My Little Wife

My Little Wife
Bab 322 : Cobaan Yang Disengaja


__ADS_3

Happy reading♡


Setelah menghabiskan satu hari penuh makan di mobil bersama suaminya, Ashel pun memutuskan untuk pulang saja. Ternyata mereka sudah selama itu meninggalkan rumah. Buktinya langit diatas sudah berganti warna. Pantas saja, sekarang sudah pukul dua sore.


"Ayang pulang aja?" Tanya Kavin.


"Iya mas. Udah sore juga. Aku pengen tidur," ucap Ashel.


"Gak mau jajan lagi? Atau mau apa gitu?" Tanya Kavin.


"Enggak sayang. Pulang, bobo sama kamu," ucap Ashel.


"Boleh itu tapi?" Tanya Kavin.


"Jangan dulu sekarang gak papa? Aku cape, pinggang juga sakit," ucap Ashel.


"Oke oke sayang. Kita pulang sekarang ya? Nanti aku pijitin kamu," ucap Kavin.


"Cukurin bul* b*lu aku juga ya? Gak papa? Gak keliatan, perut aku besar banget," ucap Ashel.


Demi apa. Iman Kavin akan diuji lagi. Mau tak mau Kavin hanya mengangguk pasrah. Belum saja dia melakukannya dia sudah kepanasan sendiri. Bisa bisa Kavin main solo lagi.


Huft.


Kavin melajukan mobilnya dengan santai menuju ke mansionnya lagi. Jarak dari sana tidak jauh. Hanya sekitar dua puluh menit ia pun sampai ke mansionnya.


Kavin turun lebih dulu dari dalam mobil kemudian membantu istrinya turun dari dalam mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam mansion dengan Ashel yang menggandeng tangan suaminya. 


"Sakit banget ya pinggangnya?" Tanya Kavin. Ashel menganggukan kepalanya.


"Aku gendong aja gimana?" Tanya Kavin.


"Enggak, enggak. Gak usah, takut jatoh," ucap Ashel.


Mereka berdua terus berjalan menuju ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Beruntung mansion Kavin dilengkapi lift. Jadi saat sampai di lantai satu, Ashel bisa langsung masuk lift untuk sampai ke lantai dua.

__ADS_1


Rumahnya sepi. Entah kemana perginya kedua orang tuanya saat ini. Ashel dan Kavin masuk ke dalam lift. Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh detik mereka pun sampai ke lantai dua.


Ashel langsung duduk diatas kasur. Ia memijat pelan pinggangnya sedangkan Kavin dengan sigap mengambil minyak urut yang tidak berbau dan menyingkap dress istrinya kemudian membalurkan minyak itu dan mengurutnya pelan.


"Enak banget mas. Rasa sakitnya berkurang," ucap Ashel.


"Iya, maaf ya mami. Karena kamu harus hamil anak kita, kamu jadi kesusahan kayak gini," ucap Kavin.


"Ish, itu udah jadi garis takdir aku sebagai istri mas. Gak papa, justru aku seneng banget karena bisa merasakan seperti apa rasanya jadi ibu hamil. Ternyata sangat luar biasa," ucap Ashel.


"Youre the best mommy, dear," ucap Kavin.


"Kamu juga papi yang hebat mas. Kamu selalu siap sedia dan siaga semenjak aku hamil. Seneng banget, mana makin peka," ucap Ashel.


"Itu harus cinta. Ini udah belum? Kalo udah mandi dulu nanti mas urut lagi," ucap Kavin.


"Udah kayaknya. Aku mandi dulu, nanti kamu bawa pisau cukur ya? Bantuin cukur itu," ucap Ashel menahan senyumnya. Sedangkan Kavin menghela nafasnya. Ujian lagi.


Kavin melepas pakaian atasnya sehingga shirtless sedangkan celana bahannya masih ia pakai. Ia mengambil pisau cukur dan berjalan ke kamar mandi menyusul istrinya. Tubuh Kavin menegang saat melihat tubuh istrinya yang hanya menggunakan br* saja.


