My Little Wife

My Little Wife
47. Vanes dan Selena


__ADS_3

Andini menemui Vanes di restoran yang sudah di mereka berdua sepakati. Mereka berdua duduk berhadapan.


"Jadi, kamu hamil juga?" Tanya Andini kelewat sewot.


"Iya."


"Oh. Hamil bohongan ya?" Tuduh Andini.


Mata Vanes seketika melotot. "Pasti kamu yang hamil bohongan. Usia kandungan kita kita hampir sama. Jika kau memang hamil, kenapa kau masih mengajak suamiku untuk bercinta denganmu? Orang hamil kan tidak boleh bercinta."


"Aku keguguran karena suamimu itu!"


"He! Jangan tuduh suamiku seenaknya ya. Aku tahu bagaimana suamiku. Jangan seenaknya menuduh tanpa adanya bukti, Andini!"


"Suatu hari nanti, kita akan membagi Kenzo, Vanes. Kenzo akan menikahiku walaupun secara siri nantinya. Jika itu sudah terjadi, aku akan mengambil alih Kenzo darimu. Ingat itu!"


"Jangan mengatakan mimpimu padaku, Andini. Aku tidak menanyakan mimpimu." Jawab Vanes.


Andini tersenyum remeh. "Aku tidak menyangka perempuan yang di hadapanku ini dulunya putri sekolah sekarang sedang hamil di usia sembilan belas tahun."


"Aku tidak menyangka jika perempuan yang duduk di hadapanku ini dulunya adalah pembokatku dan sekarang menjadi perempuan malam." Balas Vanes.


Andini berdiri. Menarik Vanes agar berdiri kemudian mendorong Vanes hingga perutnya menatap kursi. Darah mengalir. Vanes merintih kesakitan.


Selena yang kebetulan ada disana langsung menghampiri keduanya. Menolong Vanes yang pucat pasi. Beberapa pengunjung menyekal tangan Andini agar tidak kabur.


"Vanessa! Ya ampun! Kau harus ke rumah sakit."


***


Setelah tiga puluh menit menangani Vanes, dokter keluar dari ruangan Vanes. Juna, Kenzo dan Selena langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dokter, keadaan istri saya bagaimana?" Tanya Kenzo.


"Kandungan istri bapak melemah. Untung bayinya masih bisa di selamatkan. Saat ini, ibu Vanessa masih dalam pengaruh obat bius. Kalian boleh masuk."


Kenzo langsung masuk ke dalam ruang rawat Vanes. Nampak Vanes tertidur dengan bibir yang pucat. Selena yang melihatnya menjadi haru. Apalagi ketika melihat Vanes yang tadi terus meronta-ronta kesakitan.


Juna telah membawa Andini ke penjara karena yang di lakukannya terhadap Vanes dianggap tindakan kriminal. Membahayakan nyawa orang. Melihat mantan kekasihnya, hati Juna rasanya sakit. Tangis Kenzo yang pilu menandakan jika Kenzo benar-benar menyanyangi Vanes. Juna sekarang ikhlas. Tekadnya sekarang adalah belajar mencintai Selena.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Gumam Kenzo di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


"Andini mendorongnya hingga perutnya menatap ke meja restoran tadi. Aku tidak tahu jelas kenapa Andini bisa melakukan hal tersebut." Jawab Selena. "Aku kasihan melihatnya tadi. Saat itu tadi, seharusnya kalian liat ketika Vanessa kesakitan. Hal itu membuat kalian sadar jika perempuan itu berharga."


"Sudah, Ken. Jangan menangis. Keduanya masih bisa di selamatkan. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah lebih ekstra menjaganya."


"Iya. Vanessa juga tidak perlu di rawat inap. Saat sadar, kau bisa membawanya pulang, Ken." Tambah Selena.


Kenzo membalasnya dengan anggukan kepala. Dia hampir kehilangan calon anaknya. Mulai sekarang, Kenzo tidak akan membiarkan Vanes keluar dari rumah tanpa dirinya.


***


"Nak, kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa kan?"


Vanes hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia baru saja pulang dari rumah sakit tadi. Tapi, Dylan dan Tasya sudah keburu datang ke rumahnya.


"Mama akan tetap disini untuk menjaga kamu." Kata Tasya.


"Aku juga akan membantu merawatmu." Sahut Selena yang ikut ke rumahnya.


