My Little Wife

My Little Wife
Bab 169 : Kedatangan Ayu


__ADS_3

Happy reading♡


Dua minggu berlalu, akhirnya Ashel bisa keluar dari rumah sakit dan bisa kembali ke Jakarta. Dua hari yang lalu Ashel sudah bisa kembali menghirup udara kota Jakarta.


Saat ini ia sedang duduk di ayunan yang berada di dekat kolam berenang. Ia memilih menyendiri disini. Semua keluarganya sedang sibuk mencocokan ukuran baju yang akan mereka pakai saat nanti Ashel menikah.


Dua keluarga itu sudah sepakat akan tetap melaksanakan pernikahan Ashel dan Kavin sesuai rencana awal. Meskipun tanggal pernikahan mereka diubah.


Sebenarnya Ashel tidak memberikan tanggapan apapun mengenai pernikahannya. Ia hanya diam dan menurut saja karena ini semua memang sudah direncanakan jauh sebelum ia disekap oleh Dona.


Ngomong ngomong soal Dona, Ashel tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Setelah kejadian itu dia tidak diperbolehkan tahu keadaanya. Beberapa kali ia memcoba bertanya pada Kavin namun Kavin tidak menjawabnya dan malah mengalihkan pembicaraan.


Setelah kejadian penyekapan kemarin, kadang kadang muncul rasa takut berlebih dalam diri Ashel. Ia berusaha menutupinya agar orang orang disekitarnya tidak khawatir. Terutama Kavin.


Semenjak kejadian itu, Kavin menjadi lebih protektiv lagi daripada sebelumnya.


Ashel sempat terganggu juga karena hal itu namun mau bagaimana lagi, Kavin tidak akan mendengarkan keluhannya. Apalagi ketika Kavin menyindirnya soal kejadian kemarin.


"Jalan hidup gue kayak gini banget ya allah. Mau ngeluh tapi gimana, udah terlanjur juga semuanya terjadi," ucap Ashel. Ia menggeraka ayunannya.


Saat ini ia hanya memakai pakaian serba pendek karena salep yang dipakaikan ke tubuhnya belum mengering.


Beruntung luka cambukan ini tidak berbekas. Jika saya iya berbekas, mungkin Ashel akan selalu memakai pakaian serba panjang karena kulitnya loreng seperti harimau.


Luka di perutnya perlahan membaik. Ia sudah tidak merasakan kram lagi setelah beberapa hari ini. Dokter bilang juga kalo luka di perutnya sudah mengering.


"Dorr," tiba tiba ada seseorang yang mengejutkannya. Ashel terlonjak kaget.


"ANJIR LO YU," umpat Ashel saat ia berdiri dan melihat ke arah belakang. Ternyata itu adalah Ayu. Sahabatnya.


"Mweheheh, kaget ya lo? Dosa udah numpuk tuh makanya jadi orang kagetan," ucap Ayu terkikik. Ia pun ikut duduk di sebelah Ashel.

__ADS_1


"Gak ada hubungannya sama dosa," jawab Ashel. Mereka berdua pun duduk di ayunan yang sama yang tadi Ashel duduki.


"Sorry Shel. Harusnya gue tahu hal ini lebih dulu. Seharusnya gue ada juga disana buat jelasin yang sebenarnya sama Dona. Sorry banget," ucap Ayu. Ia sangat ingin memeluk Ashel, tapi melihat kondisi salep yang belum mengering membuat Ayu mengurungkan niatnya.


"Tahu dari siapa? Bunda?" Tanya Ashel.


"Iya. Bunda lo cerita semuanya sama gue kemarin. Makanya hari ini gue mutusin buat kesini sekaligus ngeliat kondisi lo," ucap Ayu.


"Yaudahlah Yu, semuanya udah terjadi. Lagian Dona kayaknya udah dapet balasannya," ucap Ashel. Ia menatap ke arah depan. Pikirannya kembali berkelana ke kejadian beberapa hari yang lalu.


"Kenapa dia sampe segitunya ya Shel? Apa cuma gara gara Liam aja?" Tanya Ayu.


