
SALTOOOO DULU DONGG🤸♀️🤸♀️🤸♀️
jgn deh, jgn salto🫨🫨🫨🫨
SLEDING SJ OTAK KAPIN BIAR ILANG INGATAN. ATAU SEPAK SAJA JANTUNGNYA SEPERTI BOLA DI LAPANGAN BIAR ISDED LANGSUNG🦵🦶🦶
SPEK KAYAK ASHEL SJ UDH DISELINGKUHIN KAYAK GITU😠😤
.
.
.
Happy reading♡
Akhirnya sudah tiba waktunya Ashel berangkat ke acara pernikahan kedua suaminya. Ia menatap penampilannya di depan cermin. Biasanya ia akan menggunakan gaun merah atau hitam karena kedua warna itu adalah warna favorit suaminya, namun saat ini tidak. Ia justru mengenakan gaun berwarna putih tulang.
...(gaun yg dipake Ashel)...
Ashel nampak sangat cantik dan elegan dengan penampilannya saat ini. Gaun itu mencetak tubuh Ashel yang indah sedangkan rambutnya ia ikat panjang.
Ashel turun dari kamarnya menuju ke depan. Disana sudah ada Richi. Entah mengapa ayahnya membiarkan Richi terus membantunya. Bahkan tidak ada satu pun dari keluarganya yang bertanya lagi tentang keputusan ini.
Richi membuka kan pintu mobil untuk Ashel. Kebetulan juga ia sudah janjian dengan Ayu dan juga Rafello di lokasi gedung itu.
Ashel menghela nafasnya. Tatapannya berubah menjadi datar dan jarang tersenyum. Berbeda seperti Ashel biasanya.
Kantung matanya yang membengkak masih terlihat meskipun Ashel sudah memakai make up. Tadinya ia tidak ingin memakai gaun, namun hanya itu yang tersisa di penthouse ini. Ashel bahkan tidak ingat ia memiliki gaun ini.
Sekitar satu jam berlalu, mobil yang ditumpangi Ashel sampai di depan gedung pernikahan suaminya. Sebelum keluar, ia mengambil map yang berisi surat gugatan perceraiannya dengan Kavin. Ia menatapnya sebentar namun hatinya terus berharap jika hal ini tidak pernah terjadi.
Ia keluar dari dalam mobil setelah menyeka air matanya. Disana sudah berdiri Ayu dan Rafello yang menunggunya.
Ayu langsung berhambur memeluk sahabatnya ini. Ia tidak memiliki kata kata apapun untuk dikatakan pada sahabatnya ini. Ia hanya mampu memberikan pelukan. Memberikan kekuatan pada sahabatnya ini melalui pelukannya itu.
Ayu melepas pelukannya kini berganti Rafello yang memeluknya. Seumur umur, kedua mahluk ini tidak pernah akur. Sepertinya ini pertama kalinya mereka berpelukan.
Anehnya, di pelukan Rafello, Ashel kembali menangis. Pelukan hangat dari Rafello mengingatkannya pada Kavin. Sudah lama sekali rasanya ia tidak pernah merasakan pelukan itu.
__ADS_1
Yang ia rasakan hanya pelukan penuh nafsu membara dari tubuh suaminya.
"Lo tenang aja. Gue gak bakalan biarin pestanya berjalan lancar. Gue udah taro bubuk mesiu buat hancurin ini gedung. Peduli setan sama orang orang yang ada di dalamnya," ucap Rafello.
Ashel mengurai pelukannya, "Kriminal banget idup lo."
"Ya abisnya gue gedek banget sama tuh manusia. Udah mah bersyukur dapet bini kayak lo, ini malah banyak tingkah," ucap Rafello kesal. Ia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya itu. Bisa bisanya ia berubah secepat ultramen.
"Shel, harusnya kita gak dateng loh. Kenapa lo mau dateng sih?! Ini kan sama aja lo restuin pernikahan kedua suami lo," ucap Ayu.
Ashel tersenyum dan menunjukan map yang ada di tangannya pada Ayu dan Rafello.
"Map apaan nih?" Tanya Rafello. Ia menariknya dari tangan Ashel dan membukanya.
Rafello dan Ayu bersamaan melihat isi map itu.
"Surat gugatan cerai," gumam Rafello dan Ayu.
Setelah membaca isi map itu, keduanya saling tukar pandang.
"Lo yakin pisah sama suami lo?" Tanya Ayu.
"Baguslah kayak gitu, lo berhak bahagia. Dan kayaknya bahagia lo gak sama abang gue," ucap Rafello.
