
Ramein guysss.
.
.
.
Happy reading♡
Ashel terharu mendengar ucapan suaminya ini. Ia tidak menyangka jika Kavin akan luluh dan tunduk padanya. Bahkan Kavin sangat sangat bucin padanya.
"Jangan pernah ragu sama cinta aku apalagi cinta kita. Bahkan sebelum adanya perjodohan itu, mas sudah memiliki niat untuk menikahi kamu. Hanya saja waktu itu, kamu sangat sibuk dengan sekolah dan organisasi kamu. Bahkan kamu gak sadar kalo mas sering main ke Bandung," ucap Kavin.
"Masa iya? Kok gak pernah ketemu," ucap Ashel.
"Karena mas gak pernah nunjukin diri mas. Mas cuma perhatiin kamu dari jauh. Karena mas tahu kamu itu anti cowok, berapa banyak cowok yang kamu tolak. Dipikir mas gak tahu," ucap Kavin sinis.
Ashel tertawa mendengar nada sinis yang keluar dari mulut suaminya ini. Sangat manis sekali saat melihat suaminya cemburu.
"Ya kan tetep aja aku milihnya kamu. Jangan cemburu dong," ucap Ashel.
"Udah yuk kita mandi abis itu kamu makan terus tidur. Besok gak usah kuliah, ijin aja. Mas gak ijinin kamu sekolah dalam keadaan seperti ini, besok juga mas gak kerja. Mas mau rawat kamu," ucap Kavin final.
Ashel hanya mengangguk saja. Percuma juga menyanggahnya karena suaminya ini pasti akan melakukan seribu satu cara agar dia tetap diam di rumah.
Kavin mengangkat tubuh Ashel dan membawanya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama. Hanya mandi, tidak lebih.
Setelah selesai mandi, Ashel dan Kavin makan bersama. Makanan mereka diantarkan oleh petugas resort.
Sebenarnya Ashel tidak mengantuk, tapi suaminya memaksanya untuk tidur. Lagi dan lagi ia hanya menurut.
Kavin mengusap usap punggung istrinya agar ia cepat terlelap. Tak lama dari itu, terdengar dengkuran halus dari istrinya.
"Katanya gak ngantuk, tetep aja tidur kan," ucap Kavin terkekeh.
"Lucu banget sih kalo lagi bobo. Gemes," ucap Kavin. Ia kemudian mencium bibir istrinya dan perlahan melepaskan pelukan istrinya. Ia harus mengambil kotak obat untuk mengobati luka luka di tubuh istrinya akibat ulahnya.
Kavin meringis ngilu melihat luka di leher istrinya yang masih basah. Ternyata lukanya cukup dalam juga. Ia bahkan baru ingat jika ia memiliki gigi taring yang cukup panjang.
"Ganas banget ya gue? Sampe sampe bini gue jadi sasarannya," gumam Kavin.
Ia terus membersihkan luka istrinya kemudian memakaikan obat merah. Untuk luka lebamnya Kavin memakaikan salep pereda nyeri.
__ADS_1
"Maafin aku ya cinta. Janji habis ini bakalan terus minta jatah," ucap Kavin pelan. Ia mencium kening istrinya. Ia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Setelah selesai ia pun pergi untuk menyimpan kotak obatnya.
Kavin tidak mengantuk dan dia bingung harus melakukan apa saat menunggu istrinya tertidur.
Apa Ardian masih disini? Pria itu mungkin bisa menemaninya mengobrol sembari menunggu istrinya terbangun lagi.
***
Ashel terbangun saat tidak menemukan keberadaan suaminya. Dengan susah payah ia turun dari atas ranjang untuk mencari keberadaan suaminya.
Resort milik Ardian ini cukup luas. Pantas saja ia mematok harga cukup fantastis. Karena di resort ini juga terdapat beberapa ruangan lain selain kamar. Seperti pantry, ruang tamu, dan mini bar.
Ashel berjalan kesusahan keluar dari dalam kamar. Miliknya masih saja terasa perih. Ia bahkan berjalan berbeda dari biasanya dan ia cukup risih dengan itu namun mau bagaimana lagi, ia harus mencari suaminya.
Terdengar seperti ada percakapan dari depan. Ashel pun berjalan menuju ke sana. Sepertinya suaminya ada disana.