Ashel memang sudah melepaskan dreas dan celan* dal*mnya karena memang ia akan mandi juga akan cukuran. Ashel sedang menyanggul rambutnya. Setelah selesai menyanggul, Ashel pun duduk diatas closet duduk.


Apalagi semenjak hamil, fisik Ashel berubah drastis. Kedua squishy-nya semakin besar bahkan bokong wanita ini juga ikutan membesar.


"Sambil duduk atau berdiri?" Tanya Ashel.


"Diri," ucap Kavin singkat. Ashel pun bangun sedangkan Kavin merendahkan tingginya dan berjongkok di depan perut istrinya. Beberapa kali ia meninggalkan kecupan di perut polos itu.


Kavin sedikit ngeri melihat perut istrinya yang tertarik akibat kedua anaknya ini. Bahkan jika dilihat polos seperti ini rasanya cukup menakutkan. Takut kalau tiba tiba perutnya copot. Tapi itu tidak mungkin kan?


Tangan Kavin terangkat untuk mengusap milik istrinya. Bulu bul*nya sangat lembut sekali.


"Yang, jangan di cukur ya? Kita pake perontok aja. Biar nanti numbuhnya lama," ucap Kavin.


"Kalo gitu mah aku bisa sambil rebahan. Ya udah deh kamu keluar dulu, aku mau mandi dulu. Nanti tolongin lagi," ucap Ashel.

__ADS_1


"Mandi bareng aja," ucap Kavin. Hei, miliknya tentu saja sudah bereaksi sejak tadi. Bahkan celana bahan yang digunakan Kavin terasa sangat sempit sekali. Adiknya sudah memberontak ingin segera bebas dari sarangnya.


"Mas, tuh lihat baru dimintain tolong aja adik kamu udah kayak gitu. Keluarin aja, kasihan. Emang gak sakit?" Tanya Ashel.


"Ya sakit yang. Lebih sakit lagi kalo gak keluar," ucap Kavin serak.


Ashel menghela nafasnya. Ia sudah kelelahan sebenarnya, namun melihat suaminya yang tersiksa seperti itu membuatnya iba juga. Suaminya seperti itu karena ulahnya juga.


"Ya udah, ke kamar lagi aja. Gak tega aku lihat kamu," ucap Ashel.


Hati Kavin bersorak gembira. Ia sangat bersyukur karena istrinya ini memiliki rasa kasihan yang tinggi untuknya.


Dengan semangat Kavin menarik tangan Ashel masuk kembali ke dalam kamar. Bahkan pisau cukur tadi sudah ia lempar entah kemana. Padahal itu baru dan belum dipakai sama sekali.


Kavin menidurkan istrinya diatas kasur mereka. Bahkan kini mereka berdua sudah polos tanpa terbalut sehelai benang pun.


"Mami peka banget. Sayang deh," ucap Kavin.


"Mobil aventador keluaran terbaru udah rilis. Aku mau itu," ucap Ashel.


"Kamu akan mendapatkannya sayang. Josh yang akan mengurus semuanya," ucap Kavin. Ia pun mulai melakukan aksinya. Sebagai pembuka ia mencium bibir istrinya terlebih dahulu.


Tubuh Kavin berada di samping tubuh Ashel. Mereka memang sering melakukannya dalam posisi miring. Bukan apa apa, perut Ashel sudah sangat besar, tidak memungkinkan jika Kavin bermain seperti biasanya.


Kavin menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Ciuman masih berlanjut. Kavin dan Ashel memang selalu melalukan ciuman yang cukup lama. Saat dirasa oksigen sudah habis, mereka berdua pun melepaskannya.


Kavin menatap mata Ashel dalam. Tangannya turun untuk mengelus kembali milik istrinya ini.


"Jangan dimainin. Langsung aja mas," gerutu Ashel. Wanita itu memang selalu komplain karena katanya, miliknya selalu sakit dengan permainan jari Kavin belum lagi nanti milik suaminya yang besar itu masuk. Bertambah lah rasa sakit itu.


Kavin terkekeh. Pria itu mencium kening istrinya.


"Baiklah mami, papi masuk ya?" Ucap Kavin meminta ijin. Ashel hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


__ADS_1


Tbc.


Ramein dong, kok sepi🥹👍


__ADS_2