My Little Wife

My Little Wife
49. Hampir di culik


__ADS_3

"Kenzo itu keterlaluan memang! Kau jangan diam saja di giniin!"


Vanes mengelus punggung Selena. "Sudah. Jangan marah-marah."


"Aku heran denganmu. Jangan terlalu sabar jika suamimu itu seperti tadi. Kamu itu mau melahirkan." Kata Selena bersulut-sulut.


Vanes memilih diam. Kemudian dia duduk di sebelah Selena. Perutnya terasa nyeri. Di elusnya secara perlahan. Selena yang melihat itu langsung khawatir.


"Vanessa? Kau kenapa?" Tanya Selena khawatir.


"Sedikit nyeri saja." Jawab Vanes.


"Aku antar ke kamarmu ya? Istirahat aja. Aku takut kau kenapa-kenapa."


Selena membantu Vanes untuk berdiri. Membantunya berjalan ke arah kamarnya. Sebetulnya, Selena geram dengan kelakuan Kenzo yang mementingkan pekerjaannya dari pada Vanes yang hamil besar.


***


"Tolong! Selena! Tolong aku!" Teriak Vanes ketika seseorang membawanya masuk ke dalam mobil.


Selena yang sedang memilih sayuran terkejut dengan teriakan Vanes. Saat itu juga, Selena langsung berlari mengejarnya.


"Halo, Jun! Vanessa di culik!"


Selena menelfon suaminya seraya berlari mengejar Vanes yang masih di geret beberapa orang berjas hitam.


'Bagaimana bisa? Sekarang kamu dimana! Katakan?'


"Aku berada di pasar! Ini aku coba mengejar mereka."


"Selena! Terlalu bahaya. Mending kamu coba berteriak minta tolong ya? Aku akan melacak nomormu sama nomor Vanessa.'


"Iya."


Selena mematikan sambungan telefonnya. Kemudian dia berteriak minta tolong. Beruntung, beberapa orang di sana yang mendengar teriakannya berhasil mengejar penjahat yang mencoba menculik Vanes.


Selena segara berlari ke arah Vanes yang terduduk sambil menangis. Dia khawatir dengan kondisi Vanes.


"Vanessa? Ya Tuhan!"


Vanes merintih. "Sa-Sakit.."


"Kita harus ke rumah sakit. Kau bertahan ya. Jangan tutup matamu."


Di bantu dengan beberapa orang, Vanes sudah masuk ke dalam mobil. Selena panik ketika air ketuban Vanes sudah pecah.


"Pak sopir! Tolong lebih cepat!" Kata Selena.


Tangan selena di gunakan untuk menggenggam tangan Vanes. Vanes hanya bisa mengigit bawah bibirnya. Menahan rasa sakit di perutnya. Ya. Dia akan segera melahirkan.

__ADS_1


"Selena! Sa--Sakit..Aku nggak kuat lagi." Rintih Vanes hingga mengeluarkan air mata.


"Kau harus bertahan. Rumah sakit sudah dekat. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan secara perlahan." Tutur Selena yang kelewat panik.


Vanes melakukan apa yang di perintahkan oleh Selena. Namun, perutnya terasa masih sakit.


Akhirnya, mereka berdua sampai di rumah sakit. Vanes langsung di larikan ke ruang UGD. Selena menunggu di depan ruang UGD. Kemudia dia kembali mengabari Juna.


"Halo, Juna?"


'Kenapa? Bagaimana? Kenzo akan segera meluncur ke Indonesia lagi.'


"Vanessa melahirkan."


'Tapi, kalian berdua selamat dari penculikan itu kan?'


Selena memejamkan matanya. "Iya. Vanessa selamat. Aku juga nggak kenapa-kenapa."


'Aku akan segera kesana. Tunggu aku.'


"Iya. Hati-hati."


Sambungan telefon kemudian putus. Selena menyimpan handphonenya di tas. Lubuk hatinya khawatir dengan keadaan Vanes.


Satu jam menunggu, dokter belum juga keluar dari ruang UGD. Juna datang bersamaan dengan Kenzo. Mereka berdua belari.


"Selena! Dokter sudah keluar?" Tanya Kenzo.


"Dimana Ketie?" Tanya Juna.


"Dia di rumah Kenzo sama Ani." Jawab Selena.


