
Happy reading♡
Kavin memegang kuat ujung kursi yang ia gunakan. Sungguh istrinya ini sangat pandai memainkan miliknya. Bahkan Kavin terus mematikan microfonnya. Tatapannya tajam dengan nafas yang berat. Zoom meeting entah kapan akan selesai. Rasanya Kavin ingin membanting laptop ini saja.
Ashel sendiri sudah sangat puas ketika melihat raut tajam dan geraman dari suaminya ini. Ia terus mengul*m dan bermain pada milik suaminya. Bukan apa apa, hanya saja lucu ketika melihat raut frustasi dari wajah suaminya ini. Ia tidak bisa berbuat apa apa selain diam dan pasrah.
Mungkin beberapa direksi yang sedang zoom meeting akan biasa saja saat melihat Kavin melaluo zoom itu. Namun mereka tidak tahu saja jika Kavin ingin sekali mendorong meja di depannya dan menarik istrinya ke atas kasur.
Perihal baby's, mereka aman. Bahkan mereka memang selalu tidur pulas di malam harinya. Untuk itu jatah Kavin mulai saat ini tidak akan berkurang. Kavin menarik rambut istrinya agar menjauh dari miliknya. Sedangkan Ashel serasa makin ditantang dengan perlakuan suaminya itu. Ia tidak peduli jika rambutnya akan rontok, yang jelas ia akan mengerjai suaminya saat ini. Mulut dan lidah Ashel terus bergerilya pada milik suaminya. Milik Kavin semakin menegang dan geraman terus keluar dari mulut suaminya. Ashel terus mempercepat gerakan tangannya pada milik suaminya karena Kavin akan sampai sebentar lagi. Namun sebelum itu,
"Kita lanjutkan zoom-nya besok siang. Ini bukan waktunya bekerja," ucap Kavin dengan nada berat. Tanpa menunggu persetujuan dari mereka Kavin langsung mematikan panggilan videonya sepihak.
Kavin mendorong meja di depannya dan menyapu laptop miliknya hingga jatuh ke atas lantai. Seketika laptop yang layarnya masih menyala itu pun mati. Kavin memegang rambut istrinya juga mencekal tangannya agar berhenti bermain.
Ashel adalah istrinya, meskipun ini nikmat tapi ia tidak suka jika Ashel seperti ini. Istrinya ini istimewa, dan Kavin tidak akan pernah mau Ashel memuaskannya karena harus ia yang memuaskan istrinya. Jika istrinya puas maka Kavin pun akan puas.
"Tindakan ceroboh sayang. Kamu sangat tahu aku seperti apa, waktunya untuk hukuman mu," bisik Kavin. Pria itu menaikan tubuh istrinya ke atas meja kerjanya. Dan masuk diantara kedua kaki Ashel.
"Mas, biarkan aku memegang kendali. Hanya kali ini saja," ucap Ashel.
"Kamu istimewa sayang, aku tidak akan pernah membiarkan mu melakukan hal seperti itu lagi," ucap Kavin. Bibir Ashel langsung jadi sasaran empuk penyerangan Kavin. Ia menekan tekuk istrinya agar semakin memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan Ashel bergerak membuka kancing kemeja suaminya.
Ashel mendorong tubuh suaminya sehingga ciuman mereka terlepas, "Persetan dengan istimewa. Kamu juga suami ku mas. Aku bebas melakukan apapun yang aku mau pada dirimu."
Ashel menarik tubuh suaminya agar duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. Lampu kamar mereka masih terang. Kavin bisan dengan jelas melihat istrinya.
Ashel duduk diatas pangkuan suaminya. Ia terus mencumbu suaminya agar pria ini terbuai. Tangan Kavin bergerak ke belakang tubuh istrinya. Membuka kaitan br*. Kedua squishy Ashel yang masih mengeluarkan asi pun terlihat sangat besar. Ditambah Ashel memang sengaja tidak mengeluarkannya karena ingin Kavin yang menyusu padanya.
Kavin memeluk tubuh istrinya, mulutnya sudah di sumpal oleh squishy istrinya. Ashel menggerakan pinggulnya maju mundur membuat milik suaminya semakin menegang.
