
Happy reading♡
Kavin mengeluarkan air matanya saat melihat tidak ada respon apapun dari istrinya. Sudah sejak tadi ia memanggilnya namun Ashel hanya diam dengan tatapan kosong.
Adi dan Anna pun sudah tiba disana. Mereka semua masuk ke dalam ruangan Ashel termasuk Faraz dan Sarah.
Anna kembali menangis dalam diam saat melihat kondisi anaknya yang diam saja. Sedangkan Adi, ia hanya mampu memeluk istrinya itu. Ia sama rapuhnya dengan Anna. Apalagi Ashel adalah putri kesayangannya.
Anna mencoba mendekat ke arah brankar. Ia kemudian meraba kepala Ashel, namun diluar dugaan Ashel menepisnya. Ia bahkan bangun dari tidurnya dan beringsut mundur saat melihat banyak orang. Raut ketakutan sangat jelas terpancar dari wajahnya.
"PER-GI KALIAN," teriak Ashel. Ia sungguh ketakutan sekali melihat ada banyak orang di dekatnya.
"Sayang, ini bunda," ucap Anna terisak.
"PERGI, KALIAN CUMA MAU BUNUH ANAK AKU. PERGIII!!!" Ashel terus meracau dan mengamuk. Ia memeluk perutnya yang membuncit dan terus berucap minta mereka semua keluar.
"Sayang, ini aku. Papi si kembar," ucap Kavin lembut. Ashel menolehkan kepalanya ke arah samping. Dimana disana ada Kavin. Air mata Ashel terus keluar apalagi saat melihat suaminya di sampingnya. Ada perasaan senang namun ia takut. Ketakutan itu semakin menjadi jadi saat Anna memaksa memeluknya.
"LEPAS. KALIAN JAHAT, PERGI. PERGI!!"
Ashel mendorong kuat Anna agar menjauh darinya. Ia semakin menangis saat dirinya dipeluk. Anna hampir tersungkur saat di dorong oleh anaknya namun Adi dengan sigap menahannya.
"Sayang," panggil Kavin. Ia meraba tangan istrinya. Saat tidak ada perlawanan ia pun dengan cepat memeluknya.
"Maaf, maafkan aku," ucap Kavin.
"KENAPA?!! KENAPA KAMU BARU DATANG. MEREKA MAU BUNUH ANAK ANAK AKU. KENAPA," teriak Ashel histeris.
Kavin tidak mampu menjawab ucapan istrinya. Ia memang salah karena tidak mampu menyelamatkannya. Justru malah orang lain yang menyelamatkannya. Namun Kavin bersyukur, setidaknya istrinya selamat.
"Kita keluar dulu saja. Riana masih belum bisa tenang. Kita beri dia waktu dulu," ucap Adi.
"Tapi aku ibunya mas," ucap Anna.
"Aku tahu sayang, tapi lihatlah keadaan Riana. Hanya Kavin yang bisa menenangkannya. Nanti setelah Riana tenang, kita akan masuk lagi. Mas janji," ucap Adi. Anna pun hanya mengangguk lemah. Apa yang dikatakan suaminya ini ada benarnya juga. Semakin ia memaksa maka anaknya akan semakin menolaknya.
__ADS_1
Anna, Adi, Faraz dan Sarah keluar dari ruangan Ashel. Hanya tersisa Kavin seorang. Ia masih berusaha menenangkan Ashel yang terus meraung raung menangis ketakutan. Bahkan tangan Kavin sudah berdarah karena terluka oleh gigitan Ashel. Kavin tidak peduli dengan kondisinya.
"Aku takut," lirih Ashel.
"Aku udah disini sayang. Kamu jangan takut lagi," ucap Kavin.
"Mereka jahat. Mereka mau bunuh anak anak aku. Mereka paksa aku makan makanan yang mereka buat," ucap Ashel.
Kavin memejamkan matanya. Ia tidak akan melepaskan Liam. Ia akan membuat perhitungan untuk laki laki biad*b itu. Karenanya sekarang istrinya trauma.
"Jangan pergi lagi," ucap Ashel. Ia mendongkakan kepalanya menatap ke arah Kavin.
"Enggak akan sayang. Mas disini sama kamu," ucap Kavin. Ia mencium puncak kepala Ashel dengan sayang.
"Bobo disini," ucap Ashel. Kavin mengangguk. Ia pun naik ke atas brankar dan meletakan kepala Ashel di tangannya. Kavin sengaja menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk istrinya.
