My Little Wife

My Little Wife
Bab 157 : Kurang Baik


__ADS_3

Happy reading♡


Lima hari yang lalu, Ashel sudah mencoba gaun akad dan resepsinya. Ukurannya ternyata sudah pas. Sarah dan Anna takjub melihat Ashel dengan gaun gaunnya. Terlihat sangat sangat cantik sekali.


Ashel juga sekalian memilih gaun untuknya pergi ke pesta keluarga Kavin. Ia juga sekalian memilihkan jas untuk Kavin.


Ashel pergi ke butik tanpa sepengetahuan Kavin. Saat ia sedang asik memilih aksesoris untuk kepalanya, tiba tiba Kavin datang kesana. Entah dari mana dia tahu keberadaan Ashel.


Saat itu Ashel langsung dibawa pergi dari sana oleh Kavin. Ia bahkan tidak sempat berpamitan pada Anna dan Sarah karena posisi mereka saat itu berbeda. Anna dan Sarah masih sibuk memilih gaun sedangkan Ashel sedang melihat lihat aksesoris yang tersedia disana.


Kavin langsung membawa pergi ke rumahnya. Ashel hanya diam dan menurut. Karena melihat raut wajah Kavin saat ini, ia pasti sedang menahan amarahnya.


Ashel tahu ia salah karena ia tidak mematuhi Kavin. Namun mau bagaimana lagi. Ia ingin semua persiapan pernikahannya cepat selesai. Jadi setelah ia berada dj Jakarta ia langsung pergi ke butik.


Kavin tidak banyak bicara saat itu, dia hanya bilang jika Ashel akan mendapatkan hukuman karena tidak mendengar ucapan Kavin. Dan kalian tahulah sendiri hukuman seperti apa yang akan Ashel dapatkan dari Kavin.


Lima hari berlalu setelah kejadian itu, Kavin jarang menemuinya. Ia juga jarang berkomunikasi. Apa kesalahan Ashel sefatal itu? Padahal ia hanya pergi mengecek gaun pernikahannya.


Pernah beberapa kali Ashel datang ke kantor milik Kavin, namun ia hanya sebentar menemuinya karena waktu itu Kavin sangat sibuk. Ashel hanya bisa mengerti keadaannya.


Bahkan hari ini pun, Kavin sepertinya tidak akan menjemputnya. Padahal malam ini adalah malam perayaan ulang tahun perusahaan milik keluarga Kavin.


Ashel sudah siap dengan gaun berwarna hijau tua. Ashel mengikat bagian sisi kiri kanan rambutnya kemudian ia mengikatnya ke belakang. Sisanya ia biarkan tergerai bebas. Setelah merasa siap, Ashel pun turun dari kamarnya menuju ke bawah. Sepertinya ayah dan bundanya sudah menunggunya.


"Lihatlah anak ku itu, sangat cantik sekali. Auranya semakin terpancar memakai gaun itu. Aku yakin akan banyak yang meliriknya di pesta nanti," ucap Adi. Ia memperhatikan putri semata wayangnya itu yang sedang menuruni tangga.


"Hush, dia udah mau nikah. Gak boleh suka sama cowok lain mas," ucap Anna.


"Haha, iya sayang iya. Aku hanya bercanda," ucap Adi.


Setelah Ashel menghampirinya, mereka semua langsung berjalan keluar rumah. Begitu juga dengan kakek dan nenek Ashel.

__ADS_1


Saat mereka sampai di depan rumah, mobil milik Ardian sudah terparkir. Orang itu juga sudah bersandar di mobilnya.


"Malam om, tante, semuanya," sapa Ardian.


"Malam Ardian. Kamu mau jemput Riana?" Tanya Adi.


"Iya om. Kavin kayaknya gak dateng jemput juga kan?"


"Enggak. Dia sibuk katanya. Udah ayo," ucap Ashel. Ia pun masuk duluan ke dalam mobil milik Ardian.


Ardian merasa ada yang aneh dengan sikap adik sepupunya itu.


"Dia lagi bete sama calon suaminya. Mereka miss komunikasi beberapa hari ini," ucap Anna menjawab keheranan yang nampak di wajah Ardian.