Dan benar saja, suaminya sedang mengobrol dengan Ardian di mini bar yang ada disana. Dan apa itu? Suaminya merokok? Dan minum wine?
Ashel berjalan lebih mendekat ke arah mereka berdua. Kebetulan dua pria itu duduk membelakanginya sehingga mereka tidak sadar jika Ashel sudah berdiri di belakang mereka.
"Sejak kapan suka rokok?" Tanya Ashel tiba tiba membuat Kavin terkejut. Pria itu langsung membalikan tubuhnya dan tersenyum kikuk ke arah istrinya.
"Aku gak minum yang. Yang minum cuma Ardian," ucap Kavin.
"Lagi suntuk aja yang makanya aku ngerokok. Kamu marah?" Tanya Kavin.
"Abang, suami aku minum wine enggak?" Tanya Ashel pada Ardian dan mengabaikan pertanyaan suaminya.
Ardian melirik ke arah Kavin. Ia bingung harus jujur atau berbohong pada adiknya ini. Sedangkan Kavin menampilkan tatapan memelas dan menggelengkan kepalanya.
"Yang nanya aku abang bukan mas Kavin," ucap Ashel saat Ardian diam saja.
"Iya dia minum ini. Tapi abang yang paksa dek," ucap Ardian. Ia tidak bisa membohongi adiknya.
"Oke," ucap Ashel singkat. Ia pun berjalan meninggalkan kedua pria itu yang saat ini tengah menatapnya heran.
Kavin kembali meringis saat melihat cara berjalan istrinya yang berbeda dari biasanya sedangkan Ardian bersikap biasa saja. Menurutnya sudah wajar jika adiknya dan suaminya melakukan hubungan suami istri.
Ashel membuka kulkas yang berada tak jauh dari sana. Dan dugaannya benar, disana ada tiga botol wine. Ashel langsung mengambil semuanya dan ia bawa ke tempat duduk yang berada di bagian dalam mini bar. Tempat duduk itu berhadapan dengan kedua pria itu.
"Kamu mau apa yang? Kok diambil semuanya?" Tanya Kavin.
"Siapa yang beli ini?" Tanya Ashel.
__ADS_1
"Josh. Atas suruhan aku," ucap Kavin pelan.
"Kamu tenang aja mas, kan kamu beli ini pake uang kamu. Gak usah merasa bersalah gitu," ucap Ashel. Ia pun membuka penutup wine itu dengan alat khusus.
"Yang kamu mau apa?" Tanya Kavin.
"Janji dulu sama aku," ucap Ashel tiba tiba.
"Apa?" Tanya Kavin.
"Pokoknya janji dulu," ucap Ashel.
"Gak mau. Nanti kamu lakuin hal aneh aneh."
"Mas. Tinggal janji doang susah banget," ucap Ashel.
"Yaudah iya. Tapi jangan aneh aneh," peringat Kavin. Ashel tidak menjawab ucapan suaminya. Ia pun melakukan tindakan diluar dugaan.
Wine yang sudah ia buka penutupnya ia arahkan masuk ke dalam mulutnya langsung. Kavin terkejut dan langsung berjalan mendekat ke arah istrinya.
Dengan paksa Kavin merebut botol itu dari istrinya.
"KAMU APA APAAN SIH YANG? KAMU GAK PERNAH MINUM GINIAN GAK USAH MAIN MAIN," ucap Kavin dengan nada cukup tinggi sampai membuat Ashel terkejut.
Ardian yang berada disana hanya terdiam. Ia bingung harus bertindak apa.
Ashel langsung menundukan kepalanya saat mendapat bentakan dari suaminya. Sedangkan Kavin menghela nafasnya karena ia kelepasan.
Kavin menyimpan botol wine itu dan berjalan mendekat ke arah istrinya hendak memeluknya namun Ashel menolaknya.
"Yang, maaf. Kelepasan," ucap Kavin.
Ashel tidak menjawab ucapan suaminya. Ia menundukan kepalanya dan matanya sudah berlinang air mata.
"Abang, gendong aku ke kamar," pinta Ashel pada Ardian.
Lagi lagi Ardian dibuat bingung harus mengiyakan atau tidak. Namun setelah Kavin menganggukan kepalanya Ardian pun menuruti ucapan adiknya.
Tbc.
kalo ada typ maap y gesss.
__ADS_1