
Kenzo menghadang Vanes yang hendak keluar dari rumah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Kenzo.
"Pergi." Jawab Vanes singkat.
Vanes menabrak bahu Kenzo. Kenzo hanya bisa menghela nafas. Dia menatap kepergian Vanes yang entah akan pergi kemana.
Kenzo merasa tidak tegas untuk menghadapi sikap Vanes. Apa yang harus di lakukannya jika sudah seperti ini. Mengejar Vanes pun tak ada gunanya.
***
"Juna?" Panggil Vanes ketika Juna sudah sampai di pintu cafe.
Mereka berdua sepakat untuk bertemu di cafe. Tempat dimana dulu mereka bertemu hingga menjalin asmara.
Juna menghampiri Vanes. "Vanessa? Apa kabar?"
"Bad." Jawab Vanes sambil mengangkat bahunya acuh.
Juna menaikkan satu alisnya. "Bad? Kenapa? Ada masalah dengan Kenzo?"
Vanes mengangguk. "Aku merasa jika rumah tanggaku dengan Kak Kenzo sudah tidak harmonis lagi. Apalagi aku telah kehilangan satu janinku, Jun. Papa sama Mama mengadopsi anak lagi. Dan penyebab aku kehilangan janinku adalah dia."
"Astaga, Vanes. Dia yang kamu maksud itu anak yang diadopsi oleh orang tuamu?" Tanya Juna.
Lagi-lagi Vanes mengangguk. "Aku dendam dengan dia. Aku sempat menculiknya dan hampir saja membunuhnya. Tapi, Kak Kenzo mengetahuinya."
"Kamu masih sama seperti dulu." Kata Juna.
"Kamu tahu aku kan? Aku rasa, aku masih ingin membalasnya. Bagiku, nyawa harus di bayar dengan nyawa." Kata Vanes.
"Siapa namanya? Bisa kamu tunjukkan foto?" Tanya Juna.
Vanes mengeluarkan foto Hana yang sudah di cetaknya. "Ini. Dia bernama Hana. Entah dari mana asalnya, aku tidak tahu. Yang ku tahu hanyalah dia adalah anak yatim piatu."
"Sudah lama dia tinggal di rumahmu?"
"Sudah."
"Aku bisa mengatasi dendam ringanmu itu, Vanes. Tapi, aku tidak sampai hati jika harus membunuh orang." Balas Kenzo. Matanya menatap lekat foto Hana. Otaknya berfikir keras, rencana yang di susun untuk Hana harus lebih matang. "Aku butuh orang untuk menculik Hana."
"Orang untuk menculik Hana? Masih ingat dengan Dani dan Tirta?"
"Ya. Aku ingat dengan mereka berdua. Pemilik club ternama di kota ini. Aku sering berkunjung kesana." Jawab Juna.
"Mereka berdua bisa menolongmu, Jun. Aku tidak bisa apa-apa disini. Aku harus lebih berhati-hati dalam setiap langkah. Aku tak ingin kehilangan janin untuk yang kedua kalinya."
"Aku tahu kondisimu. Untuk dendammu, serahkan saja kepadaku. Jaga kesehatanmu. Jaga kehamilanmu. Bilang lah kepadaku jika kamu butuh sesuatu." Juna menatap Vanes.
"Iya. Terima kasih."
__ADS_1
"Apa Kenzo tahu hal ini? Maksudku, tentang kehamilanmu?"
"Kak Kenzo hanya tahu jika aku keguguran. Awalnya aku juga mengira keguguran, tapi ternyata, satu janinku masih hidup."
"Kenapa kamu tidak memberi tahu? Agar Kenzo lebih menjagamu." Seru Juna.
"Mungkin aku terlalu sayang dan cinta dengan Kak Kenzo, aku tidak memberi tahunya karena saat ini dia sedang sibuk dengan urusan proyek barunya." Vanes mendesah pasrah. "Aku bingung harus bagaimana. Rasanya, aku tidak betah di rumah. Aku takut bertengkar lagi dengan Kak Kenzo."
"Masalah dalam rumah tangga itu wajar. Jangan lari dari masalah. Jika bisa, selesaikan masalahmu dengan Kenzo."
"Aku..Aku takut kita berdua bertengkar lagi. Aku takut nantinya stres dan berakibat fatal dengan kandunganku, Jun." Balas Vanes.
