
RAMEIN GOYS.
.
.
.
Happy reading♡
Ashel mengantar keluarganya keluar rumah karena mereka semua akan segera berangkat kerja. Ia melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi ayah dan bundanya pergi begitu juga dengan mobil kakek dan neneknya. Mobil mereka berdua berjalan beriringan keluar dari dalam halaman rumah.
Setelah melihat mobil yang ditumpangi keluarganya pergi Ashel pun masuk ke dalam rumahnya lagi. Namun tiba tiba terdengar suara klakson mobil.
Ashel membalikan badannya. Ia sudah yakin jika itu adalah Ayu. Namun perkiraannya meleset. Yang datang bukan Ayu melainkan Kavin, suaminya.
"Ayang," teriak Kavin.
"Jangan teriak teriak mas. Aku masih disini," ucap Ashel. Ia melihat suaminya berlari ke arahnya. Kavin langsung memeluk erat istrinya.
"Kamu kenapa kok tiba tiba ada disini? Bukannya udah ke kantor dari satu jam yang lalu?" Tanya Ashel.
"Gak bisa, gak bisa yang. Aku kepikiran kamu terus. Aku gak fokus kerja," ucap Kavin.
"Kok kepikiran aku? Kan aku baik baik aja," ucap Ashel.
"Aku kangen sama kamu. Gak mau jauh jauh dari kamu yang. Gak bisa," ucapnya.
Ashel melongo mendengar ucapan suaminya ini. Bisa bisanya seorang Kavinder Natapraja bersikap seperti ini.
Apa yang akan dikatakan para direksi dan karyawan di kantornya jika mereka melihat bos mereka yang seperti ini?
Badan aja kekar berisi, di depan istri seperti hello kitty.
"Mas kok gitu. Kamu gak boleh egois dong, kan di kantor banyak karyawan yang butuh kehadiran bosnya," ucap Ashel.
"Enggak. Pokoknya gak mau ke kantor lagi."
Ashel menghela nafas panjang. Ia belum memiliki anak, namun ia harus mengurus suaminya yang seperti anak kecil.
"Om Josh, jadwal mas Kavin apa saja hari ini?" Tanya Ashel pada Josh. Karena kebetulan Kavin kesini diantar oleh asistennya.
__ADS_1
Sedangkan Kavin hanya diam saja memeluk istri kecilnya.
"Sekitar tiga puluh menit lagi tuan harus menghadiri rapat dengan client dari Boston nyonya muda," ucap Josh.
"Tuh denger, kamu ada meeting mas. Udah sana ke kantor lagi, kan udah ketemu aku," ucap Ashel.
Kavin melepas pelukannya. Tiba tiba ide cemerlang muncul di otak jahatnya.
"Josh, kau tunggu disini. Lima menit lagi aku kesini, jangan sampai ada orang yang masuk," ucap Kavin. Ia pun menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
"ASTAGA MAS, KAMU KENAPA SIH?!" omel Ashel memekik terkejut karena tingkah suaminya.
"Hanya sebentar sayang. Mungkin hari ini aku akan telat," ucap Kavin. Ia berjalan dengan lancar masuk ke dalam rumah.
Ashel tidak lagi berontak seperti dulu. Sebab sekarang Kavin adalah suaminya.
"Emangnya kamu mau apa mas?" Tanya Ashel sedikit kesal.
"Apapun itu, aku akan melakukan hal yang membuat ku senang," ucap Kavin. Senyuman devil tercetak di wajahnya.
Sebelum istrinya kembali berbicara, Kavin lebih dulu membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Ashel di dudukan Kavin di meja yang tingginya sepinggang di Kavin. Kebetulan meja itu berada di dekat pintu depan.
Ashel cukup kewalahan karena serangan suaminya. Kavin menciumnya cukup agresif. Belum lagi tangan suaminya yang merayap kemana mana.
Ashel hanya bisa pasrah saja. Melawan pun percuma, suaminya ini tidak akan berhenti begitu saja sebelum keinginannya tercapai.
***
Setelah mendapatkan pesan dari Ashel semalam, Ayu langsung menyetujuinya. Ia dengan senang hati datang ke rumah keluarga Ashel. Banyak hal yang belum ia ceritakan pada Ashel begitu sebaliknya. Mungkin.
