My Little Wife

My Little Wife
Ep. 150 > Next


__ADS_3

"Bagaimana ceritanya, sampai Mama bisa memaafkanmu?" Akhirnya, pertanyaan itu keluar dari bibir Zico, setelah sempat terdiam cukup lama sepanjang perjalanan pulang.


"Aku datang untuk minta maaf, dan Mama memaafkanku." Jawab Azalea datar. Kini, ia sedang sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang membuat dia begitu fokus tanpa bisa mengalihkan pandangannya.


"Hanya seperti itu?" Zico seakann tak percaya, Mamanya bisa memaafkan Azalea semudah itu.


"Empp.." Imbuh Azalea sambil mengangguk.


"Sepertinya hari ini kau sangat sibuk dengan ponselmu." Ujar Zico sambil melirik ke arah ponsel yang masih menjadi pusat fokus Azalea.


Alih-alih menjawabnya, Azalea hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ocehan Zico tersebut. Dan itu, membuat hati Zico semakin berdegup. Tentu, ia masih sangat gugup dengan tanggapan Azalea tentang kejadian tadi pagi.


Setelahnya, keduanya kembali hening. Zico hanya sesekali menoleh ke arah Azalea yang masih fokus dengan benda pipih di tangannya itu.


"Apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan?" Ujar Zico kemudian.


"Misalnya?" Tanya Azalea bingung.


"Entah! Mungkin kau ingin bertanya atau mengatakan sesuatu padaku." Sarkas Zico dengan sedikit terbata.

__ADS_1


"Tidak...!" Azalea menggeleng.


"Kau yakin?" Tanya Zico lagi.


"Tentu!" Azalea mengubah layar ponselnya ke mode kunci, lalu memasukkannya kedalam tas. Merebahkan sandaran jok, setelah itu memilih tidur. "Aku sangat lelah hari ini." Imbuhnya kemudian, sesaat setelah memejamkan matanya.


Zico menoleh, memandang sesaat wajah Azalea yang memang tampak lelah. Bukan ini yang seharusnya terjadi bukan, setelah melihat suaminya di cium oleh gadis lain hal yang seharusnya dilakukan Azalea adalah 'MARAH'. Namun, Azalea terlihat sangat tenang hingga detik ini. Dan itu membuat Zico semakin gugup.


***


Sesampainya dirumah, pun. Sikap Azalea seakan semakin dingin. Ia tak banyak bicara, cukup berbeda dari sebelumnya. Jika tadi pagi saat ia meminta Zico untuk memasakkan sarapan hingga mereka menikmati sarapan bersama, sikap Azalea masih baik-baik saja.


Azalea yang baru saja siap mandi dan sedang sibuk mengeringkan rambutnya, menghentikan aktivitasnya. Lalu menoleh ke arah Zico yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.


Setelah menatap Zico sesaat, Azalea bangkit dari duduknya setelah meletakkan hairdryer di atas meja rias. Ia berjalan menghampiri Zico, setelah sampai tepat di hadapan Zico, Azalea meraih kedua tangan Zico menuntunnya untuk berdiri. Lalu, Azalea pun melingkarkan dengan lembut tangannya di leher Zico.


Menatap netra Zico yang kini hanya berjarak 20cm dari tatapannya.


"Apa yang kau takuti?" Tanya Azalea, dengan senyuman tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Cemburumu!" Jawab Zico singkat. "Aku takut, jika kau tidak memiliki rasa itu untukku!" Lanjut Zico.


"Akan sangat membosankan jika aku harus cemburu di setiap apa yang kau lakukan." Balas Azalea.


"Tapi aku butuh itu. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau benar-benar menganggap aku milikmu." Imbuh Zico sambil menarik pinggang Azalea untuk lebih dekat. Dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Azalea.


Azalea terkekeh pelan. Mendapati rengekan Zico, membuat dia yang awalnya memang cemburu dan dan sedang menahan emosinya menjadi luluh.


Yap, begitulah Azalea. Seakan tersihir, ia begitu mudah luluh pada sosok lelaki yang seakan sudah menguasai jiwanya. Ia tak pernah bisa marah, walau sangat mengetahui ada banyak wanita yang mengelilingi suaminya itu dengan jutaan godaan.


Tentu ia cemburu, tentu ia emosi dan marah. Namun, tekadnya saat pertama kali memilih untuk kembali bersama Zico adalah, untuk membahagiakan dan menjadi wanita terbaik untuk suaminya itu.


Ia tidak ingin, hal dan masalah sepele akan menggoyahkan hubungan mereka. Dan menghancurkan kebahagiaan yang sudah dengan susah payah mereka perjuangkan.


"Kau akan kewalahan jika aku melakukan itu, Zic." Ujar Azalea, lalu ******* lembut bibir Zico. Itu cara untuk membungkam Zico. Dan cara yang ia pilih untuk menunjukkan. Bahwa ia benar-benar menganggap Zico miliknya seutuhnya.


******* pelan mulai terdengar dari keduanya. Semakin memuncak ketika Zico merebahkan tubuh mungil itu ke atas ranjang yang sudah menunggu sedari tadi.


>>>>

__ADS_1


__ADS_2