My Little Wife

My Little Wife
bab 315 : Waktu Yang Cepat Berlalu


__ADS_3

Happy reading♡


Satu bulan berlalu setelah healingnya ke Indonesia sudah selesai. Ashel dan Kavin memutuskan kembali ke Boston. Pekerjaan Kavin sudah menumpuk dan juga kuliah Ashel sudah dekat. Saat ini ia sudah semester tujuh. Tinggal satu semester lagi untuk ia bisa mendapatkan gelar.


Fello dan Ayu juga sudah kembali ke Boston. Sebelum ke Boston, mereka sudah menentukan tanggal pernikahan bersama kedua keluarga. Mereka sepakat akan menikah setelah lulus.


Kehamilan Ashel semakin membesar. Setelah sampai ke Boston, wanita itu sering melakukan cek up sekitar satu minggu sekali. Bukan dia yang ke rumah sakit namun Lupita yang datang ke Mansion besarnya.


Hubungan Lupita dan Ardian juga semakin serius. Bahkan Ashel sudah mengetahuinya. Tentu saja ia senang mendengar kabar ini. Akhirnya abangnya akan menikah dan tidak menjadi bujang lapuk.


Sebenarnya Ashel ditentang suaminya untuk pergi kuliah, namun bukan Ashel jika ia tidak keras kepala. Ia tetap masuk kuliah dengan diikuti beberapa orang suruhan Kavin yang tentunya tidak diketahui olehnya. Meskipun kehamilannya sudah besar, Ashel masih tetap beraktivitas seperti biasanya.


Kehamilannya sudah menginjak bulan ke sembilan. Sekitar beberapa minggu lagi HPL-nya sudah dekat. Ia jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan bayi kembarnya. Bahkan setelah usia sembilan bulan ini, kedua bayinya sering sekali melakukan gerakan menendang sampai sampai membuat sang mami ngilu.


"HPL kamu berapa minggu lagi yang?" Tanya Kavin. Mereka berdua saat ini sedang berada di kamar anak anak mereka. Sudah ada satu ranjang bayi berukuran besar untuk bayi mereka tidur.


Kamar bayi mereka terhubung dengan kamar utama. Jadi mereka tidak perlu khawatir ketika tengah malam.


Warna kamar bayi mereka bernuasan mocca. Ditambah sentuhan biru navy juga. Ashel memang sengaja memilih warna netral supaya cocok untuk anak laki laki dan perempuan.


Ashel sudah mengambil home scolling. Ia tidak mau cuti karena ia ingin cepat cepat lulus. Kavin hanya menyetujuinya. Toh istrinya tetap berada di rumah. Jadi aman.


"Prediksi satu minggu lagi mas. Aku deg degan banget," ucap Ashel.


Kavin tersenyum kemudian menarik istrinya agar duduk di sofa panjang yang ada di kamar anak mereka.


"Kamu mami hebat sayang. Baby's pasti gak sabar buat ketemu kita. Jangan takut, apapun yang terjadi aku akan selalu menjaga kalian," ucap Kavin.


"Tapi mas, aku ngerasa anak kita gak kembar dua. Entah kenapa. Tapi kan jelas jelas di USG ada dua bayi," ucap Ashel. Ia mengelus perutnya.


"Jangan berpikiran macam macam sayang. Biar kamu gak stress," ucap Kavin.


"Iya mas," ucap Ashel. Ia pun memeluk suaminya. Entah mengapa ia merasa aman jika bersama dengan suaminya ini.


"Mama sama yang lainnya udah sampai disini. Termasuk bunda sama ayah juga. Katanya mereka mau menemani kamu persalinan nanti," ucap Kavin.

__ADS_1


"Seneng banget. Kalian semua se-care itu sama aku sama baby's," ucap Ashel.


"Memang sudah seharusnya sayang," ucap Kavin.


Dekorasi kamar anak anak mereka sudah sepenuhnya selesai. Semenjak kamar anak anaknya jadi, Ashel sering berdiam diri disini. Hampir satu hari penuh ia berada di sini. Mulai dari zoom bersama dosennya bahkan mengerjakan tugas tugasnya.


"Mas, kamar kamar tamu udah dibersihkan? Takutnya nanti banyak yang nginep disini," ucap Ashel.


