tapi dia makan teratur kan?" Tanya Kavin.
"Nyonya bahkan sering makan malam hari tuan. Katanya ia sering lapar," ucap bi Sati.
"Baiklah. Terimakasih sudah menjaganya," ucap Kavin. Ia pun pergi untuk melihat istrinya.
Sangat tidak sabar. Rindunya akan terobati saat ini.
Jarak memang memisahkan mereka beberapa minggu yang lalu. Namun beruntungnya Kavin bisa cepat cepat kembali untuk mengobati rasa rindunya.
Disini bukan hanya Ashel yang tersiksa karena rindunya terhadap suaminya. Bahkan Kavin pun merasakan hal yang sama.
Obat dari segala kerinduan adalah pertemuan. Untuk itu Kavin rela tidak langsung istirahat agar bisa bertemu istrinya.
Jarak dari Jepang ke Boston memang cukup jauh. Namun Kavin mampu menempuhnya dengan jet pribadinya.
Kavin tersenyum melihat istrinya yang masih tidur meringkuk diatas sofa. Beruntung sofa ini cukup besar jadi istrinya tidak akan kesusahan jika ingin bergerak.
"I miss you my wife," ucap Kavin kemudian mengecup kening istrinya sayang.
Tbc.
Kalo ada typ maapin y guyss
__ADS_1