Ashel menggeleng, "Bukan karena hal itu. Tapi ada hal lain yang buat Dona benci sama gue. Lo inget waktu lomba antar Nasional waktu itu. Dona juga ikutan sebagai kandidat. Tapi yang kepilihnya gue."


"Astaga. Cupu banget sumpah! Karena hal gituan aja dia sampe nekat jahatin lo sampe segini parahnya?" Tanya Ayu.


"Iya. Mungkin rasa benci di hati Dona buat gue udah besar. Dan lo tahu, selama SMA kemarin gue satu kelas lagi sama dia di Praja," jelas Ashel. Ia baru menceritakan hal ini pada Ayu sekarang. Selama ini ia hanya diam dan tidak menceritakan hal itu.


Ashel menutup telinganya karena teriakan Ayu yang cukup keras.


"Lo sarapannya toa mesjid ya? Kenceng amat teriakan lo," sindir Ashel.


Ayu mendelik, "Heh, gue tuh khawatir sama lo makanya gue jauh jauh dari Bandung buat kesini nyamperin elo. Gue tuh sebagai sahabat yang baik harusnya ada di garda terdepan. Tapi begonya gue baru tahu setelah lo disekap selama itu sama Dona," ucap Ayu. Terselip nada penyesalan karena ia gagal melindungi sahabat satu satunya ini.


"Ya elah Yu, itu udah lalu kali. Gue juga masih hidup. Santai aja," ucap Ashel.


"Gak bisa Shel. Lo sembunyiin apa lagi dari gue? Apa semenjak kita pisah sekolah lo udah gak peduliin persahabatan kita ya?" Tanya Ayu.


"Sama sekali enggak. Waktu itu gue gak cerita soal Dona ya karena gue anggap itu cuma kebetulan aja gue satu sekolah lagi sama dia, bahkan satu kelas. Kan gue juga gak tahu niat buruk dia. Gue kira emang gak ada apa apa, ya tapi ternyata siapa yang tahu kalo Dona sedendam itu sama gue."


"Tapi ngomong ngomong soal Liam, setelah kecelakaan itu kita kan gak pernah liat dia lagi kan?" Tanya Ayu.

__ADS_1


Ashel menganggukan kepalanya. Benar juga, kenapa ia baru teringat hal itu.


"Kita cuma tahu kalo dia kecelakaan kan? Dan berita yang beredar waktu itu dia meninggal. Tapi gak ada satu pun keluarga dia yang mau speak up tentang hal itu kan? Keluarganya juga jadi pindah sejak kejadian itu," jelas Ayu.


"Bentar, gue lupa soal itu. Bahkan sama sekali gak inget. Apa yang lo bilang ada benernya juga, kita gak tahu berita pastinya Liam masih hidup atau meninggal," ucap Ashel.


"Nah makanya itu, menurut lo apa Liam masih hidup?" Tanya Ayu.


"Gak tahu. Lo masih inget nama lengkap Liam?" Tanya Ashel. Mimik mukanya berubah menjadi serius.


"Liam anggana A," ucap Ayu.


"A nya itu apa ya? Kayaknya itu masih nama panjangnya," ucap Ashel.


"Gue gak tahu. Yang gue tahu sih itu," ucap Ayu.


"Keluarga dia pindah kemana?" Tanya Ashel.


"Gak ada yang tahu. Bahkan waktu dia ketabrak aja kita gak boleh ikut ke rumah sakit. Dan orang yang periksa Liam bilang kalo Liam udah meninggal di tempat," ucap Ayu.


"Ada yang aneh gak sih? Kok kita dari dulu gak pernah kepikiran hal penting kayak gini? Liam, kenapa kisah dia jadi mencuat lagi ya," ucap Ashel.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu pasti. Yang jelas kedatangannya kesini karena ingin menjelaskan hal ini.


Kemarin ia bertemu dengan Bunda Ashel di Bandung. Bunda Ashel menceritakan semua kejadian yang menimpa Ashel.


Jelas Ayu sebenarnya ingin pergi ke Jakarta hari itu juga. Namun karena suatu hal, jadinya Ayu baru bisa berangkat besoknya.


Mendengar cerita dari bunda Ashel membuat Ayu yakin jika Ashel melupakan hal ini. Dan benar saja. Ia bahkan lupa nama lengkap Liam.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2