My Little Wife

My Little Wife
Bab 284 : Diculik


__ADS_3

HARI INI AKU UP 5 BAB. RAMEIN POKOKNYA😠😠😠


.


.


.


Happy reading♡


Sejak kejadian Ardian membuat keadaannya porak poranda, Liam menjadi semakin ingin segera menculik Ashel dan membawanya pergi dari sini. Liam sudah menyiapkan satu tempat yang indah untuknya dan untuk Ashel.


Karena kelakuan Ardian yang mengebom gudang miliknya sehingga sampai menghancurkan semua senapan dan pistolnya, Liam banyak mengalami kerugian. Bahkan ia juga merugi akibat semua wanita yang dilepaskan oleh Ardian tak satu pun Liam dapatkan kembali. Liam bahkan harus mengeluarkan semua uang yang ia miliki.


Sudah sejak lama Liam mengikuti Ashel kemana mana. Waktu itu Ashel hanya diikuti oleh orang suruhannya dan sampai saat ini tidak ada hasil apapun untuk membuat Ashel kembali padanya seperti dulu. Jadi saat ini ia yang turun langsung. Ia bahkan mengikuti kemana saja Ashel pergi saat ini. Mulai dari rumah sakit, restoran, dan saat ini di store perlengkapan bayi.


Sejak tadi Liam berusaha untuk mencari celah agar bisa membawa Ashel pergi namun sangat sulit. Sepertinya Kavin sengaja selalu berdekatan dengan Ashel agar dirinya tidak bisa membawa Ashel pergi. Cukup lama ia menunggu sampai sampai ia harus melihat adegan memuakan antara Ashel dan Kavin. Namun akhirnya ia menemukan celah.


Saat Kavin berjalan lebih dulu dan Ashel diam saja. Saat itu ia langsung mendekat ke arah Ashel. Ia meringkus Ashel sampai sampai wanita itu menjerit. Liam menggunakan masker dan topi sehingga Ashel tidak dapat mengenalinya.


"MAS KAVIN. TOLONG," teriak Ashel. Tangannya berusaha melepaskan cekalan tangan pria ini di lehernya.


"LEPASIN DIA," ucap Kavin. Ia berusaha mendekat ke arah istrinya namun pria itu menodongkan pistol ke kepala istrinya. Gerakan Kavin terhenti.


"Lepas," ucap Ashel. Ia sudah mengeluarkan air matanya sejak tadi.


"Ssttt, don't cry my angel. It's me," ucapnya. Ashel terkejut mendengar suara ini. Suara ini adalah suara yang sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


"L-li-am."


"Yeah, im."


"Jangan berani lo mendekat kalo lo gak mau istri tercinta lo gue tembak," ucap Liam. Bahkan seluruh penghuni toko ikut terkejut melihat seorang wanita yang disandera oleh pria itu.


Sedangkan Liam membawa Ashel berjalan keluar store. Ashel hanya bisa mengikuti perintah Liam. Jujur saja ia sangat ketakutan saat ini. Ia takut terjadi apa apa padanya termasuk anak anaknya ini. Liam menyuruh Ashel masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Kavin langsung menghubungi Ardian. Ia juga ikut mengejar mobil yang membawa istrinya. Kavin memacu mobil miliknya agar bisa mengejar mobil di depannya. Beberapa bodyguard juga ikut mengejar bos mereka dengan mobil yang lain. Namun sialnya dari arah depan, ada beberapa peluru yang menuju ke arahnya. Sepertinya ia sengaja melakukan itu agar Kavin berhenti mengejar mereka.


Peluru itu tepat mengenai ban mobil Kavin sehingga mobil Kavin kehilangan keseimbangan dan menubruk pohon di sebelah jalan. Ashel yang melihat hal itu pun terkejut saat melihat suaminya menabrak pohon.


"MAU LO APA LIAM? LEPASIN GUE. GUE GAK PERNAH BIKIN SALAH SAMA LO," teriak Ashel. Ia berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Liam.


"Salah, lo punya salah sama gue karena lo nikah sama orang lain dan bahkan sampai hamil," ucap Liam.


"LO GAK PUNYA HAK NGATUR NGATUR GUE MAU NIKAH SAMA SIAPA JUGA," ucap Ashel. Emosinya semakin menaik saat melihat tingkah Liam yang seenaknya.


