My Little Wife

My Little Wife
Bab 155 : Melindungi


__ADS_3

Happy reading♡


Setelah ucapan Kavin beberapa hari lalu, akhirnya Ashel mengiyakan keinginan Kavin untuk tinggal disana sampai mendekati pernikahan.


Bukan apa apa, Kavin hanya berusaha menjaga Ashel. Semua kejadian yang selama ini meneror Ashel sudah lebih dari cukup. Kavin tidak ingin ada insiden apapun lagi.


Kavin bahkan rela mengeluarkan banyak uang agar bisa mendapatkan informasi orang yang berani mengusik kehidupan gadisnya. Ia tidak peduli dengan uang, ia hanya peduli dengan keselamatan Ashel.


Sudah satu minggu berlalu, semuanya berjalan sesuai keinginan Kavin. Ashel juga sepertinya bahagia tinggal disini. Setiap hari anak itu selalu pergi ke banyak wahana disini. Kavin memang tidak selalu bersamanya karena dia harus bekerja disini. Namun Kavin tetap menjaganya dari jauh.


Kavin baru pulang dari kerjanya. Ia langsung pergi ke hotel tempat ia dan Ashel tinggal selama di Jepang. Kavin sengaja tidak ke apartementnya karena Ashel sangat menyukai tempat ini.


Kavin masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Ashel yang sudah tertidur pulas. Ia mendapat laporan jika hari ini gadisnya itu sangat aktif bermain sejak pagi.


"Kasihan kamu kecapean ya? Maaf aku gak selalu ada sama kamu," ucap Kavin. Ia mengusap lembut kepala Ashel kemudian mencium kening Ashel.


Setelah puas memandangi wajah damai Ashel yang sedang pulas tertidur, Kavin pun bergegas untuk membersihkan dirinya. Ia ingin segera ikut bergabung dengan gadisnya.


Namun saat Kavin akan ke kamar mandi, tiba tiba ponselnya berdering. Itu panggilan dari Ardian.


"Hallo?"


"..."


"Apa? Lo yakin dia orangnya?" Tanya Kavin saat mendengar ucapan Ardian melalui telepon genggam.


"..."


"Kita gak bisa simpulin semuanya begitu saja. Kalo sampai Riana tahu, dia pasti akan menyangkalnya," ucap Kavin.


"Tahu apa?"


Kavin menolehkan kepalanya. Ashel terbangun dan sudah terduduk diatas tempat tidur. Matanya terbuka sedikit, ia juga sedang menguap.


Kavin mematikan teleponnya sepihak dan langsung menghampiri Ashel. Kavin duduk di sebelah Ashel.


"Kenapa bangun? Keganggu ya?" Tanya Kavin.

__ADS_1


"Kamu bicara sama siapa? Kok bawa bawa nama aku?" Tanya Ashel.


"Itu, desainer yang buat baju buat kamu bilang bajunya udah beres. Jadi bisa kamu coba dulu setelah kita pulang nanti," alibi Kavin.


"Emang kita bakalan pulang kapan?" Tanya Ashel.


"Sepertinya besok. Pernikahan kita tinggal menghitung hari. Mama juga sudah meminta kita pulang," ucap Kavin.


"Beneran kita mau nikah?" Tanya Ashel.


Kavin tertawa pelan mendengar ucapan gadisnya. Ia lantas menarik Ashel ke dalam pelukannya.


"Kamu masih bertanya hal yang sudah pasti? Bahkan setelah kita sepakat," ucap Kavin.


"Aku cuma gak nyangka aja bisa nikah sama kamu. Orang paling kaya. Gak kebayang hidup aku enaknya kayak gimana nanti," ucap Ashel.


"Makanya itu kalo aku kasih kamu uang itu diterima. Uang lima milyar kemarin aja malah gak kamu terima. Pake ancem ancem gak jelas," ucap Kavin.


"Itu masalahnya beda. Status kita sekarang masih tunangan belum menikah. Kalo kita udah nikah, aku pasti bakalan terima uang itu," ucap Ashel.


"Baiklah. Sekarang kamu tidur lagi. Besok kita harus kembali ke Indonesia," ucap Kavin.


"Mereka memang sudah mengurus semuanya sayang. Tapi mereka juga perlu persetujuan kamu sama aku. Jadi kita harus pulang besok. Undangan juga buat temen temen kamu belum kamu list siapa aja yang mau diundang," ucap Kavin.


"Iya juga. Yaudah kita pulang besok," ucap Ashel.


"Iya. Sekarang lepasin pelukannya aku mau mandi dulu. Baru setelah aku selesai mandi kamu boleh peluk aku lagi," ucap Kavin.


