My Little Wife

My Little Wife
Bab 310 : Ardian dan Lupita


__ADS_3

Happy reading♡


Ashel berjalan masuk ke dalam resortnya lagi. Ia sudah cukup lama juga meninggalkan suaminya di kamar. Takutnya nanti Kavin akan ngambek. Sangat susah membujuknya jika suaminya sudah ngambek. Kalo pun langsung dimaafkan, mungkin itu urusan ranjang.


Ashel membuka pelan pintu kamar. Ia melirik ke arah kasur, disana suaminya masih anteng tertidur pulas. Ashel tetap masuk dan duduk di balkon yang tadi ia tempati.


Ia kembali memakan jagung dan ubi yang dibelikan oleh Fello dan Ayu. Rasanya sangat nikmat sekali. Cuaca tadi cukup panas tapi saat ini malah mendung. Sepertinya akan hujan. Karena gerimis sudah mulai turun.


"Hujan di Ciwidey," gumam Ashel.


Ia menarik nafas cukup panjang saat air hujan mulai turun. Perpaduan tanah kering dan air hujan itu aromanya cukup khas dan sedikit menyengat.


"Udah lama gak hirup aroma tanah kena air ujan gini," ucap Ashel.


Saat sedang asik menikmati hujan yang mulai turun, tiba tiba terdengar suara teriakan dari suaminya. Ashel menghela nafasnya. Ia pun bangun dan masuk kembali ke dalam kamar.


Terlihat Kavin baru bangun dan sudah duduk. Ia merentangkan kedua tangannya mengkode agar Ashel mendekat.


Ashel yang tingkat kepekaannya sangat tinggi pun mendekat. Kavin memeluk tubuh istrinya dengan posisi wajahnya berada di depan dada istrinya. Ashel tentu saja menerima pelukan itu.


"Kenapa mas? Bangun langsung teriak teriak. Aku gak kemana mana kok," ucap Ashel. Ia mengelus rambut suaminya.


"Gak papa. Cuma kenapa setiap kita habis main, kamu selalu udah gak ada di samping aku? Kan aku gak suka mi," ucap Kavin. Ia mengadah, menatap ke arah istrinya.


"Kan aku udah bangun duluan sayang. Kalo nungguin kamu yang ada aku gabut. Jadi ya udah aku bangun terus bersih bersih," ucap Ashel.


"Nanti jangan gitu lagi. Mending bangunin aku aja kalo kamu bangun," ucap Kavin.


"Aku gak tega mas. Tidur kamu nyenyak banget, kesannya gak sopan juga kalo aku bangunin kamu. Mending aku biarin kamu aja tidur dulu," ucap Ashel.


Memang sejak beberapa bulan terakhir, setiap mereka selesai melakukan hubungan suami istri, Kavin akan tertidur lebih lama. Entah mengapa sebabnya. Seperti Kavin sangat kelehan padahal Ashel lah yang kelelahan disini. Dia harus menuruti kemauan suaminya. Apalagi banyak gaya yang mereka coba ketika melakukan hubungan itu.

__ADS_1


"Gak papa sayang, bangun aja. Jangan kayak gitu lagi ya?" Pinta Kavin.


"Iya enggak," ucap Ashel.


Kavin menarik tangan istrinya agar kembali naik ke atas tempat tidur. Kavin bahkan menarik sweater yang digunakan Ashel. Untungnya istrinya ini tidak menolaknya.


Dingin dingin seperti ini enaknya yang hangat hangat bukan?


"Yang, boleh nen*n sama kamu gak?" Tanya Kavin.


Tumben sekali suaminya meminta ijin. Tidak seperti biasanya.


"Boleh. Tapi jangan keras keras his*pnya. Sakit soalnya," ucap Ashel.


Kavin mengangguk dengan semangat dan melepas br* milik istrinya. Dua gunung terpampang jelas di depan matanya. Mata Kavin berbinar menatap dua gumpalan kenyal itu. Ia membuka mulutnya dan langsung melahapnya. Ashel sendiri memilih menscroll sosial medianya dari pada ia kebosanan karena suaminya sedang menyus* padanya.


***


Ardian menghembuskan asap rokok yang ada di dalam mulutnya. Ia baru saja selesai bergulat diatas kasur dengan wanita incarannya. Yap, Dokter Lupita. Dokter yang menangani kandungan adiknya.