"Pantesan dari kemarin sensi mulu tuh anak. Yaudah, Ardian berangkat dulu," ucap Ardian. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat acara, Ashel sama sekali tidak berbicara. Bahkan Ardian sudah berusaha mengajaknya berbicara namun Ashel hanya menjawab singkat.


Ardian kadang merasa aneh dengan hubungan Kavin dan Ashel. Mereka kadang terlihat sangat bucin, tapi tak jarang juga mereka akan terlihat seperti sekarang.


Ardian malas mempunyai pacar. Karena menurutnya itu akan menyulitkan hidupnya.


"Kita udah sampe, mau disini aja lo dek?" Tanya Ardian karena sejak tadi Ashel diam saja. Anak itu bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada di lobby hotel.


"Yakali. Ngapain gue pake gaun ribet ini kalo cuma mau di mobil," ucap Ashel. Ia pun keluar dari dalam mobil diikuti oleh Ardian.


Ardian sempat menarik tangan Ashel agar tangannya menggandeng tangan Ardian. Ashel hanya diam dan menurut.


Di dalam hotel, sudah banyak orang. Semuanya dari kalangan atas. Terlihat dari pakaian mereka yang terlihat sangat mahal. Apalagi para wanita yang hadir, mereka seperti berlomba lomba untuk terlihat paling wow.


Ashel melirik ke berbagai arah. Ia mencari keberadaan Kavin. Cukup lama ia mengedarkan pandangannya, tiba tiba matanya menyipit. Apa yang ia lihat ini tidak salah? Kavin sedang mengobrol asik dengan Nadine?

__ADS_1


"Jangan percaya sama apa yang lo liat. Gue yakin mereka cuma sebatas temen ngobrol aja. Kavin bucin mampus sama lo," bisik Ardian saat ia mengikuti arah pandang Ashel.


"Temen ngobrol? Haha, emang gak ada yang lain? Disini bahkan ada banyak orang. Kenapa harus dia?" Tanya Ashel. Ia muak saja melihat Kavin dengan Nadine. Bagaimana pun Nadine menyukai Kavin dan mengingat jika akhir akhir ini hubungan Kavin dan Ashel kurang baik.


"Yaudah terserah lo mau mikir apa. Disini banyak cowok tajir juga, kalo lo mau lo bisa deketin salah satunya," ucap Ardian.


"Bacot bang. Samperin dulu yang punya acara. Gue udah males ada disini," ucap Ashel. Ardian pun mengangguk dan berjalan bergandengan bersama dengan Ashel.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian saat mereka melewati beberapa tamu. Karena kebetulan kakek dan papa Kavin berada di dekat panggung.


Kavin menatap tajam ke arah Ashel. Bukan karena ia marah Ashel berangkat dengan Ardian tapi marah karena gaun yang digunakan oleh Ashel. Bagian bahu terbuka dan bagian kakinya robek cukup tinggi. Apa apaan ini?


Kavin hendak pergi untuk menemui Ashel namun tangannya ditahan oleh Nadine.


"Disini aja Kav gak usah kemana mana. Kan ada aku," ucap Nadine dengan pedenya.


"Lepas," ucap Kavin tajam.


"Aku suka kalo kamu natap aku tajam kayak gitu. Apalagi kalo kamu natap akunya waktu kita cuma berdua," ucap Nadine.


Kavin tidak tahu kemana perginya rasa malu Nadine. Bisa bisanya dia berkata seperti itu. Apa harga dirinya sudah hilang?


Kavin menepis tangan Nadine dan langsung berjalan menuju ke arah Ashel yang sedang berbicara dengan keluarganya.


Kavin langsung menarik tangan Ashel namun Ashel menahannya.


"Kavin, sikap apa ini? Kamu jangan kasar dong sama calon istri kamu," ucap Sarah.


"Karena dia calon istri aku, aku harus bawa dia ma," ucap Kavin.


Ashel tersenyum, "Baru inget udah punya calon istri? Kemarin kemarin kemana aja? Sibuk? Bullshit. Tadi aja kamu asik banget tuh sama temen deket kamu." Ucap Ashel menyindir Kavin.

__ADS_1


Tbc.


vote komen makasih


__ADS_2