
Nesya masuk ke kelas. Wajahnya pucat. Dia kurus. Matanya juga sembab. Terdapat kantung mata. Jihan menghampirinya karena khawatir.
"Nesya? Kamu sakit?" Tanya Jihan khawatir.
Nesya melirik Jihan sinis. "Nggak usah dekat-dekat. Nggak usah sok khawatir!"
"NESYA!"
Vanes berlari menghampiri Nesya dan Jihan. "Nesya. Kamu kenapa? Kok pucet? Sakit?"
Nesya hanya diam. Detik selanjutnya dia berlari sambil menutup mulutnya. Jihan dan Vanes mengejarnya di belakang. Nesya menuju toilet. Jihan dan Vanes saling pandang karena dari luar dia mendengar Nesya sedang muntah-muntah.
Setelah itu, Nesya keluar dari toilet dengan wajah yang lebih pucat dan seperti lemas. Jihan memegangi Nesya biar tidak jatuh. Sementara Vanes, Dia menelfon Kenzo untuk membawa Nesya ke rumah sakit. Karena jika dibawa ke UKS bukan pilihan yang baik.
"Nesya? Kamu kenapa?" Tanya Vanes ketika sudah selesai menelfon Kenzo.
"Aku tidak apa." Jawabnya lemas.
Kenzo berlari ke toilet. Dia menemukan istrinya dengan kedua sahabatnya di depan toilet. Kenzo juga melihat Nesya yang berwajah pucat.
"Vanessa? Nesya kenapa?" Tanya Kenzo yang juga khawatir.
Vanes hanya bisa menggeleng. "Aku juga nggak tahu."
"Ayo Nesya ke rumah sakit. Vanes, kamu sama Jihan balik ke kelas ya?"
Vanes dan Jihan mengangguk. Sebelum kembali ke kelas, Vanes dan Jihan menolong Kenzo membawa Nesya ke parkiran.
"Jangan cemburu! Aku hanya menolong temanmu. Jangan suruh aku tidur di luar ya?" Bisik Kenzo sebelum masuk ke jok kemudi.
Jihan yang juga mendengar terkikik. Vanes menahan malu. "Apaan sih? Cepat sana bawa Nesya! Kasihan!"
"Iya-iya."
***
Kenzo terkejut ketika tahu jika Nesya hamil. Berarti gosip yang selama ini itu benar. Dan siapa yang tega berani menghamili Nesya yang masih SMP ini?
Kenzo menghampiri Nesya yang sedang diam. Namun matanya mengeluarkan air mata.
"Nesya? Siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung?" Tanya Kenzo.
"Juna, Pak." Jawab Nesya singkat.
Tentu saja Kenzo terkejut. Kira-kira apa yang ada di otak Juna sampai Juna berani menghamili Nesya. Kasihan gadis ini. Bagaimana jika kedua orang tuanya tahu kalau anaknya dihamili oleh guru?.
Kenzo keluar dari ruangan Nesya di rawat. Dia menelfon Juna untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Cepat datang ke Rumah Sakit Harapan terang."
Setelah itu, Kenzo mematikan sambungan telefon secara sepihak. Kenzo kembali ke ruangan tempat Nesya berada. Nesya masih dalam keadaan yang sama.
45 menit kemudian, Juna sampai di Rumah sakit. Dia langsung mencari keberadaan Kenzo. Sebenarnya, dia enggan untuk datang ke rumah sakit.
"Juna!" Panggil Kenzo.
Juna menuju sumber suara. "Ada apa kamu suruh aku kesini?"
Kenzo tak menggubris ucapan Juna. Dia membawa Juna masuk ke dalam ruangan Nesya. Juna terkejut saat melihat Nesya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Apa ini, Ken? Nes?" Tanya Juna.
Kenzo hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenzo muak dengan wajah Juna yang memasang muka pura-pura bodohnya itu. Nesya menahan air matanya ketika melihat Juna. Sekarang, Nesya merasa takut.
"Brengsek kamu, Jun! Kamu sudah menghamili muridmu sendiri!" Bentak Kenzo. "Jika kamu seorang hyper, lihat dulu perempuan yang kamu ajak main, Jun! Jika sudah begini, bagaimana nasibnya?"
Tanpa Kenzo duga, Juna hanya tersenyum dengan tampang muka bodonya. "Dengar, Kenzo! Dia sendiri yang menjual dirinya padaku. Sejak awal perjanjian, aku sudah memberi dia banyak uang dengan dia yang berjanji kebelakangnya jika ada masalah aku tidak ikut campur."
Kenzo semakin geram. Dia tak bisa membayangkan jika Vanes juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Nesya.
"Tapi kamu nggak bisa ngelak jika yang ada di kandung Nesya itu adalah anakmu! Urusi Nesya! Tanggung Jawab, Juna!" Bentak Kenzo kemudian pergi dari ruangan Nesya sebelum dia bertindak lebih.
Juna menatap tajam Nesya. Nesya terisak sambil memegangi perutnya. Dia merasa ketakutan. Juna kemudian mendekat ke arah Nesya.
"Gugurkan saja, jika kamu nggak mau namamu tercemar."
"Jika sudah berfikir lebih panjang..Datang saja ke ruanganku. Aku akan mengantarkanmu."
