My Little Wife

My Little Wife
Bab 167 : Ingatan Hilang?


__ADS_3

HALLOWW RAMEIN KUYYYY


.


.


.


Happy reading♡


Berat rasanya meninggalkan Ashel bersama dengan adiknya namun apa yang diucapkan oleh mamanya itu benar. Ia harus pulang dan istirahat sejenak. Ia tidak boleh sakit. Bukan hanya Ashel yang membutuhkannya tapi juga puluhan karyawannya yang bergantung pada perusahaan yang ia pimpin.


Kavin mempercayakan Ashel pada Rafello. Namun ia juga tetap memperketat penjagaan di rumah sakit. Buktinya banyak bodyguard yang berjaga. Dua diantaranya berada di depan ruang rawat Ashel.


Kini hanya tinggal Rafello yang berada disana. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa kemudian membuka ponselnya. Rasanya sudah lama ia tidak bermain game sejak ia dikirim ke Cina.


"Senangnya dalam hati. Kalau bisa main game sepuasnya tanpa teriakan sang mama," ucap Rafello. Ia sedang menunggu gamenya yang masih loading.


"Elo baik baik ya kakak ipar. Besok pagi lo sadar deh biar gue ada temen gelud," ucapnya kemudian mulai bermain game.


Disini dia bisa sepuasnya bermain game online. Jika di rumah, biasanya ia hanya bisa bermain sampai pukul sembilan malam. Mamanya dengan keras memaksanya berhenti meskipun Rafello sedang bermain asik.


Sempat beberapa kali ia tidak mendengarkan ucapan mamanya untuk berhenti main game diatas jam sembilan alhasil paginya semua kartu kredit dan kendaraan yang diberikan oleh papanya disita.


Namun Rafello masih perlu bersyukur karena ia memiliki Kavin. Sekesal kesalnya Kavin pada Rafello, Rafello tetap adiknya. Ia tiddk mungkin membuat adiknya menjadi rakyat jelata selama satu minggu.


Untuk itu setiap Rafello dihukum oleh mamanya, ia selalu mengungsi di rumah Kavin. Kavin juga sengaja memberikan satu kamar untuk Rafello di rumahnya.


Berjam jam berlalu Rafello masih fokus bermain game. Ia sudah menang berkali kali. Namun belum ada tanda tanda untuk ia berhenti. Rafello menggunakan ponsel berbeda untuk bermain game.


Rafello menggeliatkan tubuhnya. Sudah banyak posisi ia ganti saat bermain game. Matanya melirik ke jam tangan rolex yang terpasang di tangannya. Sudah pukul empat pagi pagi dan ia belum tidur sejak jam dua belas malam?


"Gila, rekor banget nih. Kalo mama tahu bisa bisa gue dikirim lagi ke Cina buat netap disana. Tapi untung sih gue kesini dengan dalih jagain calon kakak ipar, padahal gue main game," ucap Rafello tertawa.


"Waktunya orang ganteng bobo ganteng," ucap Rafello. Ia menguap kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan. Setelah nyaman dengan posisinya, Rafello mulai memejamkan matanya. Tak berselang lama, ia pun terlelap cepat.


***


Sekitar pukul tujuh pagi, Ashel kembali bangun. Ia melihat suster sedang mengecek keadaannya.

__ADS_1


"Astaga, anda sudah sadar? Saya panggilkan dokter ya," ucapnya.


"Tunggu," ucap Ashel pelan.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanyanya.


"Tidak ada. Saya hanya haus. Tolong bantu saya minum" ucap Ashel.


Suster itu pun mengangguk dan membantu Ashel untuk minum air putih. Segelas air penuh habis diminum olehnya. Setelah membantu Ashel minum, suster itu pun pergi dari sana memanggil dokter.


Setelah ditinggal beberapa menit, akhirnya suster tadi kembali dengan dokter yang menangani Ashel.


Dokter itu mulai memeriksa kondisi Ashel.


"Apa kamu merasakan sakit di sekitaran tubuh kamu?" Tanya dokter itu.


"Perut sih dok. Agak kaku terus keram pas gerak," ucap Ashel memberitahukan apa yang dia rasakan.


"Itu wajah karena luka tusuknya belum mengering. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" Tanyanya lagi.


