
"Aku hamil."
Seluruh badan Kenzo lemas mendengar ucapan Vanes yang jatuh terduduk di hadapannya sambil menangis. Rasanya, Kenzo tidak bisa pergi dari tempatnya mendengar ucapan Vanes.
"Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu. Aku tidak peduli jika kamu tidak peduli sama aku. Tapi, setidaknya kamu harus peduli dengan bayi yang kamu impikan ini."
Kenzo ikut menangis mendengarnya. Hatinya tersentuh. Kakinya membawanya ke tempat Vanes. Kenzo memeluknya erat. Begitu erat. Vanes hanya bisa menangis di pelukan suaminya.
"Maafkan aku, Vanessa. Aku bodoh membuatmu menangis. Tolong maafkan aku!" Pinta Kenzo.
Vanes hanya mampu menangis. Pelukan Kenzo begitu menghangatkannya serta hatinya. Dia memaafkan kelakuan Kenzo. Dia juga sadar, jika dia adalah perempuan lemah.
***
Ketika mendengar kabar Vanes hamil, Juna seperti tak punya lagi tujuan hidup. Mungkin, karena selama ini dia di sibukkan dengan obsesinya untuk mendapatkan Vanes lagi.
Dengan kabar itu, Juna seperti ada titik putih di hatinya. Dia sadar jika Vanes adalah istri orang lain. Tapi dia juga dapat titik merah di otaknya. Juna merasa tak ada yang di tuju.
"Papa!"
Panggilan Ketie membuat Juna mengerjap. Ketie berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah bunga plastik bewarna putih.
"Ketie? Kamu belum tidur?" Tanya Juna sambil mendudukan Ketie di pahanya.
Ketie menggeleng.
"Selena!" Panggil Juna setengah berteriak.
Selena turun dari tangga lantai dua menggunakan piyama bewarna ungu muda polos. Rambutnya sudah di gulung ke belakang.
"Ada apa?" Selena menghampiri Juna dan Ketie.
"Kenapa Ketie belum tidur, huh?" Juna berkata dingin.
Selena berkacak pinggang. "Ketie dari tadi nunggu in kamu, Juna! Kamu dari mana saja? Baru pulang malam-malam begini? Kamu lupa sama rumah? Istri? Anak? Ada siapa di luar sana? Vanessa?"
Rahang Juna langsung mengeras. Dia berdiri, membawa Ketie ke dalam kamarnya. Setelah itu, dia kembali ke ruang tamu.
"Sudah pernah ku bilang kan jika di setiap pertengkaran jangan bawa-bawa Vanes?!" Nadanya mulai meninggi.
"Kenapa? Juna! Sadar lah, jika Vanes adalah masa lalumu."
Menikah dengan Juna adalah pilihan Selena. Rumah tangga yang sudah berjalan selama tiga tahun ini selalu di hiasi dengan pertengkaran karena Juna yang selalu sibuk dengan pekerjaanya dan sibuk dengan mengawasi Vanes. Sedangkan Selena, selalu saja membuat masalah sepele kadang selalu di besarkan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Selena, Juna kembali duduk di sofa. Helaan nafas kasar terdengar. Begitu juga Selena, dia memegangi kepalanya sambil duduk di hadapan Juna.
"Kamu benar. Vanessa hanya masa laluku. Maaf jika selama ini aku tidak bisa jadi suami yang baik untukmu. Tidak bisa jadi ayah yang baik untuk Ketie." Kata Juna lesu.
"Aku lelah jika harus bertengkar terus."
Juna menatap Selena. "Maaf. Bagaimana kalau kita bercerai saja?"
Selena terbelalak. "Cerai? Jangan memutuskan seperti itu, Jun. Bagaimana dengan Ketie? Ketie butuh kasih sayang kedua orang tuanya, Jun."
"Ketie.." Lirih Juna. Akalnya masih bisa berfikir.
"Aku nggak mau kita cerai."
***
Beberapa minggu kemudian..
Setelah seminggu lebih tidak masuk kantor di karenakan mual-mual, akhirnya sekarang Kenzo masuk. Selama seminggu tersebut Vanes gelegapan karena yang mengalami morning sick adalah suaminya, bukan dia. Vanes sempat mengira yang hamil adalah Kenzo bukan dirinya. Tapi, dia langsung mengusir jauh-jauh pikiran bodoh itu.
"Sayang, kamu tahu dimana dasiku?" Kenzo mencari dasinya di lemari.
