
Happy reading♡
Perasaan Ashel sangat berdebar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat pintu aula mulai terbuka.
Semua pasang mata langsung tertuju padanya saat ia melewati pintu. Ashel sebenarnya ingin sekali menundukan kepalanya namun tidak bisa. Bagaimana pun ia harus menegakan kepalanya dan tersenyum pada para tamu undangan.
Ia menatap lurus ke arah depan dimana disana Kavin sedang menatapnya tanpa berkedip.
Banyak sekali bisik bisik dari para tamu undangan saat Ashel berjalan melewati mereka. Namun Ashel menghiraukannya.
Ashel sudah sampai di dekat Kavin. Ia ikut duduk di sebelahnya. Penghulu tadi menyodorkan kertas dan surat nikah yang harus Ashel tanda tangani. Setelah selesai, Ashel diperintahkan untuk mencium telapak tangan Kavin sedangkan Kavin mencium kening Ashel.
Setelah proses ijab selesai, mereka pun segera berjalan ke pelaminan dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Para tamu undangan mulai berdatangan untuk bersalaman dengan mereka satu persatu.
"Kamu sangat cantik. Aku sampai tidak rela banyak mata laki laki yang melihat mu dengan tatapan mendamba. Kenapa kamu harus secantik ini?" Tanya Kavin. Ashel hanya tersipu malu. Ia menyenggol Kavin dengan sikutnya.
Para tamu undangan tidak henti hentinya menyalami mereka berdua. Semuanya dari kalangan teman bisnis Kavin. Kini tiba teman teman Ashel.
Seperti biasa Ayu, Yuta and the gang yang paling heboh. Mereka berbicara random pada Kavin kemudian berfoto lalu pergi dari sana karena perut mereka sudah lapar.
"SELAMAT MENJADI KAKAK IPAR SAYA, ASHELALLO. SELAMAT UNTUK SEGERA JUB JUB JARIAH," ucap Rafello heboh menyalami kedua orang itu.
"Diem lo. Malu maluin," ucap Kavin.
"Jub jub jariah apa?" Tanya Ashel.
"Ya buat anak lah, apalagi," ucap Rafello sewot.
"Dih, gak ya," ucap Ashel. Ia langsung bergidik ngeri mendengarnya.
"Yah, yah, yah bang. Kayaknya lo gak bakalan bisa nyelup hari ini," ucap Rafello.
"Sana pergi. Gak guna lo disini," usir Kavin.
"Sewot amat lo bang," ketus Rafello. Ia pun langsung pergi dari hadapan mereka berdua.
Ashel sekarang jadi cemas karena ucapan Rafello. Bagaimana jika itu terjadi? Ia belum siap.
Demi apapun Ashel memang sudah siap untuk menikah. Tapi ia tidak siap untuk di unboxing oleh Kavin.
"Apin," bisik Ashel memanggil Kavin.
__ADS_1
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Kavin.
"Apa yang diucapin Rafello gak bener kan? Kita gak bakalan buat anak cepet cepet?" Tanya Ashel takut.
Kavin hampir menyemburkan tawanya saat mendengar ucapan Ashel yang terselip nada khawatir.
Mimik wajah Ashel sangat lucu sekali. Kavin sangat gemas sekali sampai sampai ingin membawanya ke kamar saja.
Tapi sepertinya mengerjai Ashel cukup mengasikan.
"Gimana ya? Aku kan nikahin kamu emang buat salurin nafsu aku. Aku juga udah niat gak bakal konsumsi lagi obat itu loh," ucap Kavin.
"Aaa Apin," rengek Ashel.
"Jangan merengek seperti itu sayang. Aku semakin gemas dan tidak bisa menahannya," ucap Kavin. Ashel langsung melepaskan tangannya yang sempat memegang tangan Kavin.
Saat mereka sedang asik mengobrol berdua, tiba tiba ada Nando. Dia datang sendirian padahal tadi Dimas dan Didi juga ada disini. Kenapa mereka bertiga terpisah?
"Selamat ya Shel," ucap Nando. Ia mengulurkan tangannya.
"Makasih ya Nan udah mau datang," ucap Ashel. Saat ia hendak mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nando, ternyata tangan Kavin lebih dulu menjabatnya.