Setelah Lupita selesai dari rumah sakit, Ardian selalu menjemputnya untuk ia bawa ke apartementnya. Ardian kira Lupita ini wanita pendiam, ternyata tidak. Lupita wanita yang agresif. Ardian bangga karena dia orang pertama untuk Lupita. Hubungan mereka juga mungkin akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


Lupita dan Ardian sering melakukan having s*x. Bahkan saat Lupita di rumah sakit pun, Ardian selalu memaksanya melakukan itu. Pria itu rela jalan jauh jauh dari kantornya hanya untuk menyalurkan hasratnya.


Lupita adalah dokter kandungan dan anak, jadi ia tahu bagaimana mencegah agar dirinya tidak hamil sebelum mereka menikah.


Lupita tidak pernah menyangka ia akan dengan mudahnya memberikan kesuciannya pada Ardian. Bahkan sekarang, dirinya yang selalu memintanya pada Ardian.


Sentuhan Ardian mampu membuatnya melayang. Bahkan setiap melakukan hubungan, Lupita selalu merasa special karena Ardian selalu membuatnya puas.


Meskipun belum menikah, namun mereka berdua hampir sering melakukan hubungan itu. Bahkan ketika Ardian harus ke luar negeri pun, Ardian selalu meminta panggilan video pada Lupita. Tentunya tanpa berbusana.

__ADS_1


Ardian menyimpan rokoknya dan bergerak memeluk Lupita yang masih terdiam karena kelelahan. Entah mengapa Ardian selalu ingin terus menerus melakukan itu dengan wanita itu.


"Cukup Ar, aku lelah," tolak Lupita. Ia bergerak memunggungi tubuh Ardian.


Ardian tidak mendengarkannya. Tangannya bergerak ke bagian sensitif milik Lupita. Ia memainkan jarinya dibawah sana.


"Kamu tidak bisa menolak kemauan aku. Rasakan, milik mu sudah kembali bas*h," bisik Ardian. Ia pun menarik tubuh Lupita agar kembali terlentang. Lupita hanya pasrah saja. Karena memang ia menginginkannya.


Sialan. Ardian selalu membuatnya terlihat murahan.


"Milik mu terlalu besar. Itu sakit," keluh Lupita. Ia memang sering menjerit kesakitan akibat ulah Ardian.


"Bukannya kamu menyukainya? Bahkan kamu sering memintanya untuk masuk ke sini," ucap Ardian. Ia mengusap pelan milik Lupita sampai membuat pemiliknya mendes*h.


"Berhenti Ar. Aku bisa hamil jika kau terus melakukannya dan mengeluarkannya di dalam rahim ku," ucap Lupita.


"Dasar naif. Mulut mu menolak tapi tubuh mu meminta hal lebih," ucap Ardian. Ia menatap wajah Lupita yang memejam. Wanita ini sepertinya sangat menikmati sentuhannya. Ia sampai tidak sadar jika Ardian sudah mengangk*ngkan kedua kaki Lupita.


"Aku memang naif bahkan munafik. Kenapa milik mu selalu terasa bahkan ketika aku memejamkan mata. Padahal sudah jelas jelas aku sedang tidak dimasuki oleh mu," ucap Lupita diakhiri dengan desah*n.


"Memang seharusnya seperti itu. Aku akan membuat mu kecanduan milik ku. Sampai setiap jamnya kamu meminta untuk aku gagahi," ucap Ardian. Ia mengges*k gesek*n ujung miliknya pada milik Lupita.


"Dorong please," pinta Lupita. Ia sudah tidak sabar sekali. Miliknya semakin berdenyut.


Ardian terus berbicara. Ia memang sengaja melakukan itu agar Lupita mengalihkan perhatiannya pada kegiatan dibawah sana. Karena Ardian ingin mendengar jeritan Lupita.


Lupita yang tidak sabar pun mengarahkan tangannya untuk memasukan milik Ardian namun Ardian menyingkirkannya.


Setelah dirasa Lupita sudah mulai lengah. Dalam satu kali sentakan Ardian memasukan miliknya tanpa aba aba pada milik Lupita. Lupita menjerit keras karena kesakitan sedangkan Ardian menggeram.


__ADS_1


Ardian solimeh🫢


Tbc.


__ADS_2