__ADS_1
Hanya dengan gerakan seperti itu saja, dalam waktu beberapa menit Kavin sudah mencapai pelepas*nnya. Semua atas kehendak istrinya.
Nafas Kavin memburu tidak beraturan begitu juga dengan nafas Ashel.
"Alasan ku tidak mau berada diatas ku karena aku lemah sayang. Aku akan cepat keluar," ucap Kavin.
"Sesekali biarkan aku yang memegang kendali," ucap Ashel. Ia melepas lingerie yang melekat di tubuhnya. Kini dia sama seperti suaminya. Naked tanpa ada kaim yang menutupi.
Ashel menaikan satu kakinya. Milik suaminya sudah tidak meneg*ng seperti tadi. Namun Ashel memiliki cara agar suaminya kembali bergairah. Ia mengarahkan milik suaminya pada miliknya kemudian duduk sehingga seluruh milik suaminya masuk ke dalam miliknya.
Geraman tertahan keluar dari mulut Kavin karena Ashel sedang mencumbunya.
"Are you ready daddy?" Bisik Ashel sembari mengeluarkan desah*nnya.
Kavin tidak menjawabnya. Pria itu justru langsung menggerakan pinggang istrinya agar bergerak naik turun.
Rintik rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Namun baby's juga maminya belum juga bangun. Mereka berempat masih setia menutup matanya sembari selimut menutupi tubuh mereka agar hangat.
Semalam baby's tidak ada yang bangun. Mereka anteng tidur meskipun di ruangan sebelahnya mami dan papinya terus bergaduh. Tidur mereka sangat nyenyak dan damai.
Kavin terbangun lebih dulu. Ia melihat ke sampingnya dimana istrinya masih memejamkan matanya. Semalam sungguh Kavin sangat dibuat terlena oleh permainan istrinya. Biasanya ia akan keluar empat sampai lima kali, tapi semalam ia mengeluarkan sampai berkali kali. Semua atas kehendak istrinya.
Kavin mengecup pelan bibir sang istri kemudian bangun dari tidurannya. Ia melihat keadaan kamarnya. Di kiri, laptop, kemeja, dan lingerie istrinya tergeletak di lantai. Untuk kamar mereka tidak sekacau biasanya.
Kavin bangun dan membereskan bajunya juga lingerie Ashel yang ia masukan ke dalam keranjang kotor. Ia melihat laptopnya sudah tidak bisa menyala. Bahkan ada retakan di ujungnya. Ia pun menyimpannya dan akan segera ia buang mungkin.
Kavin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pikirannya kembali menerawang, mengingat kejadian semalam dimana istrinya jauh lebih agresif dari biasanya.
"Nafsu wanita memang sebesar itu ternyata," gumam Kavin.
__ADS_1
Ia tak berlama lama mandi. Selesai mandi langsung berpakaian santai dan melihat keadaan anak anaknya yang masih tertidur lelap. Kavin hanya membuka kelambu penutup ranjang dan membiarkan anak anaknya tetap tidur.
Kini ia beralih pada istrinya.
"Sayang, wake up," bisik Kavin. Ia mengelus pelan pipi sang istri agar terbangun. Ashel hanya melenguh saja kemudian menutup matanya lagi.
"Bangun cinta, kamu harus isi energi dengan makan," ucap Kavin.
"Jam berapa?" Tanya Ashel pelan.
"Pukul tujuh pagi," ucap Kavin.
Ashel perlahan membuka matanya. Tatapannya terpaku pada mata suaminya yang sedang menatapnya.
"Jangan menatap ku," ucap Ashel.
"Kenapa?" Tanya Kavin menahan senyumnya.
"Pokoknya jangan. Malu," ucap Ashel. Ia menutup wajahnya menggunakan selimut miliknya.
"Malu? Malu kenapa? Semalam justru kamu sangat hebat sayang," ucap Kavin.
"Iih, malah dibahas. Dibilang aku malu," ucap Ashel.
Tawa Kavin menggelegar. Lucu sekali melihat istrinya yang tengah malu karena ulahnya sendiri. Pagi ini malu tapi semalam istrinya sangat agresif dan juga sedikit sangat bin*l.
Tbc.
Hmzt.
__ADS_1