"Tapi masih kangen," gumam Ashel. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada Kavin.


Kavin termenung mendengar ucapan gadisnya. Beberapa hari ini ia memang tidak pernah menemani gadisnya karena kesibukannya dengan pekerjaan.


Bahkan saat Ashel bangun tidur, ia sering mendapati bagian tempat tidur Kavin kosong. Karena Kavin selalu berangkat pagi pagi sekali dan pulang larut malam.


Entah apa yang dikerjakan Kavin sampai ia tidak memiliki waktu. Hanya sekedar mengucapkan selamat pagi saja.


"Maaf sayang. Aku sengaja bekerja keras agar nanti setelah mendekati pernikahan dan setelah pernikahan aku bisa memiliki waktu luang yang banyak bersama kamu," ucap Kavin.

__ADS_1


Ashel mengadahkan kepalanya. Ia melihat ke arah wajah Kavin.


"Tapi jangan gila kerja juga. Kamu harus pikirin kesehatan kamu juga sayang," ucap Ashel. Tangannya naik mengusap lembut pipi Kavin.


"Iya sayang. Aku pasti akan selalu menjaga kesehatan aku," ucap Kavin.


"Yaudah sana mandi dulu. Aku siapin makan buat kamu," ucap Ashel. Ia pun bangun dari tempat tidur.


"Jangan. Biar nanti dianter aja kesini. Kamu diem disini aja tungguin aku. Ini ponsel aku, siapa tahu kamu mau mainin. Aku mandi dulu," ucap Kavin. Sebelum ia pergi ia mencuri ciuman di bibir Ashel.


Ashel menggelengkan kepalanya. Kavin memang tidak akan pernah berubah dari sifat mesumnya saat bersamanya.


"Lock screennya foto aku waktu kecil? Dapet dari mana dia foto ini?" Tanya Ashel saat ia melihat foto masa kecilnya yang terpampang jelas di ponsel Kavin.


Kavin tidak pernah mengunci ponselnya. Karena memang tidak ada yang perlu ia sembunyikan dari Ashel.


"Astaga, wallpapernya aja foto aku?"


***


"HAAAAHHHHHHH KALIAN GAK GUNA. MASA CARI ALAMAT DIA AJA GAK BISA? KALIAN GUE BAYAR MAHAL," teriak seorang wanita. Ia melempar semua barang yang ada di depannya untuk meluapkan emosinya.


"Maaf bos. Kami tidak berhasil menemukannya. Titik terakhirnya menunjukan jika dia masih di Boston," ucap bawahannya.


"KALIAN CARI DI BOSTON. KALO PERLU KELILINGI SEMUA BAGIAN AMERIKA BUAT CARI DIA. GUE BELUM PUAS BUAT DIA MENDERITA. DIA HARUS MENDERITA SEBELUM MATI." Wanita itu terus berteriak seperti seorang yang kesetanan. Di ruangannya banyak sekali foto foto Ashel yang sudah di tancapkan dengan pisau kecil.


"Lo gak boleh bahagia," ucapnya saat menatap foto Ashel yang tengah tertawa sembari tangannya memegang sebuah piala besar.


"Harusnya saat itu gue yang dapet piala ini. Harusnya gue yang bawa pulang piala ini. Tapi dengan lancangnya lo kalahin gue di lomba itu."


"Lo gak pernah bikin masalah sama gue, tapi karena kepintara lo itu bikin gue muak. Apalagi sama wajah lo yang so cantik ini. Sampai sampai Liam berani nyatain cintanya buat lo di depan semua murid."


"Dari dulu lo emang selalu rebut apapun yang gue punya. Lo gak pantes hidup. Lo rebut semuanya dari gue. Lo pantes mati. BRIANNA SASHEL ADINATA," teriaknya kemudian melemparkan sebuah pisau kecil pada foto Ashel.


Pisau itu langsung menancap dengan baik tepat di bagian dada Ashel.


Tbc.

__ADS_1


Komentar apapun pasti aku terima. Tapi setidaknya tolong hargain aku kalo mau kasih masukan. Tolong sampeinnya pake bahasa yang gak bikin aku down. Selama ini aku selalu berusaha sebaik mungkin buat cerita ini. Bikin karya itu gak mudah. Tapi aku tetep mencobanya karena aku yakin aku bisa meskipun dalam penulisan atau penyampaiannya masih acak acakan. Aku pasti berusaha sebaik mungkin buat kalian yang baca cerita ini nyaman.


Kalo emang gak suka sama ceritanya silahkan di skip. Makasih.


__ADS_2