Ayu berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi ke rumah Ashel. Orang tua Ayu dengan mudahnya memberikan ijin, sebab mereka sudah lama mengenal Ashel dan keluarganya.
Ayu membawa mobil sendiri. Ia berangkat dari rumahnya sekitar pukul sebelas pagi.
Sementata itu di kediaman keluarga Ashel, Kavin tersenyum puas melihat nafas istrinya yang tersenggal senggal. Kavin tadi sempat membawa istrinya ke kamar pribadi mereka. Kavin tidak ingin ada yang menggangu kegiatan mereka.
"Capek ya?" Tanya Kavin. Saat ini Ashel sudah melepas semua pakaiannya sedangkan dirinya masih memakai pakaian utuh.
"Kamu curang. Kok kamu masih pake baju lengkap sih? Kenapa cuma aku yang kayak gini?" Tanya Ashel tak terima.
Kavin tertawa pelan, "Aku sengaja membuat kamu seperti ini yang. Semuanya terlalu indah untuk tidak aku lihat."
__ADS_1
"Tau ah kesel aku," ucap Ashel. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sudah tidak berbentuk.
"Aku mandi dulu ya, bentar lagi harus ke kantor," ucap Kavin. Ashel menganggukan kepalanya. Sebelum Kavin pergi ke kamar mandi, ia sempat mencium kening Ashel terlebih dulu kemudian pergi dari sana.
Sedangkan Ashel mengambil kimono handuk dan memakainya, ia akan mandi lagi setelah suaminya selesai mandi.
Ashel menatap dirinya di pantulan cermin. Rambut yang berantakan. Lipstik yang pagi tadi ia gunakan kini juga berantakan di bibirnya. Dan lagi, tanda tanda merah di leher dan dadanya tercetak jelas.
"Ternyata gini ya resiko jadi istri. Harus mau apapun sesuai yang suami bilang," gumamnya.
Ia pun menyisir rambutnya agar ketika nanti ia keramas rambutnya tidak kusut dan sulit di sisir. Setelah selesai menyisir, Ashel menyanggul rambutnya.
"Makasih sayang," ucap Kavin. Kini senyum merekah tercetak di wajahnya. Berbeda dengan wajahnya beberapa menit yang lalu. Sangat suram.
"Iya mas. Aku gak bisa anter kamu ke depan. Gak papa ya?" Tanya Ashel.
"Gak papa. Kamu mandi aja, lagian aku gak rela Josh liat kamu kayak gini. Tampilan kamu sangat seksi sayang," bisik Kavin di telinga Ashel. Selain berbisik Kavin juga mencium dan menggigit kecil telinga istrinya.
"Mas udah! Nanti keterusan," ucap Ashel membuat suaminya terkekeh. Kavin kemudian memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Aku kayaknya bakalan lembur yang. Nanti kamu mau nginep disini atau pulang ke rumah kita?" Tanya Kavin.
"Nginep sini aja mas. Lagian bunda nyuruh kita nginep disini. Kan beberapa hari lagi kita kembali ke Boston," ucap Ashel.
Kavin mengangguk. "Itu sebabnya hari ini aku lembur. Soalnya ada beberapa hal yang harus aku urus dulu disini sebelum aku pergi. Gak papa ya?" Tanyanya.
"Gak papa suami. Lagian kamu kan di kantor bukan ke tempat lain," ucap Ashel. Ia memeluk manja suaminya.
"Nanti malam lagi ya. Aku ketagihan banget sama kamu sumpah!"
"Apa kamu gak cape? Aku aja cape mas," ucap Ashel.
"Gak ada kata cape kalo buat garap kamu yang. Justru dengan itu aku bisa sedikit sedikit mengurangi dosis obat itu. Dan kemungkinan besar aku bisa cepat lepas dari obat obatan itu. Anggaplah ini sebagai carger energi untuk ku.
Tbc.
Maapin ya kapin emang gitu😌🤙
Mau dedek gemes dari Asel sama kapin gak? Nanti jadi onteh onlen🤣🤣
Oh iya, kalo typ maap yayayaya.
__ADS_1
Lop u guyss.