My Little Wife

My Little Wife
Bab 191 : Pasutri Baru


__ADS_3

Happy reading♡


Ashel bangun lebih dulu dari pada Kavin. Ia mengedarkan pandangannya saat pertama kali membuka matanya. Ashel mengumpulkan nyawanya sebelum ia bangun.


Kepalanya menoleh ke kanan, disana ada suaminya yang masih terlelap. Perasaannya sulit digambarkan saat ini. Bahagia sekali rasanya.


Tangan Kavin melilit perutnya dan jangan lupakan kakinya yang juga di lilit oleh kaki suaminya.


"Mas," ucap Ashel. Namun tidak ada tanda tanda Kavin akan membuka matanya.


"Sesek mas, lepas dulu," ucap Ashel.


Kavin mengurai pelukannya namun tidak melepaskannya. Ia malah menenggelamkan kepalanya di leher Ashel.


"Mas bangun dulu, aku harus bantuin mama masak," ucap Ashel.


"Gak usah, disini banyak pelayan. Lagian mama sama oma jarang masak," ucap Kavin.


"Ya tapi kan tetep aja aku harus bangun pagi mas," ucap Ashel.


"Yaudah bangun sana tapi jangan bawa selimut ini. Udaranya dingin," ucap Kavin. Ashel tentu tahu maksud ucapan suaminya ini.


"Jangan ngawur deh, salah siapa semalam kemejanya dilempar jauh terus lagi lingerienya di robek. Kan sayang mas, baru aku pake sekali," ucap Ashel.


Semalam Kavin seperti orang kesetanan saat mengetahui Ashel memakai lingerie. Dan ternyata lingerie itu berwarna merah. Warna yang membuat Kavin panas dingin jika yang memakainya Ashel.


Ashel baru tahu ternyata Kavin selemah itu dengan warna merah jika yang menggunakannya itu dirinya. Pantas saja kemarin kemarin mama mertuanya selalu membelikannya gaun berwarna merah.


"Habisnya gemes banget yang. Kan tangan aku gatel pengen anu," ucap Kavin.


"Aku udah turutin maunya kamu semalam ya. Sekarang lepasin aku dan biarin aku bawa selimutnya," ucap Ashel. Bukan apa apa, pasalnya saat ini Ashel tidak mengenakan selehai benang pun ditubuhnya. Semua karena ulah suaminya.


"Terus kalo kamu bawa selimutnya, aku gimana? Kan aku juga gak pake apa apa," ucap Kavin.


"Jangan pikir aku gak tahu ya, semalam kamu udah pake boxer kamu lagi," ucap Ashel.


"Yah, ketahuan. Yaudah sana bawa," ucap Kavin.


Akhirnya pria yang menjadi suaminya ini mengalah. Ashel pun bangun karena Kavin sudah melepaskannya. Ia menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya.


Saat ia akan berjalan menuju ke kamar mandi, tiba tiba Kavin menarik selimutnya. Tarikan Kavin cukup kuat sampai Ashel terhuyung ke belakang dan kembali duduk.

__ADS_1


"MAASSS," teriak Ashel kesal. Beruntung saja dirinya jatuh keatas kasur lagi. Dan beruntung juga selimut yang ia gunakan tidak terlepas dari tubuhnya.


"Morning kissnya belum," ucap Kavin. Ia pun langsung mendaratkan bibirnya diatas bibir istrinya.


Awalnya hanya kecupan namun berakhir dengan ******n.


Ashel menepuk nepuk dada Kavin agar pria itu mau melepaskannya.


"Udah cukup mas! Emang semalem gak puas apa?!" Ucap Ashel kesal.


"Aku mana pernah cukup yang kalo urusan beginian. Apalagi sama kamu," ucap Kavin.


"Udah ya aku mau mandi, inget loh hari ini grand opening Sash Cafe. Kita gak boleh telat," ucap Ashel.


"Iya sayang inget. Mana mungkin aku lupain gitu aja. Yaudah sana mandi, nanti aku keburu nafsu lagi liat kamu," ucap Kavin.