***
Jam istirahat sudah berlalu selama 10 menit. Jihan dan Vanes lebih memilih istirahat di kelas sambil memakan kue yang di bawa oleh Jihan.
"Van. Biasanya kalian berdua kalau udah di rumah ngapain?" Tanya Jihan yang iseng.
Vanes sedikit malu karena ditanya seperti itu. "Makan bersama. Habis makan, aku belajar, Kak Kenzo biasanya berkutat sama berkas dan laptop. Habis itu kita tidur. Biasanya ya, sebelum tidur aku sama Kak Kenzo bercanda dulu sih."
Jihan menyenggol lengan Vanes. "Kok lucu sih kalian berdua. Tidurnya bareng gak?"
"Iyalah." Jawab Vanes acuh.
"Astaga. Anak SMP nikah sama Guru." Canda Jihan.
"Udah ah. Ngapain sih bahas aku sama Kak Kenzo?" Tukas Vanes.
Jihan tertawa. Sekejap, tawanya hilang saat teringat Nesya. Dia teringat dengan ucapan Juna. Apa benar Juna yang membuat Nesya seperti itu? Berarti, ucapan Juna terbukti. Jika Nesya sudah menjadi korbannya, gimana dengannya nasibnya dan Vanes? Apa benar salah satu dari mereka berdua akan menjadi korban selanjutnya?.
__ADS_1
"Kira-kira Nesya gimana ya?" Cetus Jihan.
Vanes menoleh ke arah Jihan. "Aku sih mengiranya Nesya benar-benar hamil. Soalnya my husband tadi pagi juga bilang gitu. Apalagi tadi dia muntah-muntah."
"Hm. My husband. Gitu ya?" ledek Jihan.
"Serius, Jihan!"
"Iya. Kamu betul sih. Tapi, kenapa Nesya kok--Naudzubillah. Kamu jangan sampai kayak Nesya loh, Van. Walaupun kamu sudah menikah."
Vanes mencubit lengan Jihan. "Aku sama Kak Kenzo tahu kalii. Kak Kenzo bakal minta jatahnya pas aku siap kalau nggak ya pas pendidikanku selesai. Aku kan pernah bilang, kalau aku sama Kak Kenzo itu pasangan yang sehat."
"Iya-iya pengantin baru. Eh, Van. Hati-hati. Nggak usah deket-deket sama Juna. Danger!" Jihan mulai serius.
"Yeah! I know. You right! Dia benar-benar bahaya." Jawab Vanes. "Menyesal aku telah mengenalnya dulu. Hal yang paling aku sesali adalah datang ke cafe itu."
"Jangan bilang gitu. Kalau nggak gitu, kamu nggak bakal jadi istri Pak Kenzo hahaha."
Untuk kesekian kalinya, Pipi Vanes bersemu seperti tomat. "Udahlah, Han. Ngapain sih kamu!"
Tiba-tiba, Regina datang ke kelasnya. Vanes merasa heran dengan kedatangan Regina. Ada apa Regina datang kemari? Apa ada masalah?.
"Vanessa, Kamu sudah tahu berita tentang Nesya kan?" Tanya Regina To The Point.
Vanes dan Jihan berdiri. "Ya. Aku tahu. Tapi aku masih belum yakin dengan hal itu." Jawab Vanes.
Regina menghela nafas. "Kita harus memberi keterangan yang sebenarnya untuk besok, Vanes. OSIS dituntut sama kepala sekolah untuk mengklaim gosip ini."
"Kayak apa aja sih, Gin. Pakek mengklaim. Terus ada di suruh kasih keterangan." Celetuk Jihan sambil tertawa.
Regina selaku ketua OSIS ikut tertawa. "Kamu kayak nggak tahu aja sekolah kita. Disamakan kayak pemerintahan negara aja."
"Udah-udah. Kalian berdua ini ngapain sih? Oh iya, Gin. Kalau semisal kabar itu benar-benar terjadi bagaimana?" Tanya Vanes.
"Kamu kan bakal pidato besok. OSIS sudah rapat tentang masalah ini. Yang pertama, jika kabar itu benar, kita harus mengatak sebenarnya, dan kamu sebagai Putri Sekolah, harus menasehati agar murid-murid tidak menjulid Nesya. Kedua, kalau semisal kabar itu nggak benar, kamu juga harus menasehati mereka agar tidak langsung menerima kabar yang belum ada buktinya jangan di sebar."
"Jadi kamu ketemu aku cuma buat bilang itu aja?"
Regina mengangguk.
"Terus aku dapat kebenarannya darimana?" Tanya Vanes.
"Ya kamu yang cari tahu. OSIS juga lagi cari tahu. Ya udah ya, aku mau ke ruang OSIS." Kemudian Regina pergi dari kelas Vanes.
"Pidatonya sih nggak masalah, tapi tahu gosipnya ini beneran atau tidaknya ini dariman? Tadi kita kan cuma menerka saja." Kata Vanes bingung.
"Kan ada Pak Kenzo, Van. Ngapain kamu bingung kalau yang bawa Nesya ke rumah sakit itu Kenzo." Jawab Jihan sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Oh iya ya? Kenapa aku nggak kepikiran ya?" Vanes ikut menepuk jidatnya.
Ya Tuhan, Semoga kabar itu hanya gosip belaka.