
Hana terkejut ketika kaca kamarnya pecah. Apalagi keadaan di rumah dia sendirian. Dylan dan Tasya sedang menghadiri sebuah acara.
PRANG!
Sebuah batu dengan di balut sebuah kertas tepat mengenai kaca dan masuk ke dalam kamar Hana. Tentu saja Hana kaget. Rasa takut dan pernasaran menjadi satu.
Hana mengambil batu tersebut. Membuka kertas yang terlilit di batu besar tersebut. Sebuah pesan singkat yang mampu membuat Hana tak berkutik dari tempatnya berdiri.
-Kehancuran di balas dengan kehancuran. Nyawa adalah taruhannya-
Hana langsung membuang batu dan kertas tersebut. Badannya bergetar hebat karena ketakutan. Nyawa. Ketika membaca surat tersebut.
"Jangan lakukan ini kepadaku, Vanessa."
***
Kenzo menghadang Vanes ketika jam dua belas malam dia baru datang. Keadaanya berantakan.
"Kamu dari mana?" Tanya Kenzo.
Vanes mendongak. "Bukan urusan, kakak." Kemudian Vanes tertawa sumbang.
"Kamu mabuk, Vanessa." Ucap Kenzo geram. "Entahlah apa yang telah kamu lakukan. Tapi untuk mabuk tidak baik untukmu."
"Aku tidak mabuk, sayang." Racau Vanes. Dia menciumi setiap inci wajah Kenzo kemudian dia tertawa. "Ayo kita ke toko bayi! Aku ingin beli perlengkapan bayi."
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya. Benar-benar hal ini yang paling tak di sukai oleh Kenzo. Racauan Vanes begitu menyentuh hatinya. Untuk melupakan jika Vanes sudah tidak hamil rasanya susah sekali.
"Kamu mabuk. Aku akan membawamu ke kamar." Kata Kenzo singkat. Kemudian dia menggendong Vanes ala brydal style. Vanes mengalungkan tangannya di leher Kenzo sambil tersenyum mabuk.
"Kamu ingin bermain denganku malam ini, kak? Aku menginginkanmu malam ini." Kata Vanes cemberut.
"Jangan banyak bicara, Vanessa. Tidurlah." Kata Kenzo dingin.
Vanes mencium pipi Kenzo. Dahi, mata, kemudian yang terakhir mulut Kenzo. Kenzo hanya membalasnya sekilas. Dia tahu jika Vanes dalam keadaan mabuk ringan.
"Aku menginginkanmu malam ini, kak. Hahaha."
***
Sinar matahari masuk ke dalam celah-celah gorden jendela yang terbuka sedikit. Vanes mengerjapkan matanya ketika ada sinar matahari masuk. Setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya, dia melihat sekeliling.
"Eh!"
Vanes terkejut ketika dia dan Kenzo tak memakai baju sekalipun. Pikirannya coba mengingat apa yang telah terjadi malam kemarin. Setelah mengingatnya, dia jadi malu sendiri. Ini semua karena efek minuman yang di suguhkan di club Dani dan Tirta. Dan yang membuatnya paling malu adalah, dia menggoda Kenzo kemarin malam.
"Kak Kenzo..Bangun." Vanes membangunkan Kenzo dengan menepuk pipi Kenzo.
Kenzo hanya mengubah posisi tidurnya.
__ADS_1
"Kak Kenzo.." Panggil Vanes agak keras.
"Sepuluh menit saja, sayang." Jawab Kenzo dengan suara khas bangun tidur.
Vanes menggelengkan kepalanya. Dia beranjak dari tempat duduknya, mengambil handuk kemudian di lilitkan ke badannya. Dia berniat mandi.
Setelah mandi dan membersihkan diri, Vanes membangunkan Kenzo lagi. Kali ini Kenzo sudah bangun. Dia duduk bersandar.
"Semalam, kamu sangat bergairah, sayang." Cetus Kenzo sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal.
"Ih. Jangan di bahas. Malu tau!"
"Hahaha." Tawa Kenzo. "Oh iya, untuk beberapa hari, aku akan ke luar negeri. Ada sebuah pekerjaan yang harus ku selesaikan."
Vanes sontak menoleh ke arah Kenzo. "Luar negeri? Jangan!"
Kenzo menghampiri Vanes yang duduk di dekat balkon. "Kenapa?"
"Mmm. Aku hanya khawatir saja."
Kenzo tersenyum iseng. "Kamu mengkhawatirkanku, sayang?"
"Wajar jika istri itu khawatir sama suaminya." Vanes coba mengelak.