Nando langsung melepaskan tangannya ketika yang menjabat tangannya bukan Ashel.
"Dia teman kamu?" Tanya Kavin saat Nando sudah tidak ada di dekat mereka berdua.
"Iya dia temen aku pas SMA di Bandung," ucap Ashel.
"Berarti udah lama dong kalian temenan?"
"Enggak juga. Malahan aku kenal dia pas mau pindah ke Jakarta karena dia yang gantiin posisi aku jadi ketua osis," jelas Ashel.
"Jangan dekat dekat dengannya. Aku tidak suka," peringat Kavin.
"Enggak. Buktinya aja sekarang aku di deket kamu bukan dia," jawab Ashel.
Kavin hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya. Memang benar sih dengan apa yang dia katakan, tapi ini beda konsep.
***
Setelah acara ijab selesai, kini Ashel dan Kavin tengah berada di salah satu kamar yang tadi ditempati oleh Ashel.
__ADS_1
Kavin duduk di sofa dengan tablet di tangannya sedangkan Ashel rebahan di kasur yang ada disana.
Ashel masih menggunakan gaun tadi. Ia belum sempat menggantinya karena malas sedangkan Kavin sudah nampak segar karena ia sudah mandi.
"Apin, ngantuk," adu Ashel.
"Kalo ngantuk tidur aja sayang. Acara resepsi masih tiga jam lagi," ucap Kavin.
"Iya tahu, tapi males ganti baju apalagi mandi," rengek Ashel. Kavin tersenyum mendengar nada rengekan Ashel. Terdengar sangat lucu. Sepertinya mulai sekarang ia akan menyukainya.
Kavin menyimpan tabnya dan berjalan mendekat ke arah ranjang. Ia duduk di sebelah Ashel.
"Yakin males ganti? Emang gak gerah?" Tanya Kavin.
"Ya gerahlah, cuma males gerak aja. Ternyata acara pernikahan secape ini," ucap Ashel.
Kavin mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Ashel, "Kamu harus mulai belajar lelah dari sekarang sayang. Karena mulai hari ini kamu akan sering kelelahan karena aku."
"Maksudnya? Kamu mau pekerjakan aku gitu?" Tanya Ashel.
"Iya, pekerjakan kamu layaknya seorang istri yang harus melayani suaminya," ucap Kavin.
Deg.
Ashel terkejut mendengar ucapan Kavin. Melayani? Artinya ia harus selalu melakukan apa yang diinginkan oleh Kavin.
"Itu harus kamu lakukan karena kamu sekarang istri aku. Kamu harus nurut sama apa yang aku ucapkan dan kamu harus ijin sama aku mau kemana pun. Sekarang kamu istri aku," jelas Kavin.
"Y-ya aku tahu. Aku mandi dulu," ucap Ashel. Ia sebenarnya masih malas mandi namun demi menghindari perkataan perkataan Kavin ia pun beralasan ingin mandi.
Kavin menahan tangan Ashel yang hendak pergi. Ia membuat Ashel kembali tidur terlentang.
Kavin langsung bergerak keatas tubuh Ashel. Apa lagi jika bukan mencium istrinya ini?
Sejak tadi bahkan sejak Ashel masuk, Kavin sangat ingin sekali melahap bibir merah ini. Kenapa juga para make up artist itu harus menggunakan warna merah pada bibir Ashel? Memang tidak terlalu merah tapi tetap saja, Kavin jadi salah fokus dibuatnya.
Ashel tidak lagi menahan dada Kavin. Ia mengalungkan tangannya ke leher Kavin. Ciuman kali ini berbeda seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Kavin kadang selalu tergesa gesa kini ia melakukan ciumannya cukup santai namun tetap dalam dan intens.
Ashel mengikuti alunan gerakan bibir Kavin. Namun sayangnya Ashel selalu menutup mulutnya padahal Kavin ingin melakukan yang lebih.
"A-aku harus mandi," ucap Ashel. Ia mendorong dada Kavin sekuat tenaga agar bisa lepas dari singa tampan itu.
__ADS_1
Tbc.
Sumpah udah ngantuk banget ngetik part ini😭✋️ mana baru 2 bab. Aku harus bangun lagi nanti jam4 subuh buat lanjutin🥲👌