My Little Wife

My Little Wife
Bab 166 : Cepatlah Bangun Sayang...


__ADS_3

Happy reading♡


Sudah satu minggu berlalu, Ashel masih belum sadarkan diri. Semua keluarga silih berganti datang menjenguk Ashel. Mereka rela terbang jauh jauh dari Jakarta menuju ke Kalimantan Barat. Karena saat ini Ashel masih di rawat intensif di rumah sakit yang ada disini.


Ardian sudah pulang sejak kemarin. Bagaimana pun ia tidak bisa meninggalkan kewajibannya di Jakarta dan Bandung. Apalagi cafe milik Ashel sudah selesai di bangun hanya tinggal beberapa finishing saja.


Selama Ardian pergi, ia meminta Angel untuk memantaunya dibantu Sergio. Hanya mereka orang yang bisa dipercayai oleh Ardian untuk menjaga cafe milik Ashel.


Sedangkan pekerjaan Kavin, ia berikan semuanya pada Josh. Josh harus rela pulang pergi Jakarta Kalimantan hanya untuk sekedar tanda tangan Kavin.


Kavin tidak mau meninggalkan Ashel sedetik pun. Ia ingin terus berada di samping Ashel sampai anak ini siuman.


Tiga hari yang lalu, Ashel berhasil melewati masa kritisnya. Untuk itu beberapa keluarga boleh menjenguknya ke dalam ruang rawatnya namun tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk.


Setiap hari bahkan setiap malam, Kavin habiskan waktunya di dalam ruangan Ashel. Entah itu untuk melakukan sedikit pekerjaan yang tidak bisa ditangani oleh Josh atau sekedar zoom dengan para petinggi bisnis.


"Cepatlah bangun sayang. Apa kamu tidak bosan terus terusan menutup mata indah mu itu?" Ucap Kavin. Ia memegang tangan kanan Ashel. Disana masih ada bekas cambukan yang Ashel dapatkan beberapa hari yang lalu.


"Aku merindukan tatapan tajam mu itu sayang. Apalagi saat kamu marah, ekspresi yang kamu tunjukan sangat menggemaskan," ucap Kavin.


"Kamu tahu, pernikahan kita diundur lagi padahal semuanya sudah siap. Ternyata takdir tuhan itu sangat misterius sekali. Aki kira kita akan menikah tanpa banyak rintangan seperti ini, tapi ternyata salah."


"Jika saja waktu itu aku tidak meninggalkan mu, mungkin saat ini kita sudah disibukan dengan acara pernikahan. Hanya tinggal satu minggu lagi waktu untuk kita menikah. Andai kamu tidak terluka separah ini," ucap Kavin. Ia memejamkan matanya. Membayangkan bagaimana sakitnya dicambuk sampai seperti ini. Apalagi dengan luka tusuk itu. Ditambah selama berhari hari gadisnya tidak diberi minum apalagi makan.


"Aku berjanji akan membuat hal yang sama pada wanita bajing*n itu sayang. Aku tidak akan membiarkannya bebas begitu saja," ucap Kavin. Ia mencium kening Ashel kemudian kembali duduk.


Lama lama ia mengantuk. Selama ini ia kurang tidur karena terus terjaga. Ia takutnya Ashel tiba tiba bangun dan membutuhkan pertolongan dokter.


Namun ternyata Kavin tidak bisa menahan kantuknya seperti biasanya. Lambat laun ia menutup matanya. Ia tidur dengan keadaan duduk dan kepalanya ia sandarkan ke brankar Ashel. Tangan kanannya terus memegang tangan Ashel yang tidak di infus.


***

__ADS_1


Jari lentik Ashel sedikit sedikit mulai bergerak. Ia berusaha membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan yang serba putih.


Apa mungkin dia sudah meninggal?


Tapi kenapa di alamnya yang baru juga ada lampu?


Ashel memejamkan matanya lagi. Mana mungkin di alam lain ada lampu. Sepertinya otaknya sudah bodoh karena berpikir hal seperti itu.


Ia membuka matanya cukup lebar. Ini ruangan seperti di rumah sakit. Sepertinya ia selamat. Tapi siapa yang menyelamatkannya?


Ia menatap keluar jendela, hari sudah gelap. Sepertinya sudah malam. Berapa lama Ashel tidak sadarkan diri?