"Gue bahkan udah pesen tiket buat pergi. Mungkin kuliah juga gue bakalan pindah tempat, sengaja kasih tahu kalian biar nanti kalian gak kaget dan enggak cari cari gue. Soalnya lusa gue berangkat," ucap Ashel membuat keduanya syok terutama Ayu.
"Lo ninggalin gue lagi?! Lagi Shel?! Padahal gue niat sekolah kesini biar bisa terus bareng sama lo. Ternyata kita cuma temenan sampe semester tiga," ucap Ayu. Ia menundukan kepalanya.
Lagi dan lagi ia harus terpisah dari sahabat terbaiknya. Lama lama Ayu lelah juga kenapa takdir selalu mempermainkannya. Padahal ia sengaja kuliah disini agar dekat dengan sahabatnya ini.
"Gue juga terpaksa Yu. Gue emang lemah, gue gak bisa stuck di tempat ini. Apalagi letak kampus sama penthouse berdekatan, gue gak mau liat kebahagiaan mas Kavin sama wanita itu. Apalagi wanita itu udah hamil, malahan jalan enam bulan," ucap Ashel terkekeh.
Ia menertawakan nasib hidupnya. Sepertinya ia sedang hidup di puncak komedi.
"Gitu dong ketawa, konsep hidup lo kan emang komedi. Tinggal di puter aja," ucap Rafello.
"Lo mau pindah kemana? Biar gue ikut juga, gue mau temenin lo sampe lo bangkit lagi," ucap Ayu.
"Hilih, dikira bangkit dari kuburan kali ye," ucap Rafello.
Suasana sudah tegang tapi anak itu masih saja melawak. Padahal lawakannya itu sangat garing.
__ADS_1
Tangan Ayu mengudara menggeplak bahu tangan Rafello. Sangat empuk sekali sampai terdengar suara nyaring.
"Lo gak lihat sikon ya njing?! Gedek gue," ucap Ayu.
"Ya elah, kan biar gak tegang. Makanya gue lemesin dulu, kayak lo waktu itu. Gue buat lemes," ucap Rafello menaik turunkan alisnya menatap ke arah Ayu.
Ashel hanya tersenyum melihat tingkah kedua mahluk ini. Setidaknya dengan kehadiran mereka berdua Ashel masih bisa tersenyum.
Entah sudah sejauh mana hubungan Ayu dan Rafello. Ashel hanya berharap jika Rafello tidak seperti kakaknya suatu saat nanti.
"Gue pindah ke negara lain. Kemananya gue gak bisa bilang, takutnya lo susulin gue terus nih laki lo juga susulin lo. Nanti malah mas Kavin tahu gue kemana," ucap Ashel.
Ayu mendesah kecewa. Padahal ia sangat ingin menemani sahabatnya ini.
"Udah yuk masuk aja. Kayaknya udah mau dimulai," ucap Ashel mengajak Ayu dan Rafello.
"Lo yakin kuat? Mending lo tunggu beresnya aja. Nanti tinggal gue tepok bokong Ayu, bubuk mesiunya pasti meledak," ucap Rafello.
"Hiiihhhhh," ucap Ayu kesal.
"Gue kuat kok. Ini mungkin pertemuan terakhir gue sama mas Kavin." Ucap Ashel.
"Yaudah. Ayo jalan," ucap Rafello.
Mereka bertiga pun berjalan masuk ke dalam gedung. Sebenarnya jantung Ashel dag dig dug tak menentu. Ia masih ragu dengan pilihannya, tapi jika tidak begini mungkin hidupnya akan lebih menderita.
Ashel masih berasa mimpi. Mimpi buruk.
Takdir terlalu mempermainkannya. Dulu ia dipaksa untuk menerima perjodohan yang dilakukan buyutnya. Ia juga bahkan harus membiasakan dirinya menerima kehadiran Kavin di hidupnya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Ashel luluh dan menerima Kavin di kehidupannya. Bahkan Kavin selalu memberikannya kebahagiaan yang tak terkira.
Tapi sekarang, semua kebahagiaan itu sirna dengan kebohongan yang dilakukan suaminya selama ini. Bahkan selama enam bulan lamanya hingga selingkuhannya mengandung anaknya.
Ashel lagi lagi tersenyum getir mengingat kisah hidupnya yang jungkir balik ini.
Tbc.
Hehe, kalo typ maap.
__ADS_1
Asli bacain komentar dari kalian mood bngt loh. Thnkss bngtt yaa🫨🫨🫨
Mampir ya ke cerita AWMB punya aku. Itu baru, klik profile saja ya guysss❤️🫸