"Sudah beres nyonya Kavinder. Bahkan paviliun di belakang juga udah siap buat ditinggali. Bahan makanan sama cemilan juga udah stok. Sisanya disimpen di ruangan khusus makanan. Kamu gak perlu khawatir cinta. Sekarang ayo jalan jalan ke depan," ucap Kavin.


"Mager mas," ucap Ashel.


"Gak boleh mager dong, inget kata Lupita, kamu harus banyak gerak supaya nanti lahirannya lancar. Ayo mas temenin," ucap Kavin.


Ashel pun dengan terpaksa menuruti keinginan suaminya dan berjalan keluar kamar. Kandungannya sangat besar, lama lama ia juga kelelahan membawa anak anaknya. Biasanya tidak seperti ini, namun saat mendekati HPL, semuanya terasa berat.


Fisik Ashel sedikit berubah. Ia menjadi lebih berisi dari sebelumnya. Dan Kavin sangat menyukainya.


"Mas, mau minum," ucap Ashel.


Ashel mengangguk dan duduk di sofa ruang depan. Ia menunggu suaminya yang sedang mengambilkan air minum untuknya.


Tak berselang lama, Kavin membawa segelas air untuk istrinya. Ashel menenggaknya sampai habis.


"Mau lagi?" Tanya Kavin. Ashel menggelengkan kepalanya.


Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke depan. Rencananya mereka akan berjalan jalan santai ke sekitaran mansion saja. Luas mansion ini cukup besar, bahkan lapangan sepak bola juga kalah.


Tiba tiba ada sebuh mobil masuk. Ashel dan Kavin menghentikan langkahnya dan berdiri di depan pintu utama.


Mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Baik Ashel atau pun Kavin tidak mengenal ini mobil siapa.


"Permisi, saya diperintahkan dosen besar Universitas untuk memberikan ini pada anda," ucapnya.


"Saya?" Ucap Ashel.

__ADS_1


"Benar. Anda dengan nyonya Brianna Sashel Natapraja bukan?" Tanyanya.


"Iya benar. Tapi kenapa saya mendapatkan surat ini ya? Apa ini SP?" Tanya Ashel.


"Bukan. Anda lihat sendiri saja," ucapnya.


Ashel melirik ke arah suaminya. Setahu ia, ia tidak pernah bolong masuk kuliah. Dan tugas tugas yang diberikan juga selalu ia kumpulkan dengan tepat waktu.


Dari pada penasaran, Ashel pun membuka isi surat berukuran cukup besar itu.


Ia mulai membacanya. Matanya membulat sempurna kemudian melirik ke arah pria yang membawa surat ini.


"Saya diperintahkan untuk mengantarkan ini karena anda akan mengikuti acara Yudisium. Melihat dari nilai dan kualifikasi anda dalam mata pelajaran, para dosen sepakat akan memajukan waktu ujian anda agar anda bisa mengikuti kelulusan bersama angkatan diatas anda. Jika memungkinkan, anda akan lulus sebelum waktu yang ditentukan," ucapnya.


Ashel masih terdiam. Ia tidak mampu berkata kata. Ia sungguh speechless sekali.


"Ujiannya akan dimulai besok. Mohon anda mempersiapkan semuanya. Kami para dosen menunggu anda besok," ucap Ashel.


"Apa tidak ada sidang?" Tanya Ashel.


"Anda lupa? Saya sendiri kemarin yang menyaksikan anda sidang melalui zoom online," ucapnya. Ashel melongo. Jadi pertanyaan kemarin itu bagian dari sidangnya? Pantas saja satu minggu sebelumnya Ash diminta untuk mempresentasikan satu judul yang ditentukan oleh dosen pembimbingnya. Ternyata itu semua untuk sidang?


"Saya tunggu kehadiran anda dua hari lagi untuk acara Yudisium di kampus. Suami anda bisa ikut serta untuk mendampingi anda," ucapnya.


"Baik pak. Kami akan hadir besok," ucap Kavin.


"Kalo begitu saya permisi," ucapnya. Kavin hanya mengangguk sekilas saja.


Sepeninggal dosen tadi, Ashel masih terdiam. Ia masih benar benar syok.


"Ciee yang udah Yudisium. Kasihan banget sidangnya gak dikasih tahu kemarin," ucap Kavin.



Tbc.

__ADS_1


Guys, aku cepetin aja ya. Jd ashel lulus itu 3.5 tahun, kalo ada yang melenceng maaf ya. Aku gak tahu soalnya hehe. Rameinnnn


__ADS_2