My Little Wife

My Little Wife
Ep. 146 > Next


__ADS_3

Suara Azalea membuat Zico terbangun dari tidurnya. Walaupun masih merasa berat untuk membuka mata.


Zico mencoba membenarkan posisi duduknya, sambil mengucek pelan matanya yang masih terasa sangat mengantuk.


"Lea, kau disini?" Imbuh Zico dengan suara serak. Lalu, ia menoleh agak ke belakang. Karena ada bayangan seseorang. "El, kau juga disini?" Lanjut Zico.


"Em.. Aku berniat membangunkan mu." Sedikit gelagapan. "Aku permisi." Ella langsung keluar dari ruang kerja Zico setelah tertangkap basah oleh Azalea.


Sedangkan Azalea, masih menatap tajam ke arah Ella bahkan tatapannya mengikuti langkah Ella, hingga ia keluar dari ruangan itu.


Berbeda halnya dengan Zico. Ia masih menyeimbangi rasa sadarnya. Seakan nyawanya belum kembali sepenuhnya kedalaman tubuhnya.


Azalea menghela nafas kasar. " Kau bahkan masih bisa tidur dalam keadaan seperti ini." Imbuhnya sambil berjalan ke arah Zico. Menarik lengan Zico, membawanya ikut berbaring lagi. Lalu hal yang selanjutnya dilakukan Azalea adalah, terlelap dalam dekapan Zico.


"Kau kesini hanya untuk tidur?" Tanya Zico, yang kini hanya bisa pasrah karena lengannya dijadikan bantal untuk tidur oleh Azalea.


Azalea yang awalnya membelakangi Zico. Berbalik dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Zico. Lalu meraih tangan Zico yang sebelahnya dan menuntunnya untuk memeluk tubuhnya.


"Ssttt... Biarkan aku tidur sebentar. Hari ini perjuanganku patut mendapatkan mendali." Racau Azalea dengan mata tertutup, ia memang sudah sangat mengantuk. Dan detik kemudian, dia benar-benar sudah terlelap.


Zico hanya bisa mengernyitkan keningnya, tanpa bisa bertanya. 'Perjuangan apa yang sudah Azalea lakukan.' Karena ia sudah terlelap sambil mendengkur.


Sebuah kecupan mendarat di kening Azalea. Tak ada pilihan, Zico hanya bisa ikut memejamkan matanya kembali.


Yap, begitulah Zico. Setelah marah-marah, ia akan kembali membaik dengan sendirinya. Dan Azalea sudah sangat hafal itu. Maka dari itu, ia tak ambil pusing jika Zico sudah marah-marah. Apalagi dengan hal sepele.


Tanpa rayuan gombal atau rengekan manja dari Azalea, Zico pasti akan kembali membaik dengan sendirinya. Ia hanya butuh waktu untuk menyendiri, mentralkan emosinya.


*


Ella kembali masuk kedalam ruangannya dengan tergesa. Sedangkan dadanya sudah kembang kempis sedari tadi.


"Apa yang kau lakukan El. Dasar bodoh, bodoh, bodoh." Imbuhnya seorang diri, sambil memukul pelan kepalanya sendiri.


Ella duduk di balik meja kerjanya. Memainkan bolpen dengan gelisah. "Seperti apa aku harus jelaskan pada, Lea!"


Ia begitu sibuk dengan pemikirannya sendiri. Menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada Azalea, apa yang sebenarnya terjadi.


"Arrgghhh..." Ella mengacak rambutnya geram. Geram dengan apa yang sudah ia lakukan, geram karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

__ADS_1


*


Maya, dengan ransel dan tas selempangnya. Hanya bisa terduduk lemas di dalam taxi yang akan membawanya kelokasi yang berbeda. Lokasi, dimana ia akan menetap. Itu pun jika ia bisa mendapatkan tempat tinggal disana. Jika tidak, ia kembali harus beranjak dari suatu tempat, ketempat lainnya. Sampai ia mendapatkan tempat untuk berteduh. Sedangkan uangnya sudah mulai menipis.


Ia terlalu di butakan dengan dendam dan ingin membalas orang-orang yang menurutnya sudah merebut Queen darinya. Hingga lupa untuk mencari cara agar bisa bekerja dan menghasilkan uang.


Yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana caranya ia bisa merebut Queen dari Biandra dan juga Azalea.


"Queen, Mama sangat merindukan mu. Salahkah Mama jika hanya ingin bertemu dengan mu. Walaupun sebentar saja." Lirih Maya, dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.


*


Azalea membuka mata perlahan. Setelah tertidur hampir 2 jam.


"Tanganku sudah mati rasa." Keluh Zico, tepat saat mata keduanya saling beradu.


