
"Mungkin lagi singgah di tempat temannya." Lanjut Tante Ema.
"Yaudah kalau gitu Ma, biar Lea coba hubungi Zico lagi."
"Baik sayang. Besok kalau ada waktu, main ke resort ya."
"Baik Ma." Lea mematikan panggilan telpon itu. Hatinya sempat menerka-nerka. Namun secepat mungkin ia menepis perasaan yang sedikit mengganggunya itu.
"Kau sedang menungguku?"
Azalea langsung menoleh ke arah sumber suara, akhirnya yang ditunggu pun tiba.
"Siapa lagi yang aku tunggu di rumah ini selain Anda, Tuan Zico!"
Zico terkekeh, lalu mengecup puncak kepala Azalea, sebelum akhirnya duduk tepat dihadapannya.
"Boleh kita makan sekarang? Aku sudah sangat lapar." Imbuh Zico yang sudah bersiap untuk melahap makanan yang tersaji dihadapannya.
"Silahkan, kalaupun aku bilang tidak boleh. Kau akan tetap makan, bukan?" Diiringi kekehan pelannya.
__ADS_1
"Kau benar!"
***
"Apa hari ini aku boleh menemui Queen?" Tanya Azalea pada Zico yang sedang merapikan rambutnya didepan kaca. Ia bersiap untuk ke resort lagi pagi ini. Awalnya Azalea minta ikut ke resort, namun Zico melarangnya.
"Kau dirumah saja, biar aku jemput Queen dan membawanya kesini sepulang dia sekolah." Imbuh Zico, setelah selesai dan merasa penampilannya sudah rapi ia menghampiri Azalea yang masih berada di atas tempat tidur. Mengecup lembut bib*r Azalea. "Aku pergi dulu." Ia pun beralalu pergi.
Tidak di Lodon, tidak juga di Indonesia. Zico benar-benar sibuk dan gila kerja akhir-akhir ini. Azalea hanya bisa menghela nafas dan menunggu dirumah. Seperti permintaan Zico!
Ia bangkit dengan tergesa, masuk kekamar mandi dan muntah. Morning sickness nya melanda lagi.
Azalea menatap dirinya yang berantakan di depan cermin wastafel setelah muntah. Ia menghela nafas dalam, tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba saja menghampirinya. Ia tidak ingin berburuk sangka, namun entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya.
Semakin ia menatap pantulan dirinya didepan cermin itu, semakin ia ingin menangis rasanya.
"Ada apa denganmu Lea? Mengapa kau menangis." Gumam Azalea pada dirinya dengan sudut bibir sedikit terangkat. Setelah air matanya mengalir dengan sendirinya tanpa bisa ia tahan. Azalea bingung, mengapa tiba-tiba ia menjadi melow.
Tidak ingin larut dalam perasaannya yang tak jelas itu, Azalea memilih mandi. Ingin menyegarkan tubuh, pikiran dan perasaannya. Setelahnya, ia turun kelantai utama. Mencari makanan, sepertinya perutnya harus diisi dengan sesuatu agar otaknya kembali jernih.
__ADS_1
"Nyonya sudah bangun? Saya sudah buatkan sarapan untuk Nyonya." Imbuh Mbak Ati, ketika melihat Azalea seperti sedang mencari sesuatu dari dalam kulkas.
"Oh iya Mbak, makasih." Azalea menutup pintu kulkas, tersenyum ramah ke arah Mbak Ati. Sebenarnya dia sudah tahu dan sudah melihat makanan yang tersaji dimeja makan, namun rasanya ia tidak selera dengan sarapan yang disajikan Mbak Ati. Dan berencana membuat sesuatu yang manis-manis. "Mbak mau belanja?" Lanjut Azalea, ketika melihat Mbak Ati yang sudah siap dengan tas belanjaannya.
"Iya, stok dikulkas udah hampir habis. Yaudah kalau gitu saya berangkat dulu ya, Nya." Mbak Ati langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Azalea, mulut Azalea yang menganga karena baru saja ingin menjawab, kembali ditutupnya. Ketika melihat Mbak Ati yang sudah berlalu pergi.
Akhirnya, Azalea tak jadi membuatkan sarapan yang manis-manis untuk dirinya. Dia benar-benar menjadi tak selera sama sekali. Ia mengurungkan niatnya, setelah itu kembali ke kamarnya.
"Lea tidak ikut?" Tanya Tante Ema, ketika melihat Zico yang datang ke resort hanya seorang diri.
"Nggak, Ma. Biar dia istirahat aja dirumah."
"Kau sudah datang?" Seorang wanita, ikut bergabung bersama Zico dan Tante Ema.
NEXT>>>
__ADS_1