Saat ia akan menggerakan tangan kanannya ada sebuah tangan yang memegangnya. Ashel melirik sekilas. Seorang pria. Apa ini Kavin?


Ashel ingin sekali membelai wajah Kavin yang tengah tertidur pulas. Sepertinya Kavin kelelahan karena ia tidur sangat pulas saat ini.


Kondisi Ashel masih sangat lemah. Untuk menggerakan tangannya pun terasa sangat sakit. Lebih baik ia tidur lagi saja supaya kondisinya cepat pulih. Meskipun pastinya membutuhkan waktu.


Selang beberapa jam setelah Ashel terlelap, Kavin pun bangun. Ia melihat sekitarnya sudah gelap. Sebelum beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil, Kavin sempat mencium kening Ashel.


Sepeninggal Kavin masuklah Rafello. Ia rela terbang jauh jauh saat mendengar kabar Ashel. Ia baru tahu jika Ashel menghilang. Sebab saat pesta Rafello sengaja dikirim ayahnya ke cina untuk meninjau perusahaaan cabang milik keluarganya disana. Tidak ada yang memberitahunya jika Ashel diculik.


Rafello tentu saja marah pada keluarganya. Bagaimana bisa ia tidak diberitahu jika calon kakak iparnya ini sedang dalam bahaya. Rafello tahu dari Josh karena hanya dia yang bisa memberitahunya.


Rafello melihat Ashel yang tertidur. Banyak sekali luka di sekitar tangan Ashel.


"Pasti sakit ya Shel? Sorry gue baru jenguk lo. Salahin keluarga gue yang gak ngasih kabar apapun tentang kejadian yang nimpa lo," ucap Rafello.


"Apa untungnya kasih tahu lo," ucap Kavin yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Buju buset, ngagetin lo anjir," ucap Rafello. Ia terlonjak kaget saat mendengar suara yang wujudnya belum terlihat oleh matanya.

__ADS_1


"Ngapain lo kesini? Bukannya lo masih harus di Cina?" Tanya Kavin.


"Idih, sensian amat lo jadi manusia. Ya gue jenguk calon kakak ipar gue lah ngapain lagi. Jenguk lo? Ga dulu," ucap Rafello.


Kavin terdiam tak membalas ucapan adiknya. Ia kembali duduk di sebelah Ashel.


"Lo balik bang. Mamah udah nunggu lo di apart," ucap Rafello.


"Sejak kapan kita punya apart disini?" Tanya Kavin.


"Katanya mama cek out tadi pagi soalnya males kalo kudu tidur di hotel," ucap Rafello.


"Dikira apart dijual onlen," ucap Kavin.


"Udah sono balik bang. Tampilan lo udah kayak duda ditinggal bini padahal nikah aja belom. Biar malem ini gue yang jagain Ashel. Lo istirahat sono, biar lo juga kagak sakit," titah Rafello mengambil buah apel yang ada di sebelah brankar Ashel kemudian duduk di sofa yang ada disana.


"Dia tunangan gue bukan tunangan lo," ucap Kavin.


"Iye bang iye, ngana tahu gak usah di perjelas juga dunia satwa udah tahu. Gue lagi baik nih buat jagain tunangan lo. Lagi pula ini perintah mama. Mama gak mau lo sakit," ucap Rafello.


"Gak. Gue mau tetep disini," ucap Kavin.


"Yaudah kata mama tadi, kalo abang gak mau pulang biar aja nikahannya batal. Belum nikah aja abang gak nurut sama mama apalagi udah nikah, kasian nasib besti gue itu," ucap Rafello sembari menunjuk ke arah Ashel.


"Ye malah diem. Udah sono lo balik bang. Kalo lo ikutan sakit, kita semua yang repot," ucap Rafello.


"Awas lo macem macem sama dia. Nyawa lo yang jadi taruhannya," ancam Kavin ia pun keluar dari kamar Ashel setelah mencium kening dan mengecup sekilas bibir Ashel.


Sempet sempetnya nyosor😭✋️


Rafello hanya mengelus dadanya sabar. Dia adiknya Kavin tapi diperlakukan tiri seperti ini.

__ADS_1



Tbc.


__ADS_2