
"Happy birthday, Tante." Suara yang sedikit familiar itu membuat semua orang menoleh.
"Apa Mama mengundangnya?" Bisik Zico pada Tante Ema.
"Tidak!" Jawab Tante Ema, pun dengan berbisik.
Tamu yang tidak diundang itu datang tiba-tiba ditengah acara yang sedang berlangsung.
"Ini, kado untuk Tante." Sambil menunjukkan senyuman lebarnya, Amora menyodorkan kado ke arah Tante Ema. Ia tak perduli tatapan bingung orang-orang yang sedang menatapnya. Pasalnya ia datang tanpa di undang bukan?
"Terimakasih, Amora." Tante Ema menerima kado pemberian dari Amora, dengan canggung tersenyum ke arah wanita yang pasti akan ada kejadian yang tidak mengenakkan disetiap kedatangannya. Perasaan Tante Ema sudah langsung tidak enak. Mendapati kedatangan Amora yang tiba-tiba itu. Begitu juga dengan Zico, yang bisa menangkap gelagat aneh dari ekspresi wajah Amora.
"Tidak dibuka kadonya, Tan?" Pinta Amora kemudian.
Nah, kan. Apa maksudnya?
Ia meminta Tante Ema untuk membuka kadonya dihadapan semua orang.
__ADS_1
"Nanti saja." Tante Ema masih melempar senyum ramah ke arah Amora. Sambil memanggil seorang karyawan untuk membantunya menyimpan kado pemberian dari Amora. Kado yang sepertinya sedikit spesial itu.
"Sekarang saja, sini biar aku bantu bukakan." Amora langsung merebut paksa kado yang akan disimpan oleh karyawan Resort. Sedangkan yang lainnya, hanya bisa menatap bingung ke arah Amora yang kini sedang membuka kado pemberiannya itu.
"Ini..!" Ia menyodorkan selembar kertas ke arah Tante Ema, isi dari kado pemberiannya. Hanya selembar kertas?
Semua orang dibuat tambah bingung oleh ulahnya.
Tante Ema mengambil kertas yang sedang disodorkan oleh Amora, lalu membaca isinya. Namun, Zico yang berada disamping Mamanya langsung meraih kertas itu dan menyobeknya.
"Apa-apaan kau ini!" Pekik Zico, sambil mendorong pelan pundak Amora setelah menyobek kertas itu. Sedangkan Amora, hanya terkekeh pelan.
Sedangkan Tante Ema, masih tercengang ditempatnya. "Apa itu benar, Zic?" Lirihnya, dengan suara yang sedikit bergetar.
Sepertinya, percuma Zico menyobek kertas itu. Mamanya sudah sempat membaca isi dari kertas tersebut.
"Ma, aku bisa jelaskan." Zico sedikit panik. Pun dengan Azalea dan Biandra, ketika diwaktu yang bersamaan mereka dapat memahami isi dari penggalan-penggalan kata yang masih untuh di kertas yang di sobek Zico.
__ADS_1
Lutut Azalea langsung lemas, matanya berkunang-kunang. Bagaimana mungkin, rahasia yang selama ini sudah ditutup rapat-rapat akhirnya bisa terbongkar dengan begitu mudah.
"Apa yang ingkin kamu jelaskan Zic?" Pekik Tante Ema penuh emosi. Ia begitu kecewa, ia merasa sudah dibohongi oleh anak dan menantunya. Menantu yang selama ini begitu disayanginya dan sudah dianggap seperti anak sendiri. Tante Ema, bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Azalea. Kini tatapannya tajam menghujam Zico yang sedang berada dihadapannya dengan raut wajah panik.
Semua tamu undangan terdiam seribu bahasa, dan hanya bisa menonton pertunjukkan yang tak terduga itu. Tanpa mengerti, apa yang sebanarnya sedang terjadi di dalam keluarga itu.
Ella yang memahami keadaan sudah tidak mendukung. Langsung mengambil tindakan, mengosongkan Aula. Meminta maaf kepada para tamu dengan ketidaknyamanan yang terjadi dan meminta mereka untuk meninggalkan Aula.
Kini, hanya tinggal keluarga besar Nugraha didalam sana. Sedangkan Amora, masih menonton dengan puas kekacauan yang sudah ia timbulkan.
"Jadi selama ini kalian semua membohongi Mama? Dan apa kalian sadar, apa yang sudah kalian lakukan ini merugikan orang lain. Kebohongan yang kalian lakoni hampir membunuh Mama dan Papa! Kami begitu terkejut dan terpukul dengan kejadian itu. Setiap hari kami menjalani hari dalam rasa sedih karena berfikir sudah kehilangan cucu kami!" Air mata Tante Ema tak dapat dibendungnya lagi. Mengalir deras membasahi pipinya. Sambil melirik ke arah Queen yang berada disamping Biandra. Ia benar-benar tidak menyangka, cucu yang dipikirnya sudah meninggal, ternyata selama ini berada sangat dekat dengannya dan sudah beranjak menjadi gadis kecil nan menggemaskan.
"Ma.." Azalea meraih lengan Tante Ema, ingin menjelaskan apa yang terjadi. Tidak ingin Ibu Mertuanya itu menjadi salah paham. Namun, dengan cepat Tante Ema menepis tangan Azalea. Ia bahkan masih enggan menoleh atau menatap Azalea walau hanya sekilas.
Bibir Zico seakan kelu, ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Mamanya yang terlihat begitu kecewa.
Surat Kontrak Rahim Pengganti itu, menjadi pukulan terberat bagi Tante Ema. Ia tidak habis fikir, ternyata Azalea gadis yang seperti itu.
__ADS_1
"Ma!" Zico langsung menahan tubuh Mamanya yang tiba-tiba saja hilang kesadaran.
^TO BE CONTINUED^