
Hai kakak kakak yang selalu setia baca cerita aku dari eps 1 sampe eps hari ini. Aku mau ucapin makasih karena kalian udah dukung aku sampe tahap ini. Bukan hal mudah buat bisa sampe tahap ini, banyak banget jatuh bangunnya tapi alhamdulilah aku punya support sistem terbaik.
aku minta tolong banget ya sama kakak kakak yang baca, kalo emang banyak kekurangan di cerita aku tolong kasih sarannya juga. Biar aku bisa perbaiki ke depannya.
Tetep support dan ramein cerita aku ya. Makasih semuanya❤️
.
.
.
Happy reading♡
Kavin memijat keningnya. Pekerjaan hari ini cukup membuat energinya terkuras. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan client clientnya dari Jepang dan Indonesia. Namun masih ada satu client lagi yang memintanya bertemu namun diluar kantor.
"Josh, apa materinya sudah siap?" Tanya Kavin.
"Sudah. Tadi Alin sudah menyiapkannya, apa dia juga ikut?" Tanya Josh.
"Biarkan saja dia di kantor. Kau saja yang ikut," ucap Kavin.
"Baik tuan."
Josh pun pergi menyiapkan mobil sedangkan Kavin kembali memijat keningnya. Ia tidak saling bertukar pesan seperti biasa dengan istrinya sebab keduanya sibuk dengan kegiatan masing masing.
Tadi juga istrinya sudah menghubunginya jika Ashel akan ada tugas kelompok dan akan mengerjakannya di cafe. Kavin tentu mengijinkannya dan tetap tenang karena tanpa sepengetahuan istrinya, ia sudah menyuruh dua bodyguard untuk membuntutinya.
Kavin masuk ke dalam mobil untuk sampai ke cafe. Disana ternyata clientnya sudah menunggunya. Beruntung jarak dari kantor ke cafe itu cukup dekat.
Sekitar tiga puluh lima menit berlalu, Kavin sampai di lokasi. Ia keluar dari dalam mobil setelah pintunya dibukakan oleh Josh.
Josh mengikuti langkah tuannya dari belakang. Mereka menuju ke salah satu meja yang sudah mereka reservasi terlebih dahulu.
"Selamat siang tuan Kavin," sapa client Kavin.
"Siamg kembali tuan Marta," ucap Kavin.
"Silahkan duduk," ucap Marta.
__ADS_1
Yap, client Kavin kali ini adalah Marta, ayah kandung Nadine.
"Langsung saja ke intinya, saya tidak mau basa basi," ucap Kavin to the point.
"Ternyata anda masih sama seperti dulu, nak Kavin. Baiklah, maksud saya mengajak anda bertemu itu bermaksud ingin mengatakan jika anak saya, Nadine siap menjadi istri kedua anda. Melihat dulu bagaimana kalian dekat, saya jadi yakin anda dan putri saya memiliki rasa suka," ucap Marta.
"Ternyata itu maksud anda. Saya tidak menyangka sekali dengan sikap anda tuan Marta. Padahal jelas jelas anda sudah tahu jika saya sudah menikah. Lalu untuk apa lagi saya memiliki seorang istri?" Tanya Kavin.
"Tentu saja saya mengatakan ini karena saya yakin hanya anak saya yang anda cintai dan bukan gadis itu. Jelas saja gadis itu merebut anda dari putri saya. Bayangkan, setelah anda menikah dengan putri saya, saya pasti akan banyak berinvestasi di perusahaan anda. Anda bisa membayangkannya sendiri pastinya perusahaan anda akan semakin jaya," jelas Marta.
Kavin tertawa sumbang mendengarnya. Ia merasa sangat menyesal karena menemui orang ini hari ini.
"Sayangnya saya cukup dengan satu istri dan saya sangat mencintai istri saya begitu sebaliknya. Lagi pula, istri saya selalu membuat saya puas. Jadi untuk apa lagi, saya sudah sangat bersyukur dengan istri saya. Dan ingat, jangan pernah mengatakan kata kata seperti itu. Kerja sama kita berakhir hari ini. Saya sendiri yang akan menanggung semua kerugiannya," ucap Kavin. Ia pun pergi dari sana dengan perasaan yang sangat kesal bukan main.
Bisa bisanya pria itu mengatakan hal serendah itu. Padahal dia sudah jelas jelas tahu jika Kavin sudah menikah dan dia sangat mencintai istrinya dan tidak mungkin untuknya menikah lagi.