"Kenzo." Juna beralih ke Kenzo yang terduduk lemas. "Kau harus sabar. Mari kita berdoa untuk keselamatan mereka."


Kenzo mengangguk. Tak lama setelah itu, tangis suara bayi terdengar. Kenzo berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Juna dan Selena. Kenzo dan Juna langsung berpelukan.


"Kau sudah menjadi Ayah, Ken. Selamat!" Kata Juna sambil memeluk Kenzo.


"Congrats ya, Ken." Ucap Selena.


Dokter keluar dari ruang UGD. Mereka bertiga langsung menghampiri dokter perempuan yang sudah biasa menangani Vanes.


"Bagaimana dokter?" Tanya Kenzo.


Dokter tersebut tersenyum. "Ini memang sebuah keajaiban. Ibu Vanessa melahirkan secara normal. Bayi nya juga sehat. Bayinya laki-laki. Saya permisi dulu."


Seketika itu juga Kenzo langsung sujud syukur. Air mata haru jatuh beriringan dengan senyumnya.


Ketiganya langsung masuk ke dalam ruang UGD. Ada Vanes yang sedang menangis haru. Di sebelahnya ada bayi mungil yang begitu tampan seperti Kenzo.

__ADS_1


"Sayang, Ya Tuhan, anakku!" Kenzo mendekat ke arah keduanya. Memeluknya secara bersamaan.


"Kak..Dia mirip sekali denganmu."


Kenzo menggendong bayi lelaki itu. Mengadzaninya setelah itu menciumnya. Selena dan Juna yang melihatnya ikut bahagia melihat mereka berdua. Tanpa sadar, Juna merangkul bahu Selena. Membuat Selena grogi.


"Kau mau memberi nama siapa, Ken?" Tanya Juna tersenyum.


Kenzo menatap Vanes. Vanes tersenyum sambil mengangguk.


"Aku akan memberi nama, Arga Delano Atranendra. Mereka semua akan mengenalnya sebagai Arga yang perkasa." Jawab Kenzo dengan bangga.


"Nama yang bagus dan keren, Ken." Puji Juna.


"Jadi, kalian kapan akan beri adik buat Arga?" Goda Selena.


Vanes yang masih lemah tertawa pelan. "Arga aja baru lahir masa mau di kasih adik. Sakitnya masih belum hilang nih."


"Kau itu kuat, Van. Tuhan mengabulkan doaku agar bayimu tidak prematur. Dan hasilnya Alhamdulillah kalian berdua selamat dan sehat." Kata Selena.


Kenzo menaruh Arga di samping Vanes. Kemudian Kenzo mengelus puncak kepala Vanes. "Istriku ini adalah perempuan yang kuat. Aku bangga dengan dirinya."


"Ya. Sangat kuat." Tambah Juna.


Kenzo dan Vanes merasa keluarganya lengkap dengan kehadiran bayi laki-laki yang di beri nama Arga ini. Vanes yang bersusah payah melahirkan Arga, berjuang melawan sakitnya terbayar dengan Arga yang lahir dengan sehat.


Kenzo haru sekali melihat Arga. Akhirnya, keinginan untuk memiliki anak terkabul.


***


"Aku mau gendong juga dong, Han. Masa dari tadi kamu terus sih." Nesya ingin merebut Arga.


Vanes, Nesya dan Jihan sedang berada di kamar Arga. Kamar yang lumayan besar untuk seorang bayi mungil ini. Di desain serba biru dengan banyak mainan anak laki-laki.


"Anakku jangan di buat rebutan dong!" Tukas Vanes dari tempat tidurnya yang akan di gunakan oleh Arga jika besar nanti.


"Hehe maaf." Ucap Nesya.


"Ini kalau malam tidur di sini?" Tanya Jihan.


Vanes menggeleng. "Enggak. Arga kalau malam ya tidur sama aku di kamarku sama kak Kenzo. Di kamarku kan jiga ada box bayi."


"Astaga." Kagum Nesya.


"Lah terus disini? Disini juga ada box bayi. Ada kasur berukuran king size juga." Jawab Jihan.


"Ya kan nanti buat Arga pas besar, Han. Gimana sih."


"Aaaa lucu banget sih. Jadi pengen buat astagfirullah." Nesya menciumi Arga yang di gendongan Jihan.

__ADS_1


"Loh, Van? Ini kan belum bulan ke delapan? Kok kamu udah melahirkan?"


__ADS_2