"Aku tahu kamu khawatir, sayang. Aku akan berangkat nanti siang. Kemungkinan aku akan pulang seminggu lagi. Jadi, disini jangan macam-macam. Jangan mabuk. Aku tak suka."
***
Sedih dan senang bisa menjadi satu saat ini. Sedih karena di tinggal oleh Kenzo dan khawatir dengan kesahatan Kenzo. Senang karena rencana dendamnya bisa berjalan lancar.
Saat ini, dia sedang berada di mobil bersama Nesya. Di seberang jalan kanan, ada mobil Dani dan Tirta. Mereka sedang mengawasi gerak-gerik target mereka.
"Hana tidak tahu jika dia sedang berhadapan dengan serigala." Kata Nesya sambil memakan keripiknya.
Vanes menatap sinis Nesya. "Say again?"
"Berhadapan dengan Serigala. Serigala yang sedang tertidur, dan sekali bangun akan menerkam mangsanya hingga habis tak tersisa." Jawab Nesya.
"Hahaha." Tawa Vanes.
"Aku tahu sifatmu sejak SMP. Sifatmu adalah pendendam. Dendam itu akan muncul jika kamu sangat tersakiti dan kamu akan membalasnya hingga seimbang bahkan lebih." Kata Nesya lagi.
"Good. You is my best friend, Nesya."
'Target sudah mulai muncul.'
Nesya menatap Vanes sambil mengangguk. Di lihatnya, mobil Dani dan Tirta sudah mulai melajukan mobilnya di belakang mobil Hana. Sekarang gilirannya. Vanes melajukan mobilnya di belakang mobil Dani dan Tirta.
"Tuntun target ke jalan yang sepi." Kata Vanes ke HT.
__ADS_1
Sementara Nesya sudah menyiapkan senapan yang telah di bawanya. Masker berwarna hitam sudah di pakainya. Nesya mengarahkan senapan tepat ke mobil Hana yang sedang berjalan lambat karena di hadang oleh mobil Dani.
DOR! DOR!
Dua tembakan sekaligus berhasil mengenai mobil Hana yang membuat kaca mobil pecah.
***
Perasaan Hana dari tadi tidak enak. Dia memikirkan teror ancaman itu. Dia tahu jika tulisan itu masih baru di buat. Kepalanya di gelengkan untuk mengusir pikiran itu dan dia segera masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke rumah, Nyonya?"
"Iya, Pak." Jawab Hana.
Hana menghela nafas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. perasaanya semakin tak karuan. Antara takut dan gelisah.
Hana menatap spion dari jok belakang. Ada dua mobil hitam yang dari tadi mengikuti mobilnya. Namun, Hana tampak mengenali mobil yang paling belakang sendiri. Rasanya di seperti pernah melihat. Tapi dia lupa dimana dia melihatnya.
"Pak, jalan lebih cepat ya!" Perintah Hana.
"Iya, Nyonya."
Sopir menambah kecepatan laju mobil yang di tumpanginya. Tapi itu tidak cukup untuk membuat Hana bisa bernafas lega. Karena mobil yang tepat di belakangnya tadi menyalipnya dan melaju cukup lambat.
Nafas Hana memburu. Perasaannya semakin gelisah. Apalagi disini hanya ada tiga mobil. Mobilnya dan dua mobil asing. Tak ada lagi. Jalanan hari ini lumayan sepi.
"Nyonya, mobil di depan kita berjalan lambat, bagaimana jika kita salip saja?"
Hana mengangguk setuju. "Iya, Salip saja. Kita harus cepat-cepat sampai rumah."
"NYONYA MENUNDUK!"
DOR! DOR!
Mobil langsung berhenti. Sopir pingsan karena kepalanya beradu dengan setir. Hana mendongakan kepalanya. Dua orang lelaki berjalan ke arahnya.
Mereka berdua membuka mobil dengan paksa. Kemudian setelah terbuka, mereka menarik paksa Hana untuk segera keluar dari mobil.
"Ikut kami!" Bentak salah satu dari mereka.
Hana tetap saja memberontak. "Aku nggak mau! Lepaskan!"
Tiba-tiba saja seorang perempuan keluar dari mobil yang Hana tak asing dengan mobilnya. Perempuan itu menodongkan senapannya tepat ke kepala Hana.
"Jika ku tarik pelatuk ini, hidupmu akan berakhir." Kata perempuan itu.
Mau tidak mau, Hana mengikuti langkah kedua orang lelaki itu.
Apakah ini yang di maksud oleh sang penulis surat teror?
__ADS_1