"Hancurkan perusahaan Marta. Jangan sampai aku kehilangan uang ku," ucap Kavin pada Josh. Ia pun melanjutkan jalannya namun kembali berhenti saat matanya melihat sosok istrinya yang tengah makan dengan lahap.
Ia tersenyum melihatnya. Istrinya ini memang doyan sekali makan. Namun matanya menyipit saat melihat dengan siapa ia duduk.
"Kau duluan, aku masih ada urusan lain," ucap Kavin. Ia pun berjalan ke arah meja istrinya.
Istrinya sangat lahap makan dan tidak menyadari hal itu. Begitu juga dengan pria yang ada di dekatnya. Kavin sudah tahu siapa pria itu.
Kavin menahan senyumnya saat banyak noda saus di ujung bibir istrinya. Ia pun mengangkat tangannya untuk mengelap noda itu.
Ashel terkejut dan melihat ke arah orang yang mengelap bibirnya. Seketika matanya membulat melihat suaminya yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Cupp...
Kavin mengecup bibir istrinya kilat. Dan hal itu tentu saja menjadi tontonan untuk Nando. Nando mengepalkan tangannya dan sangat ingin membogem pria di depannya ini.
"Mashhhh," geram Ashel.
"Apa? Mau marah? Marah aja ayo marah. Tapi siap siap ya," ucap Kavin.
"Jangan kayak gitu mas. Ini tempat umum," ucap Ashel.
"Peduli setan, aku suami kamu sayang. Pulang yuk," ajak Kavin.
__ADS_1
"Yaudah," ucap Ashel. Ia tidak bisa menahan suaminya ini untuk melakukan apa yang ia inginkan. Sialnya ia harus bertemu sekarang, padahal niatnya ingin bertemu dengan Ayu dan mencari alamat itu namun semuanya gagal.
"Nan, gue duluan ya. Nanti tugasnya lo print aja, filenya ada di flash disk ini," ucap Ashel sembari memberikan flash disk itu.
Ashel pun mengemasi barang barangnya dan pergi dari sana bersama suaminya.
"Kamu kok cuma berdua sama cowok itu? Katanya tadi ada ceweknya juga," tanya Kavin. Mereka sedang berjalan bergandengan menuju ke depan cafe. Disana sudah ada Josh menunggu bersama mobil.
Kavin membukakan pintu untuk istrinya untuk masuk. Setelah ia masuk barulah istrinya masuk.
"Tadi emang ada ceweknya mas, cuma dia pulang duluan. Adiknya kecelakaan masuk rumah sakit," ucap Ashel.
"Jangan terlalu deket sama dia ya, aku gak suka," ucap Kavin.
"Aku deket sama dia cuma pas ada kerja kelompok aja mas. Selebihnya aku deket sama Ayu sama Rafello. Kamu bisa tanya adik kamu kalo kamu gak percaya," ucap Ashel. Ia memeluk tangan suaminya dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
Kavin menghirup aroma green tea dari kepala istrinya saat ia menciumnya. Sangat menenangkan.
"Aku cuma bisa anterin kamu ke rumah. Habis itu aku harus pergi lagi yang. Gak papa?" Tanya Kavin.
"Emang mau kemana lagi?" Tanya Ashel. Ia mengadahkan kepalanya pada suaminya.
Kavin tersenyum. Ia mengecup hidung mancung istrinya, "Aku mau ketemu Ardian. Ada urusan pekerjaan sayang. Gak papa?" Tanya Kavin.
"Gak papa. Aku juga mau main sama Ayu boleh?" Tanya Ashel.
"Gak aneh aneh kayak waktu itu kan?" Tanya Kavin.
"Enggak mas ku sayang," ucap Ashel.
"Oke," ucap Kavin.
Ashel pun tersenyum. Ia sangat senang sebab hari ini ia bisa melakukan niatnya dengan Ayu.
Ashel turun dari dalam mobilnya saat mereka sudah sampai di penthouse mereka. Kavin juga ikut turun.
"Mas janji pulang lebih awal. Nanti kita makan malam bareng," ucap Kavin. Ia pun mencium istrinya cukup lama. Rasanya sangat berat sekali harus berpisah meskipun hanya beberapa jam saja.
__ADS_1
Tbc.
Kalo ada typ maap ya, ramein vote komen ya guys.