"Ada disana." Jawab Vanes sambil melipat selimut.
Vanes tersenyum sambil berjalan mengahampiri suaminya yang tengah kebingungan mencari keberadaan sebuah dasi. Setelah menemukan dasi, Vanes memakaikannya ke Kenzo.
Kenzo menciumi wajah Vanes. Setelah Vanes selesai, dia langsung mengangkat tubuh ramping Vanes, mendudukannya ke pinggiran kasur.
"Jangan melakukan aktivitas yang berat-berat. Kasihan dia." Kata Kenzo sambil mengelus perut Vanes yang masih rata.
"Nggak kok." Balas Vanes.
"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Tanya Kenzo.
Vanes membelai rambut Kenzo. "Aku nggak kenapa-kenapa."
"Beneran?"
"Iya." Jawab Vanes meyakinkan. "Kakak berangkat ke kantor ya?" Vanes mencium punggung tangan Kenzo. Kenzo mengangguk kemudian mencium kening Vanes.
Vanes menyembunyikan sesuatu. Sebebarnya, dia masih memikirkan perempuan yang ada di foto tersebut. Rasanya, dia pernah melihat perempuan tersebut. Hatinya masih sakit. Niat mencari tahu siapa sebenarnya perempuan tersebut semakin besar.
"Akhh.."
__ADS_1
Vanes memegang perutnya yang terasa sakit. Segera dia mencari obat pereda rasa sakit yang telah di berikan oleh dokter kemudian meminumnya. Setelah itu, dia duduk di bawah sambil menyandarkan kepalanya di kasur. Air matanya terjatuh.
Inilah yang di sembunyikannya. Setiap dia memikirkan hal tersebut, itu berefek kepada kandungannya. Dia tahu kalau tidak boleh stres. Tapi, pikiran itu tidak bisa hilang. Selalu saja tercetak.
***
Malam-malam, dua mobil masuk ke dalam halaman rumah. Vanes mengernyitkan dahinya sambil berdiri dari duduknya di kursi lobby rumah. Dia sangat mengenali dua mobil tersebut. Mobil Juna dan Kenzo.
Keduanya keluar dari mobil. Juna menatap serius Kenzo. Begitu juga dengan Kenzo. Juna hanya mengangkat bahunya tak acuh sambil berjalan ke arah Vanes. Kenzo hanya melihatnya sambil terdiam.
"Halo Vanes! Apa kabar?" Sapa Juna.
"Baik. Bagaimana denganmu, Jun?" Tanya Vanes.
"Lumayan." Jawab Juna. Kemudian dia menyodorkan sebuah paper bag bewarna pink ke arah Vanes. "Ini oleh-oleh untukmu! Aku baru saja dari Jepang."
Vanes menatap Kenzo. Kenzo menyadari itu. Dia tersenyum sambil mengangguk. Kemudian Vanes menerima paper bag itu dari Juna.
"Terima kasih."
Juna tersenyum. "Iya. Sama-sama. Jaga baik-baik dirimu ya?"
"Iya."
Juna kemudian berbalik, dia menuruni tangga lobby untuk bisa turun menginjak jalan. Hingga akhirnya Juna saling berhadapan dengan Kenzo.
"Bodoh! Kenapa kau selingkuh, huh?" Juna mendesis.
"Aku tidak selingkuh." Sarkas Kenzo.
"Omong kosong." Bantah Juna. "Aku tahu itu."
Vanes yang ada di lobby mencoba mendengarkan, namun tidak bisa. Percakapan yang dilakukan Juna dan Kenzo nampak serius sekali.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku." Kata Kenzo. "Aku sudah mengingatkanmu."
"Jangan bodoh untuk menyia-nyialan Vanes. Kurang apa Vanes?. Kurasa dia sudah sempurna. Dan itu pasti juga ada di matamu, Ken."
"Sudah ku bilang berapa kali, jika aku tidak selingkuh dari Vanessa." Kata Kenzo menetralkan emosinya.
Juna hanya menggelengkan kepalanya. "Jika dia sampai lepas dari cekalanmu, dengan sigap aku akan menangkapnya, Ken. Ingat itu. Itu adalah motivasi untukmu agar kau tidak macam-macam."
Kemudian Juna berjalan ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Kenzo dan Vanes. Tangan Kenzo terkepal kuat. Ucapan Juna barusan masih melekat. Tentu saja, Kenzo tak akan melepaskan istri tercintanya, Vanessa Agelica.
__ADS_1