"Jika masalahmu dengan Kenzo belum selesai, selamanya akan menghantuimu. Sampai kapan kamu akan bersembunyi dari pertengkaran ini?"
***
Dentuman musik club menggema dengan seksama di telinga Kenzo. Kakinya ikut bergerak mengikuti irama. Di hadapannya, ada Andini yang ikut menggerakkan kakinya.
"Ada masalah?" Tanya Andini.
Kenzo meneguk habis segelas alkohol. "Iya."
"Apa? Ceritalah." Suruh Andini.
"Aku bertengkar lagi dengan Vanessa. Aku bingung harus bagaimana menghadapinya." Ucap Kenzo serak.
Efek alkohol mulai bereaksi. Kepalanya pusing hebat. Sekitarnya nampak berputar-putar.
Andini tersenyum. "Aku bersedia memanjakanmu malam ini, sayang."
***
08.00
"Sari! Ani!" Panggil Vanes.
"Iya, Nyonya?" Sari datang dengan apron putihnya.
"Ada apa, Nyonya?"
"Dimana Kak Kenzo?" Tanya Vanes. "Kenapa dia belum turun."
"Maaf, Nya, Tuan Kenzo belum pulang dari kemarin malam. Kami tidak tahu keberadaannya sekarang." Jawab Ani.
Dada Vanes rasanya sesak. Kemana perginya Kenzo. Vanes frustasi. Dia pergi ke kamarnya. Menguncinya. Menutup semua kelambu sehingga tak ada sinar yang masuk ke dalam kamarnya.
Tangisnya langsung pecah. Tangannya di gunakan untuk mengelus perutnya yang terasa nyeri. Vanes benci ini. Dia pernah merasakan sakitnya ini.
Kenzo. Hanya itu. Mengingat kenangan manisnya bersama Kenzo membuat Vanes semakin sedih. Entah kemana perginya Kenzo saat ini. Tak ada kabar darinya. Bahkan, telefon atau sekedar pesan saja tidak ada.
Vanes merasakan ketidakharmonisan dalam rumah tangganya. Rumah tangganya sudah tidak seperti dulu lagi. Akhir-akhir ini, banyak sekali yang di ributkan dengan Kenzo.
__ADS_1
"Argh! Kak Kenzo!" Erang Vanes frustasi kemudian semuanya gelap. Dia pingsan.
***
Kenzo bangun dari tidurnya. Hal yang di dapati ketika bangun tidur adalah cat tembok berwarna biru tua yang jelas bukan kamarnya.
Di sebelahnya, ada Andini yang tak memakai sehelai benang pun tidur sambil memeluknya. Kenzo terlonjak. Hingga, Kenzo teringat apa yang telah di lakukannya semalam.
"Tidak! Aku tidak melakukannya. Tidak!"
Kenzo segera memakai kembali pakaiannya. Tak peduli dengan Andini yang masih tidur. Yang terfikir olehnya adalah segera keluar dari tempat ini.
Saat di mobilnya, telefon Kenzo berbunyi. Ketika di cek siapa penelfonnya, ternyata telfon dari rumah.
"Halo?"
'Tuan..Nyonya..'
"Ada apa? Kenapa? Ada apa dengan Vanessa?"
'Nyonya, mengunci dirinya di kamar, Tuan. Sa..Saat saya ketul, tak ada sahutan darinya. Saya takut ada apa-apa dengan Nyonya.'
Kenzo mematikan telefonnya secara sepihak. Kejadian buruk selalu datang begitu saja ke kehidupannya.
***
"Bagaimana? Sudah agak mendingan?" Tanya Kenzo. Tangannya di gunakan untuk mengelus kepala Vanes.
Vanes hanya mengangguk lemah. Dalam lubuk hatinya, dia bersyukur Kenzo tidak membawanya ke rumah sakit.
"Syukur. Kamu istirahat ya?"
"Semalam, kamu habis dari mana, kak?" Tanya Vanes to the point.
Kenzo langsung gelagapan. "A..Aku di kantor semalam sama Bagas."
"Siapa Bagas?"
"Orang kepercayaan baru." Jawab Kenzo.
"Oh."
Telefon Kenzo kembali berdering. Di lihat nama penelfonnya. Mata Kenzo langsung terbelalak.
"Andini?"
_____
HappyReading♥️
#Malangmauhujan
__ADS_1