"Hanya itu saja dok. Kaki saya masih bisa digerakan meskipun sedikit ngilu," ucap Ashel.


"Bersabarlah, jika kamu tidak banyak bergerak kamu pasti akan segera pulih. Luka cambukan di tubuh mu sudah mengering tinggal menghilangkan sisanya asal kamu rutin memakai salep yang saya resepkan," jelas dokter.


"Bersyukurlah karena kamu sudah siuman. Kamu tertidur selama satu minggu," ucap dokter.


"Satu minggu? Jadi saya tidak sadarkan diri selama itu?" Tanya Ashel cukup syok.


"Iya. Karena kondisi kamu yang lemah jadi kamu tidur cukup lama. Tapi itu tergolong cepat kebanyakan pasien yang mendapat luka seperti kamu butuh waktu dua sampai tiga minggu untuk sadar," ucap Dokter.


"Iya dok. Alhamdulilah," ucap Ashel.


"Baiklah. Jangan terlalu banyak bergerak, ingat kondisi kamu," peringat dokter itu. Ashel hanya mengangguk.


"Sus, bantuin naikin ranjangnya dong. Boleh ya?" Pinta Ashel.


"Baik," ucapnya. Suster itu pun menaikan ranjang bagian kepala Ashel. Ashel sudah bosan dengan posisi tertidur. Setidaknya jika dengan posisi sandaran ini dia bisa bergerak cukup leluasa.


Setelah membantu Ashel, dokter dan suster yang tadi mengecek keadaan Ashel pun keluar.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Rafello bangun. Ia cukup terganggu dengan suara suara manusia yang ditangkap telinganya.


Perlahan ia bangun dan duduk. Ia kembali mengecek jam di tangannya. Masih pukul tujuh. Ia baru tertidur sekitar empat jam yang lalu.


Kepalanya cukup pusing karena kekurangan tidur. Sepertinya ia harus kembali tidur. Semoga saja ia bisa tertidur dengan tenang.


Rafello kembali merebahkan tubuhnya. Matanya hanya terbuka sedikit. Sebelum ia menutup matanya lagi, ia sempat melihat ke arah brankar Ashel. Sekedar mengecek jika anak itu masih tertidur disana.


"Good, lo masih disana," gumamnya. Ia melihat ke arah brankar.


Namun tunggu. Kenapa anak itu seperti sudah membuka matanya?


Rafello kembali bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya melihat ke arah Ashel. Ternyata benar anak itu sudah bangun.


"L-lo udah bangun? Kapan ***?" Tanya Rafello. Ia mendekat ke arah brankar Ashel dengan wajah bantalnya.


"Serius lo udah bangun? Gak nyangka omongan gue manjur semalem. Ternyata bener, ucapan adalah doa," ucap Rafello. Ia tersenyum senang melihat ke arah Ashel.


"Sekalian deh gue mau nikah sama cewek montok bahenol rajin kelonin gue ya allah. Ucapan kan doa," ucapnya lagi.


Ia kemudian melihat ke arah Ashel. Dari tatapan anak itu Rafello merasa jika anak itu seperti aneh melihatnya.


"Kok diem aje? Lo kagak sawan kan? Ini gue si manusia ganteng sejagat raya," ucapnya pede. Rasa kantuk pun tiba tiba hilang saat ia melihat Ashel membuka matanya.


"Kamu siapa?" Tanya Ashel.


"W-what? Lo gak tahu manusia ganteng ini siapa?"


Ashel menggelengkan kepalanya.


"Demi apa? Masa lo gak kenal gue? Gue Rafello adeknya tunangan lo. Kavin. Kavinder Natapraja. Masa kagak tahu sih," ucap Rafello.


"Enggak. Siapa kamu? Pergi dari sini. Tampilan kamu kayak gembel," ucap Ashel.


Memang benar. Baju Rafello kusut dan rambutnya acak acakan sekali ditambah wajah bangun tidur.


"Sekate kate ngatain gue gembel. Gue ini calon CEO lo tahu?"


"Enggak. Kamu keluar, aku gak kenal kamu," ucap Ashel.

__ADS_1


"Lo hilang ingatan Shel? Yang bener aja." Ucap Rafello syok.


Tbc.


__ADS_2