Bukannya merasa bersalah, Azalea justru terkekeh tanpa rasa bersalah. Memperlihatkan jejeran giginya yang tersusun rapi.


Azalea bangkit dari tidurnya, sambil meregangkan tubuhnya. Sedangkan Zico, hanya bisa memijat lengannya yang terasa pegal dan mati rasa.


"Aku lapar, ayo masakkan sesuatu." Sambil merangkul lengan Zico yang sedang kebas.


"Aa aa aa .." Imbuh Zico yang merasa geli sekaligus sakit karena Azalea beranjak sambil menarik lengannya.


Berakhir di dapur resort, Azalea sibuk memilih bahan-bahan yang ingin ia berikan pada Zico. Agar di sulap menjadi makanan lezat ala Zico.


"Ini.." Imbuh Azalea sambil menyodorkan se-baskom penuh bahan-bahan makanan.


"Kau mau di buatkan apa dengan semua ini?" Tanya Zico bingung.


"Terserah, apa saja yang penting enak." Setelah menyerahkan baskom stainless itu pada Zico. Azalea berlalu pergi, meninggalkan dapur resort.


Sebenarnya, itu hanya alasan. Membuat Zico sibuk didapur, agar ia bisa leluasa menemui Ella.


*


Melihat Azalea yang masuk kedalam ruangannya, membuat Ella langsung pucat pasi.


"Lea.." Ella langsung terperanjat dari duduknya.

__ADS_1


"Santai saja, tidak perlu tegang seperti itu." Azalea terkekeh pelan. Lalu duduk tepat dihadapan Ella.


Ella pun akhirnya kembali duduk, dibalik meja kerjanya.


"Kau salah paham." Imbuh Ella langsung.


"Aku harap juga seperti itu, aku harap hanya salah lihat. Tapi semakin aku ingat-ingat, semakin rasanya cukup aneh jika itu terjadi tanpa sengaja." Sanggah Azalea.


Ella hanya dapat menelan kasar salivanya. Dia sudah tertangkap basah, bagaimana mungkin masih bisa mengelak.


"Iya, aku memang sudah sejak lama menyukainya, kau puas!" Papar Ella kemudian.


"Sudah ku duga!" Pungkas Azalea. "Maka dari itu, kau berniat menciumnya tadi?" Tanya Azalea memastikan, bahwa ia tidak salah lihat.


"Aku hanya khilaf!" Ella mengalihkan pandangannya, rasanya malu sekali untuk membalas tatapan Azalea.


"Aku tidak menyalahkan mu. Aku mengerti, siapa yang tidak salah paham dengan sikap dan cara perlakuan Zico. Siapa pun pasti akan salah sangka dan salah mengartikan kebaikannya." Ujar Azalea tenang.


Ella kembali memiliki keberanian untuk menatap Azalea. "Mungkin kau tidak tahu, dulu orang tua kami sempat menjodohkan kami." Ella sedikit menyombongkan diri.


"Lalu, kenapa tidak jadi menikah." Tanya Azalea, sambil bersandar dan menyilangkan kedua tangan di bawah dadanya.


"Jika kau penasaran, tanyakan saja pada Zico!" Papar Ella lagi.


"Emm, baiklah. Akan aku tanyakan nanti." Sambil mengangguk kepalanya pelan.


"Aku beritahukan satu hal lagi. Aku, cinta pertama Zico!" Imbuh Ella. Entah untuk apa ia memberitahukan itu pada Azalea. Rasanya ia ingin menyelamatkan dirinya, dibalik cerita lama. Yang pernah terjadi di antara dirinya dan Zico.


"Benarkah?" Azalea mencondongkan tubuhnya kedepan. Lalu kembali bersandar sambil bergumam seorang diri. "Sebenarnya ada berapa banyak wanita yang pernah dipacari nya!" Tanya Azalea entah pada siapa.


"Jadi kau masih menyukai Zico?" Tanya Azalea kemudian, dengan tatapan tajam menghujam netra Ella.


Ella sempat terdiam beberapa saat. "Tentu saja tidak!" Jawabnya terbata.


"Syukurlah.. Kau hanya akan sakit hati jika menyukai orang seperti Zico!" Ujar Azalea sambil sedikit berbisik.


"Apa maksudmu!" Dengan kening yang sedikit berkerut.


"Kau akan tahu nanti." Sambil mengedipkan sebelah matanya. Azalea bangkit setelah membuat Ella penasaran, dengan apa maksud dari ucapannya itu. Ia berlenggang pergi, dari ruangan Ella.

__ADS_1


"Zico! Kau benar-benar pemain wanita ulung!" Geram Azalea.


>>>>


__ADS_2