Dari ranjang tempat tidurnya, Vanes hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Sedari tadi dia tidak melihat Kenzo sejak Kenzo menidurkannya di kamar.


"Terima kasih, Nak Selena sudah membawa Vanessa ke rumah sakit." Kata Tasya.


"Iya, Tante. Nggak pa-pa, kok."


Selena mengenggam tangan Vanes. "Aku tahu rasa sakitnya tadi, Vanes. Aku sudah pernah mengalaminya."


"Iya. Terima kasih sudah menolongku."


"Tidak masalah.Tolong maafkan aku jika selama ini aku pernah jahat pada dirimu." Selena menghela nafas. "Selama ini aku terlalu di butakan oleh rasa cemburu, Van. Kau tahu kan maksudku bagaimana?"


"Aku mengerti. Rasa was-was jika suami nantinya berkhianat itu wajar dalam ikatan rumah tangga. Semua perempuan merasakan itu dalam sebuah hubungan."


"Aku merasa jika Juna tidak mencintaiku, Van. Rumah tangga kami berjalan hambar karena tak ada cinta. Hanya aku yang berjuan disini. Ketie adalah ikatan yang membuat Juna tidak menceraikanku." Selena menunduk.


Vanes balas mengenggam erat tangan Selena. "Kau bisa maju untuk membuat Juna mencintaimu. Kau pasti bisa. Kau adalah perempuan hebat. Perempuan tidak lemah."


"Iya. Kau benar. Aku memang tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa membuat Juna mencintaiku."


"Iya. Kau bisa." Vanes tersenyum. "Boleh kau ku anggap sebagai kakakku?"


"Tentu saja boleh. Tapi, jangan panggil aku 'kakak' panggil saja namaku seperti kau memanggil Juna ya?"

__ADS_1


"Terima kasih, Selena."


***


"Hana!" Panggil Kenzo ketika Hana hendak keluar dari rumah.


Dengan gugup, Hana menoleh. "A-Ada apa, Kak Kenzo?"


"Kau pasti mendengar ucapanku dengan seorang perempuan di cafe kan?" Tanya Kenzo langsung. Dia malas basa-basi dengan perempuan yang berdiri di hadapannya ini. Karena perempuan ini juga dia dan Vanes harus kehilangan satu calon bayinya.


"Per-percak-kapan yang mana, Kak?"


"Sudah! Jangan pura-pura bodoh. Sebenarnya, arah pembicaraanku waktu itu tidak seperti yang kau pikirkan. Jadi, jangan buat omongan yang membuat Vanessa kepikiran. Apa kau tidak ingat jika kau yang membuat aku dan Vanessa kehilangan satu calon anak kita."


"Iya, Kak. Aku akan diam disini. Maaf."


Kenzo hanya bergumam. Kemudian dia masuk ke dalam mengahampiri Juna yang sedang menyeduh kopi. Rupanya, Dylan sudah naik ke kamar tamu. Jadi, dia dan Juna bisa membahas tentang Erika.


"Juna?"


"Oi, Ken."


"Gimana sama Erika?" Tanya Kenzo sambil mendudukkan pantatnya di sofa.


"Ya begitulah. Erika masih terus berkeliaran. Kau tahu tidak kalau di rumahku bagaimana? Erika selalu beradu mulut sama Selena. Cocok kan? Rasanya gendang telingaku pecah jika mereka sudaha bertengkar." Curhat Juna.


Kenzo tertawa kecil. "Itu cukup melatihmu agar pendengaranmu lebih tajam."


"Sialan!" Juna tertawa. "Kalau tiap hari ya nggak baik buat telinga, Ken."


Kenzo tertawa.


"Andini adalah murid kita ternyata." Kata Juna.


Seketika saat itu juga tawa Kenzo hilang. "Iya. Murid kita dulu."


"Tidak menyangka besarnya seperti itu, Ken."


"Kau benar. Aku juga tidak menyangka."


"Kau harus hati-hati menghadapi orang yang ingin merusak rumah tanggamu, Ken. Vanessa juga sedang hamil. Dan kandungannya sangat rentan."

__ADS_1


"Termasuk adik sepupumu?" Tanya Kenzo.


"Ya. Hati-hati dengan Erika. Dia itu hampir sama denganku. Jika sudah mengincar sesuatu, maka harus di dapatkannya. Tak peduli itu caranya bagaimana."


__ADS_2