Satu tamparan melayang pada pipi Ashel karena tangan Liam. Ashel bahkan sampai membuang mukanya saking kencangnya tamparan itu. Bahkan pipi Ashel sudah memerah.


"Lebih baik lo diem aja. Gak usah banyak teriak," ucap Liam.


Ashel terisak. Seumur hidupnya tidak pernah ada yang berprilaku kasar padanya. Bahkan ayahnya juga tidak pernah kasar kepadanya. Menikah dengan Kavin pun Ashel tidak pernah melakukan tindakan kasar padanya. Baru kali ini ada pria yang menamparnya dan itu adalah Liam.


Liam sendiri terdiam melihat Ashel yang terisak nangis. Ia tidak peduli dengan tangisan wanita itu. Yang jelas dia harus diam.


***

__ADS_1


Kavin terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan yang ia alami. Kepalanya berdarah dan ada beberapa pecahan kaca mobil yang mengenai tubuhnya. Ardian sampai kesana dan langsung membantu Kavin. Ia juga sudah meminta Max untuk mengikuti mobil Liam.


Kavin sedang ditangani dokter. Ardian menunggunya diluar ruangan sembari memantau ipadnya yang menampilkan tayangan video online yang tersambung ke mobil yang ditumpangi Max. Video itu menayangkan kemana mobil Liam membawa adiknya.


"Bandara. Cih, lo pikir lo bisa bawa adik gue pergi? Tidak semudah itu pembunuh sial*n," gumam Ardian.


Ardian menghubungi Rafello untuk segera datang ke rumah sakit karena ia harus segera ke bandara. Beruntung ia sudah menempatkan beberapa bawahannya di bandara dan juga pelabuhan. Ia sudah menduga hal ini. Ardian sudah tidak sabar ingin membunuh Liam. Maka dendamnya akan terbalas.


Ayah dan Ibu Liam meninggal saat ia sedang berkuliah di Boston. Orang tuanya kecelakaan akibat menghindari seorang anak yang sedang menyebrang tiba tiba. Saat itu ayahnya menjalankan mobil dalam kecepatan tinggi. Ia tidak bisa mengerem mendadak sehingga ayahnya membantingkan stir mobilnya ke samping.


Ternyata dari arah itu, sebuah truk melaju. Terjadilah kecelakaan besar yang sangat fatal. Kepala ayah Arduan hampir putus karena pecahan kaca yang mengenai lehernya, sedangkan ibunya meninggal karena pecahan kaca mengenai jantungnya.


Saat itu Ardian terus mencari penyebab kecelakaan itu. Kecelakaan yang mengharuskan ia kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan banyak bukti. Ia dibantu Max. Max adalah asisten ayahnya. Namun kini bekerja pada Ardian.


Setelah mencari tahu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Ardian mengetahui siapa penyebab kecelakaan kedua orang tuanya. Selama ini Ardian mencari keberadaan bocah itu namun ia kesulitan menemukannya setelah ia tahu bocah itu yang menyebrang sembarangan.


Takdir terlalu menyakitkan untuknya. Takdir seakan selalu mempermainkan hidupnya. Ternyata bocah itu adalah teman dekat adiknya. Dari situlah Ardian mengetahui dimana letak keberadaan bocah itu. Namun Ardian belum bisa membuatnya mati. Ia ingin bocah itu disiksa terlebih dahulu agar apa yang ia rasakan selama ini dirasakan oleh orang itu juga.


"Apa kau sudah tahu dimana lokasinya saat ini?" Tanya Ardian pada Max melalui telepon.


"Sesuai dugaan anda. Dia ke bandara dan sudah memasuki salah satu pesawat milik anda. Nyonya Natapraja dalam keadaan baik baik saja namun ia menangis tadi," ucap Max.


"Sialan. Berani dia membuat adik ku menangis. Awas saja. Tetap awasi dia," ucap Ardian.


Ia akan membiarkan Liam membawa adiknya. Kemana pun itu. Karena Ardian akan menemukannya. Liam tidak tahu seberapa mengerikannya Ardian.


__ADS_1


Tbc.


Ig : @oviealkhsndi @cocoretanayc_


__ADS_2