Ashel mendelik mendengar ucapan suaminya ini. Ternyata orang yang memiliki riwayat hyper s*x sangat menakutkan jika kita tidak menuruti maunya apa.


Terbukti semalam Ashel benar benae kewalahan karena suaminya ini. Meskipun dia sudah meminum obat yang sering ia konsumsi, namun tetap saja nafsunya selalu tinggi.


Ashel melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan menyimpannya di kursi yang ada di walk in closet. Ia kemudian berlari kecil menuju ke kamar mandi menggunakan handuk.


Kalian tahulah kegiatan seperti apa.


Menghabiskan waktu satu jam lebih, kini Ashel sudah bersiap menggunakan dress berwarna hitam. Ia juga menggerai rambutnya.



Setelah siap ia pun keluar dari dalam walk in closet menuju kamarnya dan Kavin. Di atas kasur, ia melihat jika suaminya tengah sibuk dengan tablet di tangannya. Tadinya Ashel kira suaminya ini kembali tidur.


"Mas, mandi dulu nanti dilanjut lagi. Airnya udah aku siapin sekalian sama bajunya udah ada di walk in closet," ucap Ashel. Ia pun melipat selimut yang tadi ia bawa dari walk in closet.


Perhatian Kavin teralih saat mendengar suara lembur istrinya. Mengalun nyaman di telinganya.


Ia terhipnotis dengan penampilan istrinya saat ini. Dress hitam ini sangat cocok dengannya. Warnanya sangat kontras sekali dengan warna kulitnya.


"Cantik banget sih yang," ucap Kavin. Sempat sempatnya Kavin mencuri ciuman di bibir istrinya yang sudah dipoles dengan lipstik.


"Mandi dulu mas. Kasian yang lain pasti udah nunggu mau makan," ucap Ashel memperingati.


"Iya iya aku mandi, tapi pengen pegang itu kamu dulu," ucap Kavin. Matanya menatap ke arah dada Ashel.

__ADS_1


Ashel mengikuti arah mata Kavin. Ia kemudian menutup area dadanya menggunakan kedua tangannya.


"Mandi mas, mandi."


"Gak usah ditutup. Udah aku lihat juga bentuk aslinya. Gede banget yang, aku puas," ucap Kavin. Setelah mengatakan itu, ia langsung ngacir ke kamar mandi.


Ashel hanya mampu mengelus dadanya. Ia harus extra bersabar menghadapi sikap suaminya yang super duper mesum.


"Ganteng sih, tapi mesumnya udah over banget. Untung suami," gumam Ashel. Ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Ardian.


"Bang, lagi dimana?" Tanya Ashel melalui saluran telepon.


"Lagi di cafe kamu sekalian sarapan. Kamu kapan kesini dek?" Tanya Ardian.


"Jam delapan aku udah disana. Grand openingnya nanti jam sepuluh juga kan," ucap Ashel.


"Iya jam sepuluh. Tapi kan kita harus bicarain soal kepala cafe nanti siapa. Kamu kan bakalan stay di luar," ucap Ardian.


Astaga, Ashel hampir lupa. Apa yang dikatakan Ardian ada benarnya juga. Ia memilih kuliah di Boston. Dan untuk beberapa tahun ke depan dia akan menetap disana.


"Aku hampir lupa bang. Menurut abang, abang mau siapa yang jadi kepala cafenya? Gimana pun harus yang berpengalaman," ucap Ashel.


"Abang setujunya sama Sergio. Menurut kamu gimana?" Tanya Ardian.


"Ya emang aku juga maunya dia sih bang. Abang coba dulu tanya sama Sergionya. Siapa tahu dia kurang berkenan," ucap Ashel.


"Yaudah abang telpon dia dulu. Lo hati hati kesininya," ucap Ardian.


"Iya abang."


Panggilan pun terputus. Gerakan Ashel kembali terhenti saat ia akan mengecek email di ponselnya karena pelukan dari belakang.


Tidak perlu bertanya lagi dia siapa.


Dari wanginya saja Ashel sudah bisa menebaknya itu siapa.


Tbc.


Kalo typ mapp yy.


Please Ashel cakep bngt sksskskks.

__ADS_1


__ADS_2