"Jangan tinggalin aku. Aku takut," ucap Ashel.
"Enggak akan sayang. Mas gak akan pernah ninggalin kamu sampai kapan pun," ucap Kavin. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus elus punggung istrinya.
"Nanti sembuh sayang. Kamu jangan banyak gerak dulu ya? Sekarang bobo," ucap Kavin. Ashel pun memeluknya dan memejamkan matanya. Sedangkan Kavin tak henti hentinya memberikan kecupan di kening sang istri. Ia sangat bahagia karena istrinya kembali.
***
Sedangkan di Bandara, Liam baru saja turun dari atas pesawat. Ia segera berlari menuju ke mobilnya. Anehnya kenapa bandara sangat sepi sekali. Padahal ini sudah pagi.
"Cepat Adam. Aku harus segera memastikan wanita ku kembali pada ku," ucap Liam.
Adam hanya diam saja. Ia tidak bergerak mengikuti Liam. Begitu juga dengan bawahan yang lain.
Tanpa sepengetahuannya, Ardian sudah mengosongkan bandara dan mengepungnya dengan para bawahannya. Ia berdiri di pintu keluar. Menatap datar dengan pandangan tajam pada Liam.
Sedangkan Liam tidak peduli dengan Ardian. Ia terus berjalan untuk sampai ke mobil.
Dorr...
__ADS_1
Satu tembakan melesat tepat mengenai betis Liam. Liam terkejut dan langsung tersungkur ke lantai. Ia meringis kesakitan karena tembakan itu. Ardian berjalan mendekat ke arah bocah ingusan itu. Ia berjongkok.
"Balasan karena bawahan lo udah nembak kaki adek gue. Beruntung gue gak bales tembakan bawahan lo ke adek lo, Nando."
"Bajing*n lo. Beraninya nyerang dari belakang," ucap Liam. Ia meringis kesakitan namun tidak ada satu pun bawahan yang menolongnya. Mereka hanya menonton saja layaknya itu semua adalah tontonan gratis bagi mereka.
"Gak usah berlagak bilang gue bajing*n. Kalo lo sendiri lebih rendah dari bajing*n. Gue nyerang dari belakang? Apa kabar sama lo yang culik adek gue diem diem. Ikutin adek gue kemana mana, bahkan lo hampir lecehin dia kan di pulau lo itu?!" Ardian memang sudah mengetahui apa yang dilakukan Liam pada adiknya dari bawahannya yang masih hidup.
Liam tidak menggubris perkataan Ardian. Ia mencoba kembali berdiri dan berjalan tertatih namun kesulitan. Saat ia mencoba berjalan tiarap, tiba tiba ada sepasang kaki berdiri di depannya. Sebelum Liam melihat siapa orangnya, pria itu lebih dulu menendangnya.
Dia Liando, papa Liam.
"Kamu bukan anak papa lagi Liam. Nama Anggana bukan lagi marga kamu. Karena keegoisan kamu, banyak nyawa yang melayang. Termasuk nyawa kembaran kamu," ucap Liando.
Liam terdiam. Nando meninggal? Ia pun tersenyum miring.
"Bagus kalo dia meninggal. Memang seharusnya seperti itu kan? Bocah ingusan yang mencoba merebut Ashel dari Aku," ucap Liam.
"Dasar gila!" Ucap Liando.
Ia pun menatap ke arah Ardian. "Aku meminta maaf atas kecelakaan kedua orang tua mu yang disebabkan anak tidak tahu untung ini. Aku serahkan dia kepada mu untuk menebus semua kesalahannya."
"Tentu, tuan Anggana," ucap Ardian.
Ia mengkode pada Max untuk membawa bajing*n ingusan ini pergi ke markasnya.
"Bagaimana keadaan istri tuan Kavin?" Tanya Liando.
"Kondisi kakinya masih dalam tahap penyembuhan. Mungkin dia membutuhkan psikiater untuk trauma yang dibuat anak anda," ucap Ardian.
"Trauma?" Tanya Liando. Ardian menganggukan kepalaanya. Liando hanya bisa menghela nafasnya. Kekacauan yang dibuat anaknya sungguh menyusahkan orang orang banyak.
AKSBSKSBDJSSYDVJ CAKEP BNGTTTT EMAK SI KEMBARRRRR
__ADS_1
Tbc.